Air masuk ke kaki Baskara saat ia menurunkan diri lewat lubang lonceng, dan dingin itu menggigit seketika walau air panas sudah mengalir di pakaiannya.
Ia melepaskan diri ke dalam laut, dan dunia menjadi hitam total. Lampu helmnya menyala — kerucut cahaya kuning pucat yang hanya menjangkau dua, tiga meter sebelum ditelan kegelapan dan partikel lumpur yang melayang. Di luar kerucut itu tidak ada apa-apa. Tidak ada atas, tidak ada bawah, hanya rasa berat tekanan di seluruh tubuh dan suara napasnya sendiri yang melengking di dalam helm.
"Permukaan, Baskara keluar lonceng, di dasar," lapornya. "Visibilitas dua meter. Lumpur tebal."
"Diterima," kata Mardhika. "Umbilical-mu kuberi tiga puluh meter. Tarno awasi. Calvin tahan dulu di pintu."
Baskara merasakan selang umbilical-nya — tali nyawa yang membawa gas pernapasan, air panas, kabel komunikasi, dan kabel lampu, semua dijalin jadi satu seukuran lengan anak kecil — terulur dari belakangnya menuju lonceng. Ia menariknya pelan, merasakannya, mengikuti nalurinya. Selama tujuh tahun ia belajar bahwa umbilical adalah jangkar dan kompas. Selama kau bisa merasakannya, kau tahu jalan pulang. Lepaskan, dan kau hilang di gelap yang tak punya arah.
Ia melangkah di lumpur dasar. Setiap langkah membenamkan kakinya sampai pergelangan dan mengangkat awan keruh yang langsung memantulkan cahaya lampunya kembali ke matanya, membutakan. Ia belajar bergerak perlahan, menggeser kaki, tidak mengaduk. Di kedalaman ini, kesabaran bukan kebajikan; ia keterampilan bertahan hidup.
Struktur manifold muncul dari gelap — kerangka baja besar yang menambatkan pipa-pipa gas dari sumur di bawah dasar ke jaringan yang membawa gas ke fasilitas jauh di permukaan. Karat oranye dan kerang menempel di mana-mana. Baskara meraba flensa, sambungan tebal antara dua pipa yang dibaut melingkar, dan jari-jarinya menemukan apa yang ia cari: rembesan tipis di sela sambungan nomor tujuh, gelembung-gelembung kecil yang naik dan menghilang dalam gelap.
"Permukaan, ketemu rembesan di flensa tujuh. Kecil, stabil. Aku siapkan las basah."
"Diterima. Calvin, turun temani. Pegang lampu untuk Baskara."
Baskara mendengar Calvin masuk air, napas anak itu cepat di saluran radio bersama. "Tenang, Calvin," katanya tanpa menoleh. "Ikuti umbilical-ku. Pelan. Jangan aduk lumpur."
Calvin tiba di sampingnya, lampu helmnya menambah satu kerucut cahaya. Untuk pertama kali Baskara bisa melihat manifold sedikit lebih luas — dan untuk pertama kali ia merasakan sesuatu yang ganjil. Bukan pada rembesan. Pada getaran. Halus, nyaris tak terasa, sebuah denyut samar di baja yang ia sentuh, seperti detak di urat nadi raksasa.
Ia menempelkan telapak tangan ke pipa utama dan menahannya di sana.
"Calvin. Pegang pipa ini. Apa yang kamu rasa?"
Calvin menempelkan tangannya. "Getar. Pelan."
"Itu gas mengalir. Itu wajar. Tapi—" Baskara berhenti. Dalam tujuh tahun, ia belajar membaca pipa dengan tangannya seperti dokter membaca nadi. Getaran ini tidak halus dan tenang seperti aliran normal. Ada ketukan di dalamnya, irama tak rata, seperti sesuatu di hulu yang mendorong terlalu keras lalu mengendur, mendorong lalu mengendur.
"Permukaan," katanya, hati-hati memilih kata, "pipa ini ada denyut. Tidak rata. Bisa minta pembacaan tekanan reservoir dari ruang kontrol ladang?"
Jeda. Lalu suara Mardhika, sedikit lebih datar. "Aku tanya. Tunggu."
Baskara menunggu. Calvin menatapnya lewat kaca helm, wajahnya pucat dalam cahaya. "Ada apa, Pak?"
"Mungkin tidak ada apa-apa. Mungkin cuma pompa di hulu yang tersendat. Tapi kita tidak mengelas pipa yang tekanannya naik-turun tanpa tahu kenapa. Las basah artinya aku menyalakan busur listrik di samping baja yang isinya gas bertekanan. Aku mau tahu angka di balik baja ini sebelum aku menyentuhnya dengan api."
Las basah — mengelas di bawah air dengan elektroda khusus yang menyala dalam gelembung uapnya sendiri — adalah keterampilan yang membuat Baskara dibayar mahal. Tapi ia tahu persis bahayanya. Panas, listrik, gas mudah terbakar, dan ruang sempit. Ketiganya pemaaf bila kau menghormatinya, dan tak kenal ampun bila kau lengah.
Radio berderak. "Baskara, permukaan. Ruang kontrol ladang bilang tekanan reservoir nominal. Dalam batas aman. Mereka pegang angkanya di layar, katanya stabil di kisaran normal."
Baskara menempelkan tangannya lagi ke pipa. Denyut tak rata itu masih ada. Ia merasakannya sejelas ia merasakan napasnya sendiri.
"Mardhika," katanya, kali ini memakai nama, bukan jabatan, "angka mereka bilang stabil. Tanganku bilang lain. Pipa ini berdenyut, dan denyut itu tidak seharusnya ada di aliran stabil."
Keheningan di radio terasa lebih lama dari semestinya. Baskara membayangkan Mardhika di ruang kontrol, menatap layar, terjepit antara penyelam yang ia percaya dan data yang katanya benar.
"Diterima, Baskara," akhirnya Mardhika menjawab. "Aku catat keberatanmu. Berhenti dulu. Jangan nyalakan apa pun. Aku mau bicara dengan ladang lagi. Pegang posisi."
"Pegang posisi," Baskara mengulang.
Ia menarik Calvin sedikit menjauh dari flensa, ke sisi struktur yang lebih kokoh. "Tahan di sini. Tangan di rangka. Jangan dekat sambungan tujuh."
"Kenapa, Pak?"
Baskara menatap kegelapan tempat manifold lenyap ke dalam gelap, denyut tak rata masih bergema di telapaknya seperti firasat yang belum punya nama.
"Karena perasaanku tidak enak," katanya pelan, "dan dalam tujuh tahun, perasaanku jarang salah soal baja."