> "Aku masih berdoa, meski aku tidak yakin ada yang mendengarkan."
Langit malam itu tampak begitu gelap. Tidak ada bintang, tidak ada bulan. Seolah langit pun sedang berduka.
Aris duduk di lantai kamarnya, punggung bersandar pada tembok dingin. Di hadapannya, jendela kecil memperlihatkan langit malam yang kelam, dan angin masuk pelan lewat celah ventilasi, membawa hawa dingin yang menyusup sampai ke d**a.
Sudah dua malam ia tak bisa tidur. Bukan karena insomnianya kambuh. Tapi karena pikirannya terlalu bising. Pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung usai, menggema di dalam batok kepalanya.
"Apa masih ada yang mendengarkan?"
"Kalau Tuhan ada, kenapa diam saja?"
Ia bukan ingin memberontak. Tidak sedang ingin menantang langit. Tapi lelah. Sangat lelah. Terlalu banyak luka yang dipendam, terlalu banyak tangis yang ditelan diam-diam, hingga ia tak tahu lagi ke mana harus mengadu.
Sore tadi, ia bahkan sempat mampir ke masjid kecil di ujung jalan. Duduk di saf belakang, diam. Tidak sholat. Hanya diam. Menatap mihrab yang kosong, berharap ada sesuatu yang datang... atau sekadar rasa.
Tapi yang datang hanya sunyi.
---
Satu-satunya suara yang mengisi kamarnya malam itu hanyalah bunyi detak jam dinding dan pesan suara dari Luna.
> “Hari ini aku ngerasa kamu semakin jauh. Tapi aku ngerti... kadang orang yang kita sayangi pun bisa tersesat. Kalau kamu nggak bisa nemuin arah pulang, aku tungguin. Nggak harus sekarang. Tapi tolong, jangan hilang.”
Aris memejamkan mata. Matanya basah. Hatinya remuk.
Ia tahu Luna tak akan pernah benar-benar mengerti rasa kehilangan yang tak bisa dijelaskan. Tapi kehadiran Luna... adalah satu-satunya hal yang membuatnya belum menyerah.
---
Malam semakin dalam. Aris akhirnya bangkit, mengambil air wudu—bukan karena niat beribadah yang kuat, tapi karena tubuh dan pikirannya sudah terlalu panas. Ia butuh sejuk.
Di atas sajadah, ia duduk lama. Tak langsung takbir, hanya menunduk, seperti menunggu sesuatu dari langit yang tak kunjung menjawab.
Ia akhirnya sholat. Gerakannya lambat, doanya pelan, suaranya bergetar.
Dan saat ia bersujud terakhir, hatinya retak:
> “Tuhan, aku nggak tahu Kau dengar atau tidak. Tapi tolong... jangan biarkan aku sendirian.”
---
Keesokan paginya, Luna datang. Membawa roti bakar dan teh manis hangat.
Mereka duduk di lantai kamar yang sempit, saling diam, menikmati kehangatan kecil di tengah kebekuan yang belum mencair.
“Aku ke masjid semalam,” ucap Aris pelan.
Luna menoleh. “Dan…?”
“Aku masih nggak yakin ada yang denger.”
Luna tidak langsung menjawab. Ia mengaduk teh dalam cangkir kertas, menatapnya lama.
“Kadang... suara kita nggak harus didengar sama langit dulu. Tapi didengar sama diri sendiri.”
Aris mengernyit. “Maksud kamu?”
“Berdoa itu kadang bukan soal Tuhan menjawab, tapi soal kita ngakuin kalau kita udah terlalu capek buat jalan sendiri.”
Aris terdiam. Kata-kata Luna menusuk, tapi lembut. Seperti pisau tumpul yang perlahan membuka luka lama.
“Kalau Tuhan diam, bukan berarti Dia nggak ada. Mungkin Dia lagi biarin kamu belajar jalan dalam gelap... biar nanti kalau nemu cahaya, kamu bisa benar-benar menghargainya.”
---
Aris tidak menjawab. Tapi sore itu, ia menulis sesuatu di buku catatannya:
> “Langit mungkin diam. Tapi keheningan bukan selalu tanda tak peduli. Bisa jadi, itu cara Tuhan bilang: ‘Aku di sini, hanya sedang memberimu waktu untuk mengerti.’”
---
Kadang, diamnya langit bukan bentuk penolakan. Tapi ruang—untuk kita bertumbuh dalam sepi, agar kelak bisa mendengar jawaban yang tak pernah kita duga.