Di permukaan, ruang kontrol penyelaman adalah kotak baja seukuran kontainer, sesak oleh layar, pengukur tekanan, deretan keran berlabel, dan dengung kipas pendingin yang tak pernah berhenti.
Yohana duduk di kursi di depan dinding instrumen, dan untuk pertama kali dalam delapan tahun kariernya, telapak tangannya berkeringat di atas keran. Di depannya, setiap pengukur menceritakan bagian dari kisah yang sama: tiga nyawa di dasar, dan persediaan yang menyusut yang harus ia bagi di antara mereka.
"Tekanan gas darurat lonceng," ia membaca keras agar Mardhika di sebelahnya mendengar, agar tercatat di log, agar dirinya sendiri tetap berpijak pada angka dan bukan pada ketakutan. "Tabung satu dan dua masih penuh. Tabung tiga, yang seharusnya jalur cadangan ke umbilical induk, hilang tekanan — itu yang bocor di jepitan balok. Jadi kita kerja dengan dua tabung untuk tiga penyelam."
Mardhika berdiri di belakangnya, lengan disilangkan, rahang mengeras. Ia supervisor; keputusan akhir di tangannya, tapi angka di tangan Yohana. "Berapa lama dua tabung untuk tiga orang?"
Yohana sudah menghitungnya tiga kali, dan tiga kali ia mendapat jawaban yang sama yang tak ia suka. "Pada laju konsumsi tenang — kalau mereka istirahat, tidak bekerja, tidak panik — sekitar sepuluh jam. Tapi Baskara baru saja membebaskan Calvin, itu kerja berat, konsumsinya melonjak. Setiap usaha fisik di bawah memotong waktu. Realistisnya, kalau ada lagi yang harus dikerjakan keras, kita bicara delapan jam. Mungkin kurang."
"Delapan jam," ulang Mardhika pelan.
"Dan itu cuma gas." Yohana memutar kursinya menghadap pengukur lain, deretan angka suhu. "Masalah kedua: panas. Air panas yang kupompa ke umbilical mereka itu yang menjaga mereka dari hipotermia. Tapi umbilical induk lonceng terjepit dan sebagian terkoyak. Aku kehilangan tekanan di jalur air panas yang menuju ke sana. Aku bisa memaksa lebih banyak melalui jalur cadangan, tapi itu memakan daya pompa, dan pompa cadangan tidak dirancang untuk beban penuh berjam-jam." Ia mengetukkan jari ke pengukur suhu yang angkanya merayap turun pelan. "Suhu air balik dari mereka turun. Itu artinya panas yang sampai ke tubuh mereka berkurang. Hipotermia di dasar tidak datang dengan gemetar dramatis. Dia datang dengan kantuk. Mereka akan merasa hangat dan mengantuk justru saat paling berbahaya, dan kalau mereka tertidur di dingin itu, mereka tidak bangun."
Mardhika menggosok wajahnya dengan kedua tangan. Di luar, lewat dinding tipis kontainer, terdengar suara baru yang tak ada satu jam lalu: angin yang menguat, derit tambatan kapal, dan hempasan ombak yang mulai memukul lambung lebih keras. Badai dari tenggara tidak lagi di kejauhan.
"Cuaca," kata Mardhika, lebih pada dirinya sendiri.
"Cuaca," Yohana mengiyakan. "Dan itu masalah ketiga, yang lebih besar dari dua yang lain. Selama kapal stabil di atas lonceng, aku bisa jaga aliran. Tapi kalau gelombang membesar, kapal akan bergerak, dan setiap gerakan kapal menarik umbilical, menegangkan jalur yang sudah terjepit, mengikis yang sudah terkoyak. Aku bisa kehilangan jalur kapan saja kalau kapal terhempas cukup keras."
Di sudut ruangan, radio menyala dengan suara Baskara, melengking helium lalu dinormalkan oleh prosesor. "Permukaan, aku dan Calvin sudah di dekat lonceng. Aku mau masukkan Calvin ke dalam lonceng dulu, ke Tarno. Konfirmasi pintu lonceng bisa dibuka aman."
Mardhika menekan tombol. "Tunggu, Baskara. Yohana sedang cek tekanan lonceng. Kalau pintu dibuka, kita kehilangan keseimbangan tekanan kalau tidak tepat."
Yohana sudah memeriksanya. "Tekanan internal lonceng masih sama dengan luar — seimbang di kedalaman. Pintu bisa dibuka tanpa banjir, asal cepat dan kembali ditutup. Tapi setiap kali dibuka, kita kehilangan sedikit gas dari dalam ke luar. Aku mau dia masuk sekali, lalu pintu ditutup, dan tidak dibuka lagi sampai kita siap mengangkat."
"Diterima," kata Mardhika ke radio. "Baskara, masukkan Calvin sekali, lalu tutup. Setelah itu pintu tinggal tertutup. Yohana akan jaga gas dan panas dari sini. Kalian bertiga kumpul di lonceng, hemat napas, dan tunggu. Kami sedang siapkan tim kedua untuk mengangkat balok."
Setelah saluran tertutup, Mardhika menoleh pada Yohana. "Tim kedua butuh berapa lama untuk turun dan mengangkat balok itu?"
Yohana menatap layar, lalu menatap Mardhika, dan ia tidak membungkus jawabannya karena Mardhika tidak akan menghargainya kalau ia membungkus. "Lebih lama dari delapan jam gas yang kita punya, kalau cuaca terus memburuk. Kita berpacu dengan waktu yang tidak kita punya. Tidak ada margin."
Mardhika diam sejenak, menatap deretan pengukur, mendengarkan badai yang menguat di luar. Lalu ia menarik napas dan suaranya menjadi keras dan tenang, suara seorang supervisor yang tahu bahwa ketenangannya sendiri adalah satu-satunya jangkar bagi tiga orang di dasar yang tak bisa ia jangkau.
"Maka kita tidak buang satu detik," katanya. "Yohana, kau jaga setiap angka di dinding ini. Aku urus tim kedua dan kapten kapal. Dan kita jaga radio tetap hidup, apa pun yang terjadi. Selama mereka mendengar suara kita, mereka tidak sendiri di bawah sana. Dan selama mereka tidak merasa sendiri, mereka tidak panik, dan selama mereka tidak panik—"
"—mereka tidak membakar gas yang tidak mereka punya," Yohana menyelesaikan.
Mereka saling pandang sesaat, dua orang di ruang kontrol kecil dengan nasib tiga nyawa terbentang di pengukur di depan mereka, lalu kembali bekerja. Di luar, badai mengamuk. Di dalam, angka-angka terus menyusut, satu napas, satu derajat, satu menit pada satu waktu.