Baskara menemukan percabangan umbilical Calvin dengan tangan sebelum matanya.
Di titik dekat lonceng, selang anak itu bercabang dari jalur utama, lalu terulur ke selatan, tegang seperti tali busur. Baskara menggenggamnya. Ia bisa merasakan getaran di dalamnya — gerakan kecil, sentakan, tanda bahwa di ujung sana Calvin masih hidup dan masih bergerak. Itu sekaligus melegakan dan mengkhawatirkan. Hidup berarti bernapas. Bernapas berarti memakai gas yang semakin sedikit.
Tapi sebelum mengejar Calvin, Baskara memaksa dirinya berbalik dulu menghadap lonceng. Ia harus tahu seberapa buruk jalan pulang mereka. Tanpa lonceng, tak ada satu pun dari mereka yang akan pulang, secepat atau selambat apa pun.
Lumpur sudah cukup mengendap untuk memberinya pandangan dua meter. Ia mengarahkan lampu ke lonceng, dan apa yang ia lihat membuat perutnya mengeras.
Balok rangka yang tadi menggantung kini telah jatuh penuh. Ia menindih sisi atas lonceng, miring, baja menekan baja, dan menjepit lonceng pada dudukan struktur di bawahnya. Lonceng tidak hancur — tempurungnya tebal, dirancang menahan tekanan laut — tetapi ia terkurung, terganjal di antara balok yang jatuh dan rangka di bawahnya, seperti telur yang terjepit di antara dua batu.
Dan di sisi lonceng, tempat umbilical utama yang mensuplai lonceng dari permukaan masuk, Baskara melihat hal terburuk: selang induk itu — pembawa gas, panas, dan komunikasi cadangan untuk lonceng — terjepit di bawah balok, sebagiannya terkoyak. Bukan putus total, belum, tapi pipih, tertekan, dan dari sela terjepit itu naik gelembung-gelembung — gas bocor.
"Permukaan," Baskara berkata, dan ia mendengar suaranya sendiri tetap rata meski jantungnya bergemuruh. "Lonceng terjepit. Balok rangka jatuh menindih sisi atasnya, mengganjalnya ke dudukan. Lonceng tampak utuh, tidak pecah. Tapi umbilical induk lonceng terjepit di bawah balok, sebagian terkoyak, bocor gas. Tarno, kamu masih dapat gas?"
"Masih," suara Tarno datang lemah. "Tapi tekanan turun. Lampu di panel berkedip. Lenganku— kayaknya patah, Bas. Aku tidak bisa banyak gerak."
Di permukaan, Yohana sudah bicara cepat dengan Mardhika, lalu suaranya masuk ke radio. "Aku konfirmasi dari sini. Aliran ke lonceng turun, ada kebocoran besar di jalur induk. Aku tutup katup-katup tertentu untuk batasi kehilangan. Tapi dengar baik, kalian semua—" Ia berhenti sebentar, dan Baskara mendengar dia menarik napas, mengumpulkan diri. "Cadangan gas darurat lonceng masih utuh. Tabung-tabung di luar lonceng yang dipasang untuk justru keadaan begini. Tapi itu jumlahnya terbatas. Aku sedang hitung berapa lama bisa bertahan untuk tiga orang."
Baskara menutup matanya sejenak. Ia tahu apa artinya kata 'tiga orang'. Yohana sudah menghitung dirinya, Tarno, dan Calvin. Mereka semua terjebak di dasar yang sama sekarang.
Ia memaksa pikirannya kembali ke fakta keras yang tak bisa ditawar, kebenaran yang membentuk seluruh profesinya. Tubuh mereka jenuh helium pada tekanan seratus empat puluh meter. Untuk naik ke permukaan dengan selamat, mereka butuh berhari-hari — empat, lima, mungkin enam hari — dekompresi perlahan di dalam chamber, menurunkan tekanan setapak demi setapak agar gas dalam darah keluar lembut tanpa membentuk gelembung. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada keadaan darurat yang bisa membatalkan fisika. Kalau mereka menarik lonceng ini ke permukaan sekarang dan membuka pintunya, ketiganya akan mati dalam hitungan menit, tubuh mereka mendidih dari dalam.
Jadi inilah perangkapnya, dan Baskara merasakannya menutup di sekelilingnya seperti dinginnya air: satu-satunya jalan pulang adalah bertahan cukup lama di dasar yang membunuh ini agar penyelamatan yang benar — yang lambat, yang sabar, yang sesuai fisika — bisa dijalankan. Mereka tidak bisa kabur ke atas. Mereka harus menang melawan waktu di bawah.
"Mardhika," katanya pelan. "Aku mau angka. Berapa lama gas darurat untuk tiga orang. Dan berapa lama untuk membebaskan lonceng dari balok itu. Aku tidak mau perkiraan ramah. Aku mau yang benar."
Jeda. Lalu Mardhika, dengan kejujuran yang menyakitkan. "Yohana hitung gas darurat cukup untuk... kira-kira sepuluh sampai dua belas jam untuk tiga orang, kalau kalian tenang dan hemat. Lebih pendek kalau ada yang panik atau bekerja keras. Untuk membebaskan lonceng — kami perlu kerek tambahan, mungkin penyelam kedua dari chamber cadangan, dan rencana untuk mengangkat balok tanpa meremukkan lonceng. Itu jam, Bas. Banyak jam. Dan—" Ia ragu.
"Dan apa."
"Dan badai dari tenggara bergerak lebih cepat dari ramalan. Kami punya jendela, tapi menyempit."
Baskara berdiri diam di dasar, satu tangan di umbilical Calvin yang masih bergetar, satu tangan di rangka. Sepuluh jam gas. Berjam-jam untuk membebaskan lonceng. Badai datang. Dan di ujung selang di tangannya, seorang anak dua puluh empat tahun sedang membakar gasnya sendiri karena ketakutan.
Kalkulasi itu dingin dan jelas dan tak berampun, dan Baskara sudah menjalaninya cukup sering untuk tahu bahwa angka-angka tidak peduli pada harapan.
"Diterima," katanya. "Aku jemput Calvin dulu. Dia membakar gas paling cepat, dia yang paling dekat habis. Aku bawa dia kembali ke lonceng, kita kumpul jadi satu, kita hemat. Lalu kita bertahan sampai kalian buka jalan." Ia menarik napas, melengking di helmnya. "Yohana, jaga setiap molekul gas itu seperti nyawamu sendiri. Karena memang begitu."
"Sudah," jawab Yohana, suaranya kencang seperti kawat. "Setiap molekul."
Baskara mengeratkan genggaman pada umbilical Calvin, dan mulai menyusurinya ke selatan, ke dalam gelap, tempat seorang anak sedang sekarat satu napas pada satu waktu.