Tidak ada suara dulu. Ada tekanan.
Dinding air menampar Baskara dari samping sebelum telinganya sempat mendaftarkan ledakannya — sebuah pukulan tak kasat mata yang melemparkan tubuhnya ke samping seperti boneka kain, memutarnya, membenturkannya ke rangka baja manifold. Helmnya berdentang keras di telinganya. Lalu suara datang, terlambat, sebuah gemuruh tumpul-basah yang ia rasakan di tulang dada lebih daripada ia dengar, suara baja yang dipaksa robek di kedalaman.
Lumpur meledak ke atas. Dalam sekejap, kerucut cahaya lampunya menabrak dinding partikel cokelat-hitam dan mati di situ. Visibilitas yang tadi dua meter menjadi nol. Tak ada atas, tak ada bawah, hanya pusaran keruh dan arus yang menyeret-nyeret tubuhnya.
"BASKARA! CALVIN! PERMUKAAN, APA YANG TERJADI—" Suara Mardhika meledak di telinganya, panik untuk pertama kali sepanjang yang Baskara ingat.
Baskara mencengkeram rangka baja dengan kedua tangan, jari-jarinya mengunci pada batang yang ia rasakan tapi tak bisa lihat. Tubuhnya terayun keras oleh arus susulan. Napasnya melengking cepat di dalam helm. Tahan. Cengkeram. Jangan terlepas.
"Permukaan—" ia tersengal, memaksa suaranya keluar, "—ada ledakan. Manifold. Pegang posisi—" Sebuah benda berat melayang lewat dalam gelap dan menghantam bahunya, memutar tubuhnya setengah lingkaran. Pelat baja, atau pipa lepas. "—reruntuhan. Banyak. Aku tidak bisa lihat apa-apa."
"CALVIN!" teriaknya, beralih ke saluran bersama. "Calvin, jawab! Pegang sesuatu!"
Tak ada jawaban. Hanya desis gas dan gemuruh yang mereda perlahan menjadi geriut baja yang menegang.
Lalu suara Calvin, jauh, pecah, panik. "PAK! Pak, aku— ada yang narik aku! Umbilical-ku— ketarik—" Suaranya melengking, lalu tersedak, lalu hilang dalam derak statis.
Baskara menahan diri untuk tidak melepas pegangan dan langsung mengejar. Setiap nalurinya menjerit untuk bergerak, tapi tujuh tahun mengajarinya satu hal yang lebih keras dari naluri: bergerak buta di tengah reruntuhan yang sedang runtuh adalah cara cepat menjadi mayat kedua. Pertama-tama, baca dunia. Lalu bergerak.
Ia menarik umbilical-nya sendiri. Tegang. Masih tersambung ke arah lonceng, tapi ada hambatan, seperti tersangkut di sesuatu di tengah jalan. Ia menariknya lagi, merasakan getaran tahanan menjalar di tangannya. Tidak putus. Belum putus. Itu kabar baik. Itu masih jalan pulangnya.
"Tarno!" panggilnya. "Tarno, lonceng, kamu dengar?"
Suara Tarno datang tercekik, tegang oleh nyeri. "Dengar—" Erangan. "Lonceng kena. Ada yang jatuh menimpa. Aku— lenganku—" Napas tajam. "Lonceng bergeser, Bas. Sesuatu mengganjal di luar."
Gabungan informasi mendarat di kepala Baskara dingin dan jelas, satu demi satu, cara ia selalu memproses bahaya: tubuhnya menyaring panik dan menyisakan fakta. Ledakan di flensa. Struktur runtuh. Calvin tertarik entah ke mana, umbilical-nya tegang. Tarno terluka di lonceng. Lonceng tergeser oleh sesuatu yang jatuh menimpanya. Dan ia sendiri masih mencengkeram rangka di tengah lumpur buta.
Lumpur mulai mengendap. Sangat lambat. Kerucut cahaya lampunya kembali, satu meter, lalu satu setengah. Bentuk-bentuk muncul samar dari gelap — dan apa yang ia lihat membuat dadanya membeku lebih dari air mana pun.
Manifold tidak lagi berdiri seperti semula. Setengah rangkanya miring, melengkung, baja yang tadi tegak kini bengkok dan saling tumpang tindih. Pipa-pipa terlepas dari dudukannya. Dan ke arah lonceng — ia memutar kepala, memburu dengan cahaya — sebuah balok rangka raksasa, sepanjang mobil, kini menggantung miring tempat tadi ia tegak.
"Permukaan," Baskara berkata, memaksa suaranya kembali pada nada datar yang ia gunakan dalam krisis, nada yang menenangkan dirinya sendiri sebanyak menenangkan orang lain, "ledakan di flensa tujuh. Struktur manifold runtuh sebagian. Aku utuh, sadar, masih bernapas, umbilical tersambung tapi tersangkut. Calvin terpisah, umbilical tegang ke arah selatan struktur, dia menjawab tadi tapi panik. Tarno terluka di lonceng, lengannya. Lonceng tergeser oleh reruntuhan. Aku belum tahu seberapa parah lonceng."
Jeda sepersekian detik di permukaan, lalu Mardhika, suaranya direngkuh kembali ke ketenangan yang dipaksakan, profesional sampai ke tulang. "Diterima, Baskara. Pelan-pelan. Kamu utuh, itu yang penting. Jangan bergerak sembarangan. Yohana cek aliran umbilical Calvin — masih ada aliran gas ke dia?"
Suara Yohana, tegang tapi terkendali. "Aliran ke Calvin... masih ada. Tapi turun. Ada hambatan di jalurnya. Konsumsi gasnya tinggi sekali — dia bernapas cepat. Panik."
Baskara menutup matanya satu detik. Panik membakar gas dua kali lipat. Ia sudah memperingatkan anak itu pagi tadi, di chamber, dengan teh dingin di tangan Calvin. Sekarang peringatan itu jadi nyawa yang menetes.
"Aku cari dia," kata Baskara. "Umbilical-ku masih nyambung ke lonceng. Aku susuri umbilical Calvin dari titik percabangan. Yohana, jaga aliran gasnya hidup, apa pun caranya. Tarno, kamu bisa bertahan?"
"Bisa," Tarno menggeram. "Cari anak itu."
Baskara melepas cengkeramannya dari rangka — pelan, terukur — dan menempatkan tangannya pada umbilical-nya sendiri sebagai panduan. Lalu ia mulai bergerak ke arah selatan, ke kegelapan tempat suara Calvin lenyap, menyeret kaki di lumpur, melawan dingin yang kini terasa lebih dekat, melawan setiap nalurinya untuk bergerak cepat.
Di dasar seratus empat puluh meter, dalam gelap yang tak punya ampun, ia menghitung dalam kepalanya: gas, panas, waktu. Tiga angka yang semua mengarah ke satu kebenaran kejam. Apa pun yang terjadi sekarang, tak satu pun dari mereka bisa naik. Belum. Tidak tanpa mati.
Jalan keluar satu-satunya adalah bertahan cukup lama untuk diselamatkan dengan benar. Dan jam baru saja mulai berdetak.