Lonceng penyelam itu sebesar lemari pakaian yang berdiri, dan ke dalamnya tiga orang dewasa harus muat bersama tangki, selang, dan peralatan.
Baskara masuk pertama, menunduk dan memutar tubuh dengan gerakan yang sudah jadi naluri. Ia menempati bangku sempit di sisi kiri. Tarno, sang bellman, masuk berikutnya — pria berumur lima puluhan dengan tangan setebal kayu dan ketenangan orang yang sudah ribuan kali melakukan ini — dan menempati posisinya di dekat panel kontrol kecil lonceng. Calvin terakhir, dan untuk sesaat anak itu berdiri kaku di ambang, menatap ruang sempit yang akan membawanya turun, sebelum Tarno menarik lengannya tanpa banyak bicara.
"Duduk sini. Kaki masuk. Jangan sandar ke katup itu." Tarno menepuk panel. "Yang ini hidupmu, jangan disenggol."
Lonceng terhubung ke chamber lewat kunci tekanan, sehingga mereka berpindah dari satu ruang bertekanan ke ruang bertekanan lain tanpa pernah merasakan perubahan — tubuh mereka tetap di seratus empat puluh meter sepanjang waktu. Pintu di bawah lonceng masih tertutup rapat, menahan air keluar, menahan tekanan di dalam. Begitu lonceng tiba di kedalaman yang sama dengan tekanan tubuh mereka, pintu itu bisa dibuka dan laut tidak akan menyerbu masuk, karena tekanan di dalam dan di luar sudah seimbang. Itulah keajaiban dingin dari fisika yang menjaga mereka hidup, dan yang sama dinginnya bisa membunuh kalau angkanya meleset.
Speaker kecil berderak. "Lonceng, ini permukaan. Cek komunikasi." Suara Mardhika.
"Terdengar jernih, supervisor," jawab Baskara, suara heliumnya melengking, lalu dinormalkan oleh alat di permukaan menjadi suara manusia di telinga Mardhika.
"Cek penunjang hidup. Yohana?"
Suara perempuan menyusul, tenang dan datar seperti pembaca jadwal kereta. "Penunjang hidup siap. Gas pernapasan nominal, pemanas air sembilan belas derajat di umbilical, aliran stabil. Pembersih karbon dioksida lonceng aktif. Semua hijau."
Yohana adalah teknisi penunjang hidup. Ia duduk di ruang kontrol di geladak, menatap dinding penuh pengukur dan keran, dan dari sanalah ia mengatur setiap napas yang masuk ke paru-paru ketiga orang di lonceng. Gas yang mereka hirup, panas air yang mengalir di pakaian mereka untuk melawan dingin, pembuangan karbon dioksida — semuanya angka di layarnya, dan setiap angka adalah nyawa.
"Bagus," kata Mardhika. "Lepaskan kunci. Kita luncurkan."
Terdengar dentang logam, lalu sensasi aneh saat lonceng terangkat sedikit, lepas dari chamber, lalu diayun keluar lewat lubang di lambung kapal — moon pool, kolam bulan, lubang di tengah geladak tempat lonceng diturunkan ke laut. Cahaya redup dari permukaan menyusup lewat jendela kecil lonceng saat mereka menyentuh air, lalu mulai tenggelam.
Dan turun.
Baskara menatap jendela. Sepuluh meter, dan air masih kehijauan, masih ada terang. Dua puluh meter, dan hijau berubah biru tua. Tiga puluh, dan biru mulai pekat. Ia melirik Calvin. Anak itu menempelkan dahinya ke jendela, mata terbuka lebar, menyaksikan cahaya dunia ditelan air meter demi meter.
"Pertama kali turun sejauh ini?" tanya Baskara.
Calvin mengangguk tanpa memalingkan wajah. "Di pelatihan cuma sampai tiga puluh meter. Air kolam. Ini—" Ia menelan ludah. "Ini lain."
"Ini lain," Baskara mengulang. "Perhatikan warnanya hilang. Merah hilang duluan, lalu jingga, lalu kuning. Di bawah nanti, kalau kamu luka dan berdarah, darahmu kelihatan hijau gelap, bukan merah. Cahaya tidak sampai. Ingat itu, supaya kamu tidak kaget."
Calvin menoleh. "Kenapa Anda kasih tahu yang begitu?"
"Karena yang membunuh orang baru bukan bahayanya. Yang membunuh adalah kaget. Kalau kamu sudah tahu apa yang akan kamu lihat, kamu tidak panik. Panik membakar gas dua kali lipat, dan gas itu mahal dibayar nyawa."
Tarno mendengus pelan di sudutnya, mengangguk setuju, tangannya tak pernah lepas dari panel.
Lima puluh meter. Enam puluh. Suhu di dalam lonceng turun perlahan meski mereka tertutup. Calvin menggigil tipis, dan Baskara melihatnya.
"Air pemanas akan jalan begitu kita keluar," katanya. "Selang umbilical-mu membawa air panas yang dipompa Yohana dari atas. Mengalir di seluruh pakaianmu, menjaga kamu tetap hangat di air yang dinginnya hampir nol. Tapi dengar baik-baik: kalau air panas itu berhenti — kalau kamu rasa dingin tiba-tiba menusuk — kamu langsung lapor. Jangan tunggu. Hipotermia di kedalaman datang diam-diam dan membunuh tanpa suara."
"Berhenti kenapa?"
"Selang tersangkut. Pompa mati. Banyak sebab. Tugasmu bukan tahu sebabnya. Tugasmu lapor cepat."
Delapan puluh meter. Jendela sekarang hitam pekat, dan satu-satunya cahaya adalah lampu kecil di dalam lonceng yang memantul di wajah pucat mereka. Suara napas mereka mengisi ruang, melengking aneh karena helium, berirama dengan desis halus gas yang masuk-keluar.
"Lonceng, ini permukaan. Kalian di seratus sepuluh meter, turun stabil. Tekanan luar naik. Bagaimana telinga, Calvin?" Mardhika.
Calvin menelan dan menguap untuk menyamakan tekanan di telinganya. "Aman, Pak. Sedikit penuh."
"Kunyah, telan, jangan dipaksa. Kalau sakit, bilang, kita pelankan."
Seratus dua puluh. Seratus tiga puluh. Lalu, lewat jendela, Baskara melihat sesuatu yang tak pernah gagal membuat dadanya menegang meski sudah ratusan kali — bayangan samar struktur baja muncul dari kegelapan di bawah, ditangkap lampu sorot luar lonceng. Garis-garis pipa, sudut-sudut manifold, lumpur dasar yang mengepul tipis. Dunia di seratus empat puluh meter, tempat tidak ada matahari, tidak ada hari, tidak ada apa pun selain dingin, tekanan, dan pekerjaan yang menunggu.
Lonceng berhenti, mengayun pelan beberapa meter di atas dasar.
"Lonceng di kedalaman kerja," lapor Tarno. "Seimbangkan tekanan."
Desis panjang saat tekanan di dalam lonceng disamakan dengan laut di luar. Lalu Tarno meraih pegangan pintu bawah.
"Baskara siap?"
Baskara sudah memasang helmnya, memutar penguncinya, mendengar napasnya sendiri kini terdengar di dalam tempurung baja itu. Ia mengangkat ibu jari. Calvin menatapnya, lalu pada pintu di lantai, lalu pada kegelapan di baliknya.
"Buka," kata Baskara, suaranya datar dan tenang. "Kita kerja."