Senin pagi di kantor Marchel berjalan seperti biasanya, sampai Ayu masuk ke ruangan atasannya sembari membawa setumpuk map.
“Pak, ini undangan-undangan yang masuk minggu ini. Yang paling atas dari keluarga Adiwijaya. Acara syukuran ulang tahun ibunya bulan depan.”
Marchel mengambil undangan itu dan membacanya sekilas.
“Konfirmasi hadir saja, Yu. Om Wijaya itu sahabat lama Papa saya.”
“Baik, Pak.” Namun Ayu tidak beranjak. “Pak, soal katering dan dekorasinya, biasanya kita bantu carikan. Bunganya mau dari mana?”
“Dari Toko Bunga Tirai.”
Rahang Ayu mengeras sesaat. Ia berusaha keras agar suaranya terdengar biasa saja.
“Bapak yakin? Untuk acara sebesar itu biasanya kita pakai vendor yang sudah langganan, Pak. Toko kecil belum tentu sanggup.”
Marchel mengangkat wajahnya dari layar laptop.
“Ayu, toko itu sudah tiga kali menangani acara kantor kita dan tidak pernah sekali pun mengecewakan. Kalau kamu punya keberatan yang lain, katakan sekarang.”
Ayu terdiam. Ia tahu, kalau ia melanjutkan satu kalimat lagi, alasannya yang sesungguhnya akan terbaca.
“Tidak ada, Pak. Saya akan hubungi tokonya.”
Ayu keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat. Di mejanya, ia membanting map yang tidak bersalah.
‘Kenapa harus dia lagi? Kenapa selalu dia?’ batin Ayu.
Sebenarnya ada alasan lain yang membuat Ayu begitu terusik, dan alasan itu tidak pernah ia akui bahkan kepada dirinya sendiri.
Setiap kali melihat Mita, ada sesuatu yang berdenyut di dadanya. Bukan sekadar rasa cemburu. Melainkan semacam pengenalan yang samar, seperti mencium aroma masakan yang pernah dimasak seseorang di masa kecil.
Ayu selalu menepis perasaan itu dengan cepat. Menurutnya, ia hanya sedang terlalu banyak pikiran.
Sore harinya, alih-alih menelepon, Ayu memilih datang langsung ke Toko Bunga Tirai. Ia ingin melihat sendiri gadis yang sudah merebut perhatian Marchel darinya.
Mita sedang membungkus rangkaian pesanan ketika bel pintu berbunyi.
“Selamat sore, ada yang bisa saya bantu—” Kalimat Mita terhenti. “Oh, Bu Ayu.”
“Saya ke sini untuk urusan pekerjaan.” Ayu meletakkan sebuah dokumen di atas meja kasir. “Ini rincian acara keluarga Adiwijaya. Pak Marchel yang memilih toko ini. Bukan saya.”
“Terima kasih, Bu. Akan saya kerjakan sebaik mungkin.”
Ayu memandang berkeliling toko itu. Kecil, sederhana, tapi tertata rapi dan wangi. Entah kenapa hal itu justru membuatnya semakin kesal.
“Saya cuma mau mengingatkan satu hal,” ucap Ayu. “Jangan besar kepala hanya karena diberi kesempatan. Orang seperti Pak Marchel itu punya dunia yang jauh berbeda dari orang seperti kamu.”
Mita meletakkan gunting yang dipegangnya. Ia menegakkan punggung, lalu menatap Ayu tanpa berkedip.
“Bu Ayu,” katanya tenang, “saya memang penjual bunga. Tapi saya tidak pernah merasa lebih rendah dari siapa pun. Dan sepanjang yang saya tahu, Pak Marchel belum pernah sekali pun memperlakukan saya seperti yang Bu Ayu bayangkan.”
“Kamu—”
“Soal pesanan ini,” potong Mita sembari mengambil dokumen tadi, “akan saya kerjakan. Bukan karena Bu Ayu yang mengantar. Tapi karena itu pekerjaan saya.”
Ayu sudah memegang gagang pintu ketika langkahnya terhenti sendiri.
Di dinding dekat kasir tergantung sebuah papan kecil berisi bunga kering yang dipigura. Di bawahnya ada tulisan tangan yang sudah agak pudar: *bunga pertama yang terjual, untuk Papa di surga*.
Entah kenapa, dada Ayu terasa sesak melihatnya.
“Papa kamu sudah meninggal?” tanyanya, jauh lebih pelan dari nada bicaranya tadi.
“Sudah lama, Bu,” jawab Mita.
Ayu tidak menjawab apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk sekali, lalu keluar.
Ayu keluar dari toko itu dengan wajah merah padam.
Yang tidak diketahui oleh keduanya, dari dalam mobil yang terparkir di seberang jalan, sepasang mata mengamati seluruh kejadian itu.
Bramantyo menurunkan kaca mobilnya sedikit. Ia baru saja menjemput putrinya yang tidak mengangkat teleponnya sejak siang, dan justru mendapati pemandangan yang membuat dadanya berdesir aneh.
Gadis di dalam toko bunga itu. Cara gadis itu menegakkan punggung ketika bicara.
Bramantyo sudah pernah melihat cara berdiri seperti itu. Dulu sekali. Pada seorang perempuan yang ia yakini sudah tenggelam bersama arus Sungai Cikahuripan.
“Papa? Papa kenapa bengong?” Ayu masuk ke mobil sambil membanting pintu.
“Siapa gadis tadi?” tanya Bramantyo tanpa mengalihkan pandangannya dari toko itu.
“Mita. Kenapa? Papa kenal?”
“Mita ...,” Bramantyo mengulangi. “Mita siapa?”
“Ya mana saya tahu, Pa! Penjual bunga kampung yang sok dekat sama Marchel!” Ayu menyilangkan tangan dengan kesal.
Bramantyo menyalakan mesin mobilnya. Namun sepanjang perjalanan pulang, laki-laki itu terus melirik ke kaca spion, seakan ada sesuatu di belakang sana yang sedang mengejarnya.