Di permukaan, di ruang kontrol penyelaman yang sesak oleh layar dan dengung mesin, Mardhika menahan gagang telepon ke telinganya dengan rahang mengeras.
Baskara tidak bisa melihatnya, tetapi ia bisa membayangkannya dari jeda-jeda di radio. Ia berdiri tak bergerak di dasar laut, tangan di rangka baja, Calvin di sisinya, sementara di atas sana sebuah perdebatan berlangsung yang akan menentukan apakah mereka pulang atau tidak.
"Baskara," suara Mardhika kembali. "Aku barusan bicara dengan koordinator ladang. Mereka tetap pada angka mereka. Tekanan reservoir dalam batas. Mereka bilang denyut yang kamu rasa kemungkinan dari kompresor pengangkat di sumur sebelah yang siklus hidup-matinya tidak sinkron. Wajar, katanya."
"Wajar menurut layar mereka," balas Baskara. "Aku tidak pegang layar. Aku pegang pipanya."
"Aku tahu." Suara Mardhika lelah. "Dan aku percaya tanganmu lebih dari aku percaya orang yang belum pernah turun seumur hidupnya. Tapi dengar masalahku. Operator ladang sudah dua hari mengejar kita soal jadwal. Flensa ini rembes, dan setiap jam rembesan dibiarkan, mereka kehilangan produksi dan kita kehilangan kontrak. Mereka menekanku untuk menyelesaikan hari ini selagi jendela cuaca bagus. Besok badai dari tenggara mungkin masuk. Kalau kita batalkan sekarang dan ternyata tidak ada apa-apa, kita kehilangan jendela kerja terbaik minggu ini, dan aku yang harus menjelaskan ke perusahaan kenapa."
Baskara memejamkan mata di dalam helmnya. Ia tahu Mardhika tidak sedang menyalahkannya. Mardhika sedang membuka isi kepalanya supaya Baskara mengerti beratnya.
"Mardhika. Aku tidak peduli kontrak. Aku peduli aku menyalakan busur listrik tiga ribu derajat di samping pipa yang mungkin tekanannya naik-turun. Kalau aku salah dan denyut ini cuma kompresor sebelah, kita rugi waktu. Kalau kamu salah dan tekanan itu naik saat aku mengelas — ada api, ada gas, ada aku dan Calvin dua meter dari sana."
Di sebelahnya, Calvin tidak bersuara, tetapi Baskara mendengar napasnya menjadi lebih cepat di saluran bersama. Anak itu mendengar setiap kata.
"Calvin," kata Baskara pelan, di luar perdebatan dengan permukaan, "tarik napas panjang. Tahan tiga hitungan. Lepas pelan. Ulang. Kamu membakar gas terlalu cepat."
"Maaf, Pak." Suara Calvin gemetar tipis. "Aku cuma— kalau meledak—"
"Kalau aku kira akan meledak, kita sudah naik ke lonceng dari tadi. Aku tidak bilang akan meledak. Aku bilang aku mau tahu sebelum aku nyalakan api. Itu beda. Itu namanya hati-hati, bukan takut. Tarik napas."
Calvin menarik napas. Tahan. Lepas. Suaranya melambat sedikit.
Di radio, Mardhika kembali, dan kali ini ada keputusan dalam suaranya. "Baskara, ini yang aku tawarkan. Kita tidak batalkan, tapi kita tidak buru-buru. Kamu pasang penjepit mekanis dulu di flensa untuk menahan rembesan sementara — tanpa api. Sambil itu, aku minta ladang turunkan tekanan jalur ini, isolasi dari kompresor sebelah, dan kasih aku pembacaan sungguhan, bukan asumsi. Kalau angkanya turun dan denyut hilang dari tanganmu, baru kita las. Kalau tidak, kita naik dan tunda. Bagaimana?"
Baskara menimbang. Memasang penjepit mekanis — semacam klem baja yang dibaut menahan kebocoran secara fisik — adalah pekerjaan tanpa api. Aman. Dan permintaan mengisolasi jalur serta menurunkan tekanan adalah tepat apa yang ia mau. Itu jalan tengah yang waras.
"Diterima," katanya. "Aku pasang klem dulu. Minta ladang isolasi jalur dan kasih aku angka yang benar, dari sensor di pipa ini, bukan dari hitungan model mereka. Sampai aku rasa denyut hilang dan kamu kasih aku angka turun, tidak ada api. Setuju?"
"Setuju. Aku catat di log: pengelasan ditunda sampai tekanan terkonfirmasi turun. Tanggung jawab di aku." Jeda. "Terima kasih sudah keras kepala, Bas. Itu sebabnya aku minta kamu yang turun."
Baskara mulai bekerja. Ia meminta Calvin memegang lampu pada flensa, dan dengan jari-jari yang sudah hafal gelap, ia memasang klem baja melingkari sambungan tujuh, memutar baut satu per satu dengan kunci hidrolik, merasakan ulir mengencang. Kerja yang lambat dan teliti. Rembesan gelembung kecil itu berkurang seiring klem mengencang. Untuk sesaat, ketegangan di dadanya mengendur. Inilah pekerjaan yang ia cintai: tangan, baja, masalah yang bisa diselesaikan dengan kesabaran.
"Klem terpasang. Rembesan turun banyak," lapornya. "Ladang sudah kasih angka?"
Jeda di radio, lebih lama. Lalu Mardhika, dan ada keraguan baru dalam suaranya yang membuat tengkuk Baskara meremang. "Baskara. Ladang bilang... mereka sedang isolasi jalurnya. Tapi ada kebingungan. Sensor tekanan di sumur dua menunjukkan angka yang... mereka bilang sensornya mungkin rusak. Pembacaan melompat-lompat. Mereka sedang cek ulang."
Baskara berhenti memutar baut.
"Melompat-lompat," ulangnya. Telapak tangannya kembali ke pipa. Denyut itu masih ada. Dan — ia menahan napas — apa denyut itu lebih cepat sekarang? Lebih keras?
"Mardhika," katanya, suaranya mendadak datar dan tajam, "suruh mereka isolasi jalur ini SEKARANG. Jangan cek ulang. Isolasi. Aku rasa tekanannya naik di tanganku."
"Diterima, aku sampaikan—"
Dan saat itulah pipa di bawah telapak tangan Baskara berhenti berdenyut sama sekali.
Diam total. Mati. Dan dalam tujuh tahun di kedalaman, Baskara tahu bahwa diam yang tiba-tiba di tengah aliran bertekanan bukan tanda aman. Itu tanda sesuatu di hulu baru saja menutup, atau pecah, dan apa pun yang tertahan kini mencari jalan keluar.
"Calvin," katanya, suaranya menajam jadi perintah, "lepas flensa. Mundur. Ke rangka utama. SEKARANG—"