> "Apa gunanya berharap, jika setiap harapan hanya berakhir pada kehampaan?"
Hari-hari terasa seperti kertas kusam yang tak pernah ingin ditulisi lagi. Bagi Aris, waktu tak lagi bergerak maju. Ia seperti terperangkap dalam satu titik diam, tempat di mana suara dunia jadi terlalu jauh dan pikirannya sendiri terlalu bising.
Sudah seminggu sejak terakhir kali Luna datang. Bukan karena mereka bertengkar—tidak ada kemarahan. Justru karena Luna mulai memberi ruang. Ia tahu, kadang cinta bukan soal hadir terus-menerus, tapi tahu kapan memberi jarak agar seseorang bisa bernapas.
Namun, justru di situlah Aris mulai tenggelam kembali.
Kamar itu kembali sunyi. Meja kecil berisi buku-buku lama, sebuah gitar yang senarnya tinggal tiga, dan kalender yang tak lagi diganti sejak dua bulan lalu. Aris duduk di sudut ruangan, lutut didekap, menatap dinding seakan dinding itu menyimpan jawaban yang tak pernah datang.
Ia mencoba menulis sesuatu di buku catatannya. Hanya ada satu kalimat yang berhasil ia goreskan:
> “Aku ingin menghilang, tapi dunia tak memberi pintu keluar.”
Ia menutup buku itu lagi.
---
Pagi itu, suara notifikasi HP membuyarkan lamunannya. Sebuah pesan masuk dari Luna:
> “Hari ini langitnya mendung, tapi dinginnya enak kalau kita duduk bareng dan diem aja. Kamu masih mau bareng aku, ‘kan?”
Pesan itu dibaca, tapi tidak langsung dibalas. Bukan karena tak ingin, tapi karena terlalu takut untuk mengecewakan. Aris merasa tak layak duduk di samping seseorang yang masih bisa melihat langit dengan cara seindah itu.
Ia tahu Luna butuh senyum. Butuh cerita. Tapi Aris hanya bisa memberi diam dan kegelisahan.
---
Sore harinya, ia akhirnya keluar kos. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia berjalan kaki ke taman dekat stasiun—tempat dulu ia sering duduk berdua dengan Luna, berbagi roti bakar dan cerita tentang mimpi yang kini terasa asing.
Langit mendung, seperti pesan Luna. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah yang basah. Di bangku taman yang familiar, Luna sudah duduk lebih dulu. Ia menoleh, tersenyum pelan saat melihat Aris mendekat.
Tak ada pelukan. Tak ada tanya “kenapa baru datang?” Hanya keheningan yang dibagi tanpa tekanan.
“Aku nunggu,” kata Luna pelan.
Aris duduk di sampingnya. Tak langsung menatap Luna, tapi matanya menerawang jauh.
“Lun… kamu pernah ngerasa hampa nggak?” akhirnya Aris bersuara.
Luna menarik napas pelan. “Sering. Tapi biasanya itu datang bukan karena aku nggak punya apa-apa, tapi karena aku ngerasa sendirian meski dikelilingi banyak hal.”
Aris mengangguk. “Aku… ngerasa kayak jalan di dalam kabut. Semua usaha kayak nggak ada gunanya. Apa yang aku kejar selalu kabur. Kadang, aku cuma ingin berhenti. Tapi bahkan berhenti pun… nggak bisa.”
Luna menatap Aris. Ada sedih di matanya, tapi juga keteguhan.
“Kamu nggak sendiri. Dan aku nggak butuh kamu jadi sempurna. Aku cuma pengen kamu tetep di sini, meski hancur, meski belum pulih. Karena yang bikin aku bertahan bukan versi sempurna kamu, tapi yang sekarang ini… yang masih mau bertahan meski hampir jatuh.”
Aris menunduk. Matanya panas.
“Lun, aku takut aku nggak akan pernah bisa bahagiain kamu.”
“Kalau bahagiain berarti bikin aku ketawa tiap hari, mungkin nggak. Tapi kalau bahagiain itu artinya kamu tetep hidup, tetep bangun tiap pagi meski berat… itu udah cukup.”
Kata-kata itu seperti pelukan di hari dingin. Bukan membakar semangat, tapi menghangatkan hati yang beku.
---
Malamnya, Aris kembali ke kamar dengan perasaan yang belum sepenuhnya pulih, tapi sedikit lebih ringan. Ia duduk di depan cermin, menatap dirinya sendiri.
Hampa itu belum pergi. Tapi setidaknya sekarang, ia tahu bahwa hampa itu tidak harus dihadapi sendiri.
Ia membuka buku catatannya lagi. Di bawah tulisan sebelumnya, ia menambahkan:
> “Mungkin, aku tidak harus menghilang. Mungkin aku hanya perlu seseorang yang mau menunggu aku kembali.”
---
Hampa bukan akhir. Kadang itu jeda... tempat untuk menyadari bahwa ada yang masih menunggu di ujung sepi.