> "Kadang, yang paling menyakitkan bukan kehilangan... tapi merasa tidak pernah benar-benar dimiliki."
Hujan turun pelan, seperti suara detak jarum jam yang terperangkap di ruangan yang sunyi. Aris duduk diam di atas kasur tipis di pojok kamar kosnya yang lembap. Dinding kusam itu sudah terlalu sering menjadi saksi bisu atas pertarungan batin yang ia simpan sendiri. Lampu kuning pucat menggantung redup, seperti cahayanya enggan ikut campur dalam kehidupan Aris yang mulai memudar.
Ia menatap lantai, kosong. Sudah tiga bulan ia kehilangan pekerjaan, dan dua bulan terakhir ini, ia bahkan mulai sulit membedakan hari apa sekarang. Semuanya terasa sama. Bangun, duduk, diam, tidur, bangun lagi. Lalu mengulang semuanya tanpa arah.
Di layar ponsel, ada satu nama yang terus muncul—Luna.
“Sayang, kamu udah makan?”
“Aku khawatir, kamu nggak ngebales apa-apa...”
“Aku di sini ya, selalu. Jangan dorong aku pergi.”
Aris tidak membalas. Bukan karena tak peduli. Tapi karena terlalu banyak hal yang berkecamuk di dadanya, sampai-sampai rasanya tak mampu menggerakkan jari untuk sekadar mengetik kata “ya.”
Luna adalah satu-satunya orang yang masih bertahan di sisinya saat semuanya pergi. Bahkan keluarga sendiri sudah mulai menjaga jarak. Tapi entah kenapa, semakin Luna menunjukkan kepedulian, semakin Aris merasa kecil. Seolah-olah setiap pesan manis dari Luna justru memperlihatkan betapa tidak pantasnya ia disayangi.
Aris menarik napas panjang, lalu menghembuskan perlahan. Udara kamar yang pengap tak membantu menenangkan dadanya.
Pikiran-pikiran gelap mulai menyusup seperti racun. “Apa gunanya terus hidup begini?” katanya dalam hati. “Luna pantas dapat seseorang yang lebih baik, yang bisa ngajak dia ketawa, bukan cuma nangis bareng.”
Ia bangkit, menuju cermin kecil yang mulai kusam di dinding. Menatap wajahnya sendiri—mata cekung, janggut tak terurus, kulit yang semakin pucat.
“Apa ini sosok yang bisa bikin orang bahagia?” gumamnya getir.
Suatu sore, Luna datang ke kamar kos. Ia membawa makanan kesukaan Aris—mie goreng pedas dengan telur setengah matang dan teh manis hangat. Ia tahu Aris pasti belum makan.
“Aris...” panggil Luna lembut.
Aris terdiam di kasur, punggungnya menghadap pintu. Hatinya penuh rasa malu. Bukan karena Luna datang tanpa kabar, tapi karena ia tidak punya apa-apa untuk diberikan balik.
Luna duduk di lantai dekat kasur. Ia tidak marah. Ia hanya ingin hadir.
“Tau nggak,” katanya pelan, “kadang bahagia itu bukan tentang dikasih sesuatu, tapi bisa tetap ada buat seseorang, meski lagi nggak punya apa-apa.”
Aris akhirnya menoleh. Matanya berkaca-kaca. Ia ingin bicara, tapi tenggorokannya seperti dicekik rasa bersalah. Yang keluar hanya air mata yang tertahan sejak berhari-hari lalu.
“Maaf... aku cuma nyusahin kamu, Lun...” bisiknya parau.
Luna mendekat, menggenggam tangan Aris yang dingin. “Kalau nyusahin artinya kamu lagi jatuh dan aku bantu pegangin... berarti aku nggak nyusah. Aku justru jadi bagian dari kamu bertahan.”
Kata-kata itu menembus pertahanan Aris. Ia menunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetar.
Namun, jauh di dalam hati, ada satu suara kecil yang masih menggerakkan napasnya. Harapan. Meski hampir padam, ia belum benar-benar mati.
---
Malam itu, setelah Luna pulang, Aris duduk sendirian. Ia membuka pesan-pesan lama dari Luna. Beberapa foto mereka saat tertawa di taman, saat makan gorengan pinggir jalan, saat berdebat soal film.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, Aris mengetik balasan.
> “Terima kasih... udah nggak ninggalin aku. Meski aku belum bisa apa-apa sekarang, aku janji… aku bakal berusaha, buat kamu. Walau lambat.”
Lalu ia menutup mata. Dalam diam, ia berkata pada Tuhan. Tak lantang. Tak berharap langsung dijawab. Tapi cukup... cukup untuk merasa sedikit lebih hidup malam ini.
---
Selamat datang. Buka hatimu, bukan cuma matamu.
Ini bukan kisah sempurna, tapi mungkin ada bagian yang mencerminkan dirimu.
Jangan buru-buru pergi… lanjutkan, siapa tahu kamu menemukan sesuatu.