Umbilical Calvin menuntun Baskara ke dalam labirin reruntuhan, dan setiap meter terasa lebih dingin dari yang sebelumnya.
Ia menyusuri selang dengan kedua tangan, satu menyusul yang lain, merasakan teksturnya, mengikuti arahnya. Selang itu membelok di sekitar balok yang jatuh, masuk ke celah sempit antara dua bagian rangka yang miring, dan setiap kali Baskara harus menentukan apakah celah itu cukup lebar untuk tubuhnya beserta helm dan tangki. Dua kali ia harus mundur dan mencari jalan lain di sekeliling, kehilangan menit-menit berharga, merasakan dingin menyusup makin dalam ke jari-jari kakinya meski air panas masih mengalir.
"Calvin," panggilnya, tenang dan tetap. "Calvin, ini Baskara. Aku menyusuri umbilical-mu. Aku datang. Jawab aku."
Derak statis. Lalu suara, lemah, gemetar. "Pak... Pak, aku— terjepit. Kakiku. Ada baja menindih kakiku. Aku tidak bisa— aku coba tarik tapi—" Napas anak itu tersengal, terlalu cepat, terlalu dangkal. "Pak, gasku susah. Aku tarik napas tapi rasanya kurang—"
"Calvin, dengarkan suaraku dan cuma suaraku." Baskara menjaga nadanya rendah, lambat, hampir mengantuk dalam ketenangannya, karena ia tahu suara panik menular dan suara tenang juga menular. "Gasmu masih ada. Yohana di atas menjaganya. Rasanya kurang karena kamu bernapas terlalu cepat, bukan karena habis. Kamu menghirup udara sebelum paru-parumu sempat kosong. Itu yang bikin sesak. Bukan gasnya. Mengerti?"
"...mengerti."
"Sekarang ikuti aku. Tarik napas masuk, dua hitungan. Tahan, satu. Buang panjang, empat hitungan, buang sampai habis. Kita lakukan sama-sama. Tarik..."
Baskara menarik napas keras-keras agar Calvin mendengarnya di saluran bersama. Ia merasa konyol dan ia tidak peduli. Ia mendengar Calvin mengikuti, gemetar, lalu sedikit lebih mantap.
"...buang. Bagus. Lagi. Kamu mengendalikan satu hal di dunia ini sekarang, Calvin, dan satu hal itu adalah napasmu. Kuasai itu, kamu kuasai gasmu, kamu kuasai waktumu. Tarik..."
Di permukaan, suara Yohana masuk pelan, hampir berbisik agar tak memecah ritme. "Konsumsi Calvin turun. Dia melambat. Bagus, Baskara. Teruskan."
Baskara terus bergerak sambil bernapas bersama anak itu, menyusuri selang, dan akhirnya kerucut lampunya menangkap sesuatu — kilatan pucat di kegelapan. Helm. Lalu sosok Calvin, terbaring miring di lumpur, terhimpit antara lantai dasar dan sebatang pipa baja yang jatuh melintang di atas tungkainya. Lampu helm Calvin masih menyala, redup, mengarah ke lumpur.
"Aku lihat kamu," kata Baskara, dan untuk pertama kali ia membiarkan kehangatan masuk ke suaranya. "Aku di sini. Jangan bergerak dulu. Biar aku lihat."
Ia berlutut di samping Calvin, memeriksa dengan tangan dan mata. Pipa itu menindih betis Calvin, menjepitnya ke lumpur lunak. Lumpur — itu keberuntungan. Lumpur lunak memberi ruang. Kalau ini lantai keras, kaki anak itu mungkin sudah remuk. Baskara meraba sekeliling tungkai, merasakan bahwa beban pipa sebagian ditahan oleh tonjolan rangka di sisi lain, tidak sepenuhnya menekan ke bawah.
"Calvin, kakimu sakit? Bisa kamu rasakan jari-jari kakimu?"
"Bisa— sakit, tapi bisa."
"Bagus. Itu sangat bagus. Artinya darah masih jalan, tulang mungkin tidak patah, cuma terjepit." Baskara menilai pipa. Berat, tapi tidak sebesar balok yang menindih lonceng. Dengan tuas, mungkin. "Aku akan angkat pipa ini sedikit. Saat aku angkat, kamu tarik kakimu pelan, jangan menyentak. Kalau aku bilang berhenti, kamu berhenti. Mengerti?"
"Mengerti, Pak."
Baskara mencari sebatang baja lepas di reruntuhan — ada banyak sekarang — dan menemukan satu sepanjang lengannya, cukup kuat. Ia menyelipkannya di bawah pipa, mencari titik tumpu pada rangka, dan menekan. Otot punggung dan bahunya menegang. Di kedalaman ini, dengan tekanan dan gas dan dinginnya, setiap usaha fisik membakar tenaga dan gas dengan rakus. Ia merasakan napasnya melengking lebih cepat dan memaksanya melambat. Pipa terangkat. Satu jari. Dua.
"Sekarang, Calvin. Pelan. Tarik."
Calvin menggeliat, menarik kakinya, mengerang. "Tersangkut— sirip selamku—"
"Putar kakimu ke kiri. Pelan."
Kaki itu meluncur keluar. Calvin terlepas, menjauh sambil tersengal. Baskara melepas tuasnya dan pipa turun kembali ke lumpur dengan dentuman tumpul yang ia rasakan di dada.
"Kamu bebas," katanya, napasnya sendiri terengah. "Kamu bebas, Calvin. Aku pegang kamu sekarang."
Ia menarik anak itu mendekat, memeriksa umbilical-nya, menelusurinya dengan tangan untuk memastikan tak ada bagian yang terkoyak. Selang itu tergores, lecet di satu tempat di mana ia bergesek dengan baja, tapi utuh. Gas masih mengalir.
"Permukaan, Calvin bebas dari jepitan," lapor Baskara. "Sadar, bernapas, kaki utuh. Umbilical-nya tergores tapi tidak bocor. Aku bawa dia kembali ke lonceng."
Suara Mardhika datang dengan kelegaan yang nyaris menyakitkan. "Diterima. Bagus, Baskara. Bagus sekali." Lalu, lebih pelan: "Calvin, kamu dengar aku?"
"Dengar, Pak." Suara anak itu serak.
"Kamu sudah lewati yang paling buruk yang dialami penyelam mana pun di hari pertamanya. Kamu masih bernapas. Sekarang kamu ikut Baskara, dan kita bawa kalian semua pulang. Pelan-pelan."
Baskara melingkarkan satu tangan di umbilical Calvin, satu di umbilical-nya sendiri sebagai panduan pulang, dan mulai menyusuri jalan kembali ke lonceng yang terjepit. Setiap langkah di lumpur terasa lebih berat. Dinginnya kini bukan lagi gangguan; ia ancaman. Dan di kepalanya, angka-angka itu terus berdetak — gas, panas, waktu — semuanya menyusut bersama.