Suara Baskara terdengar seperti bebek yang sedang marah, dan ia sudah tidak peduli sejak hari kedua.
Helium melakukan itu pada pita suara — menaikkan nadanya, menipiskannya, mengubah pria dewasa berbobot delapan puluh kilogram menjadi tokoh kartun. Sembilan hari di dalam chamber bertekanan, dan telinga Baskara sudah belajar menerjemahkan kembali setiap kalimat cadel itu menjadi bahasa manusia. Ia berbaring di kasur tipis di kompartemen tidur selebar peti mati, menatap baja cat putih dua jengkal di atas hidungnya, mendengarkan dengung konstan sistem sirkulasi yang tak pernah benar-benar diam.
Di balik sekat, Eko tertawa karena sesuatu, dan tawanya keluar seperti seruling rusak. "Kalau anakku dengar suaraku begini," kata Eko, "dia kira aku ketelan setan."
"Kamu memang ketelan setan," balas Baskara. "Namanya kontrak."
Dia mengangkat diri, menunduk supaya kepalanya tidak membentur langit-langit, dan menyusuri lorong bundar menuju ruang utama chamber. Dunianya selama delapan belas hari adalah tiga tabung baja yang disambung — sebesar gerbong kereta yang dipotong pendek — yang ditekan sampai menyamai kedalaman seratus empat puluh meter di bawah laut, meski seluruh kapal ini mengapung tenang di permukaan Selat Makassar. Mereka tinggal di dasar tanpa pernah basah. Tubuh mereka sudah lama jenuh dengan helium, setiap sel direndam gas inert sampai titik penuh, dan itulah yang membuat mereka tidak bisa pulang dengan mudah. Naik ke permukaan tanpa peringatan sama saja membuka botol soda yang dikocok: gelembung akan mendidih di dalam darah dan sendi mereka, dan mereka akan mati menjerit. Untuk keluar dari sini hidup-hidup, butuh berhari-hari menurunkan tekanan secara perlahan, satu meter setiap beberapa jam, dengan kesabaran yang nyaris menyiksa.
Mereka menyebut diri penyelam jenuh. Saturasi. Yang lain di darat menyebutnya gila.
Bau di dalam chamber adalah bau yang tak bisa dijelaskan pada orang luar — campuran keringat yang tak pernah benar-benar mengering di kelembapan tinggi, plastik hangat, kopi instan, dan sesuatu yang metalik dari gas itu sendiri. Heliox tidak membawa aroma seperti udara biasa. Makanan kehilangan rasa di tekanan ini; keripik melempem dalam hitungan menit; kopi terasa hambar. Tubuh terus mendingin karena helium mencuri panas tujuh kali lebih cepat dari udara, jadi mereka memutar pemanas chamber lebih tinggi dari yang nyaman bagi siapa pun di permukaan.
Calvin duduk di bangku lipat, memegang cangkir teh yang sudah dingin, dan tidak meminumnya. Anak itu dua puluh empat tahun, baru selesai pelatihan, dan ini penyelaman saturasi pertamanya yang benar-benar turun ke dasar. Selama sembilan hari ia ikut dalam chamber tetapi belum sekali pun keluar di lonceng. Hari ini berbeda. Hari ini namanya ada di papan shift.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Baskara.
Calvin mengangguk terlalu cepat. "Sudah. Sedikit."
"Makan yang benar. Di dasar kamu butuh bahan bakar. Dingin di bawah lebih kejam dari yang kamu kira." Baskara menuang air panas ke kantong oatmeal dan mengaduknya. "Dan jangan pegang cangkir yang sudah dingin sambil melamun. Itu cara orang gugup. Kru lain bisa baca itu dari jauh."
Calvin menaruh cangkirnya, lalu menyeka telapak tangannya ke celana. "Kelihatan ya?"
"Kelihatan," kata Eko dari sudut, sambil nyengir.
Baskara melempar tatapan pada Eko yang membuat senyumnya layu, lalu duduk di seberang Calvin. "Dengar. Gugup itu wajar. Aku masih gugup tiap kali pintu lonceng terbuka di dasar, dan aku sudah tujuh tahun di sini. Yang tidak gugup itu yang bikin orang mati. Tapi gugupmu harus jadi tajam, bukan jadi beku. Kamu ikuti aku, kamu pegang umbilical-mu, kamu dengar Tarno di lonceng dan dengar Mardhika di radio. Tiga suara itu nyawa kamu. Selebihnya, jangan banyak pikir."
Di atas mereka, lewat saluran kecil tempat makanan dan peralatan masuk-keluar melalui kunci tekanan, terdengar suara kapal. Geraman generator, langkah-langkah di geladak baja, derit derek. Dunia permukaan terasa jauh seperti negeri lain, padahal hanya terpisah beberapa meter baja dan selisih tekanan yang bisa membunuh dalam sekejap.
Speaker di dinding berderak. Suara Mardhika, supervisor penyelaman, datang jernih meski sedikit terdistorsi karena harus melewati alat yang menormalkan suara helium mereka di arah sebaliknya. "Selamat pagi, chamber. Cuaca tenang, gelombang setengah meter, angin ringan. Jendela kerja kita bagus hari ini. Tugas: inspeksi dan las ulang manifold di template gas barat, kedalaman seratus empat puluh meter. Sambungan flensa nomor tujuh dilaporkan rembes. Tim turun: Baskara penyelam satu, Calvin penyelam dua, Tarno bellman. Peluncuran lonceng dua jam lagi. Sarapan, persiapan, cek peralatan. Ada pertanyaan?"
Baskara menekan tombol bicara. "Tidak ada, supervisor. Calvin turun pertama kali hari ini."
Jeda sebentar. Lalu suara Mardhika melembut sedikit. "Aku tahu. Calvin, kamu dengar aku?"
Calvin mencondong ke arah panel. "Dengar, Pak."
"Hari ini kamu cuma ikut, lihat, pegang lampu. Tidak ada yang mengharap kamu jadi pahlawan. Tugasmu satu: pulang ke lonceng masih bernyawa dan masih bisa cerita ke kami. Itu saja. Bisa?"
"Bisa, Pak."
"Bagus. Baskara akan jaga kamu. Dia paling rewel di kapal ini soal prosedur, dan itu sebabnya semua penyelamnya pulang." Klik. Saluran tertutup.
Eko mendengus. "Paling rewel. Itu medali atau hinaan?"
"Dua-duanya," jawab Baskara, dan untuk pertama kali pagi itu, sudut bibirnya naik tipis.
Ia menghabiskan oatmeal-nya tanpa menikmatinya, lalu mulai ritual yang sudah ratusan kali ia lakukan: memeriksa peralatan selam yang tersimpan di kunci peralatan chamber, meraba sambungan selang, menguji katup, menghafal kembali letak setiap benda dengan jari, karena di dasar nanti tidak akan ada cahaya untuk melihat apa pun. Sentuhan adalah satu-satunya mata yang bisa diandalkan di seratus empat puluh meter. Ia mengajari tangannya untuk mengingat bentuk dunia sebelum dunia itu menjadi gelap.
Calvin mengamatinya, meniru gerakannya, salah, diperbaiki, mengulang. Baskara tidak banyak bicara, tetapi membiarkan anak itu belajar dari ritme. Di luar, laut tenang. Di dalam tubuh mereka, helium menunggu sabar, menjenuhkan setiap sel, mengikat mereka pada kedalaman yang belum mereka kunjungi.
Dua jam. Lalu pintu lonceng akan terbuka, dan mereka akan turun ke tempat yang gelap.