Baskara berdiri di luar lonceng yang terjepit, satu tangan di tubuh Calvin, dan menghadapi pilihan yang tak satu pun jawabannya benar.
Masukkan Calvin ke dalam lonceng — ke Tarno yang terluka, ke ruang sempit, ke cadangan gas yang sama yang menyusut — dan kumpulkan mereka bertiga di satu tempat untuk menunggu penyelamatan. Atau biarkan Calvin tetap di luar bersamanya, di air dingin, dan jaga lonceng tetap sesedikit mungkin dibuka. Setiap pilihan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Gas dengan panas. Waktu dengan keselamatan.
Di dalam helmnya, Baskara melakukan apa yang selalu ia lakukan: menjabarkan fakta, dingin, satu demi satu. Di dalam lonceng, ada panas — tubuh-tubuh, dinding tertutup, sisa pemanas. Calvin sedang kedinginan dan kehabisan tenaga; ia butuh panas dan butuh berhenti membakar gas dengan ketakutan. Tarno terluka dan butuh ditemani. Di luar, Baskara bisa terus memantau reruntuhan dan membantu tim kedua saat mereka tiba.
Nalurinya — naluri lama yang membentuk seluruh kariernya — berkata: tinggal di luar, pikul sendiri, jaga semuanya dengan tanganmu sendiri. Jangan bebani lonceng. Jangan percayakan Calvin pada ruang yang gasnya terbatas. Lakukan sendiri, awasi sendiri, kendalikan sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Baskara menyadari bahwa naluri itu salah.
Ia tidak bisa memikul ini sendiri. Tubuhnya juga jenuh helium, juga rentan, juga mendingin. Tangannya sudah mulai kaku. Kalau ia tetap di luar terlalu lama, ia akan menjadi penyelam keempat yang harus diselamatkan, bukan penyelamat. Dan Calvin — anak itu butuh masuk, butuh panas, butuh berhenti bekerja. Menahannya di luar demi 'mengendalikan' adalah kesombongan yang berbalut prosedur.
"Mardhika," katanya. "Aku mau masukkan Calvin ke lonceng, dan aku juga masuk. Kita bertiga di dalam. Lebih hangat, lebih hemat napas daripada bekerja di luar, dan kalau ada yang lemah kita saling jaga. Aku tahu itu menumpuk gas di satu titik. Tapi panas yang kita hemat menukar gas yang kita selamatkan. Aku pilih kumpul."
Jeda di radio. Lalu suara Yohana, menghitung cepat. "Bertiga di dalam lonceng tertutup... pembersih karbon dioksida lonceng masih jalan dengan gas darurat. Panas tubuh saling membantu. Ya — itu pilihan yang lebih baik untuk panas. Konsumsi gas total sedikit lebih tinggi karena tiga orang di satu ruang, tapi kalau kalian benar-benar diam dan tenang, selisihnya kecil. Aku setuju. Kumpul lebih baik daripada Baskara membeku sendirian di luar."
"Diterima," kata Mardhika. "Kumpul. Tapi Baskara — sekali kalian masuk dan pintu ditutup, kalian tidak buka lagi. Kalian bertahan di dalam sampai tim kedua membebaskan balok dan kami siap mengangkat. Bisa berjam-jam. Kalian harus saling jaga tetap bangun, tetap tenang, tetap bernapas pelan. Itu tugas kalian sekarang. Cuma itu. Bertahan."
Baskara membuka pintu bawah lonceng — gerakan yang sudah ratusan kali ia lakukan, tapi kini dengan tangan yang kaku dan jantung yang berat. Desis halus saat tekanan menyeimbang. Ia mendorong Calvin masuk lebih dulu, membantu tungkai anak itu yang lemah naik ke ruang sempit. Di dalam, dalam cahaya redup, ia melihat Tarno — wajah pucat, satu lengan dipegangi erat ke dada, tapi mata masih tajam, masih hidup.
"Anak itu utuh?" tanya Tarno, suaranya tegang.
"Utuh," jawab Baskara, menarik dirinya masuk dan menutup pintu di bawahnya, mengunci mereka bertiga di dalam tempurung baja yang terjepit di dasar seratus empat puluh meter. "Kita semua di sini sekarang."
Ruang itu sesak. Lutut bersentuhan dengan lutut. Napas mereka — tiga set, melengking helium — mengisi udara. Baskara membantu Calvin melepas sebagian peralatan, memeriksa Tarno, mengatur posisi agar lengan yang patah itu tertahan. Lalu ia duduk, dan untuk pertama kali sejak ledakan, ia membiarkan dirinya merasakan betapa dinginnya tubuhnya, betapa lelahnya.
"Dengar, kalian berdua," katanya, suaranya rendah, mengisi ruang sempit itu. "Aku tidak akan bohong. Kita terjepit. Gas kita terbatas. Di atas ada badai. Tapi kita punya satu hal yang mereka tidak bisa ambil: kita masih bernapas, kita bertiga, dan ada orang-orang di atas yang tidak akan tidur sampai kita keluar. Mardhika di radio. Yohana di pengukur. Mereka berjuang untuk kita semenit ini juga."
Ia menatap Calvin, lalu Tarno. "Tugas kita cuma satu. Bernapas pelan. Tetap bangun. Jaga satu sama lain. Calvin, kamu jaga Tarno tetap bicara. Tarno, kamu jaga Calvin tetap tenang. Aku jaga radio. Kita tidak menyelam hari ini. Kita cuma bertahan. Dan bertahan, aku bisa lakukan dalam tidurku."
Calvin tertawa kecil, gemetar, tapi tertawa. Tarno mendengus. Untuk sesaat, di ruang sempit yang dingin itu, ada sesuatu yang menyerupai keberanian.
Lalu kapal di atas mereka, lewat seluruh seratus empat puluh meter air, mengirimkan sentakan ke umbilical — tarikan keras, mendadak, yang menggetarkan seluruh lonceng. Lampu panel berkedip. Dan suara Mardhika masuk, lebih tegang dari sebelumnya.
"Lonceng, ini permukaan. Badai datang lebih cepat. Gelombang membesar. Kapal mulai terhempas. Aku tidak bisa janji berapa lama kami bisa tahan posisi di atas kalian. Pegang erat di bawah sana. Apa pun yang terjadi—" Sentakan kedua mengguncang lonceng, lebih keras. "—apa pun yang terjadi, jangan lepas dari satu sama lain."