> "Aku tidak marah pada-Mu, Tuhan. Aku hanya terlalu lelah untuk terus berpura-pura kuat."
Aris berdiri di depan cermin. Matanya sembab, rambut acak-acakan, dan wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Bukan karena usia, tapi karena hari-hari yang menguras tenaganya secara perlahan. Ia menarik napas, lalu menunduk, menyentuh wajahnya sendiri. Seolah mencoba memastikan kalau ia masih nyata.
Sudah beberapa hari ini ia merasa... kosong.
Seakan jiwanya tertinggal entah di mana. Bangun tidur seperti mayat hidup—bergerak tanpa jiwa, bicara tanpa semangat. Ia bahkan mulai kehilangan rasa untuk hal-hal kecil yang dulu membuatnya tersenyum.
Bahkan Luna pun, satu-satunya pelipur, mulai terlihat seperti seseorang yang ia jaga dari kejauhan—bukan lagi seseorang yang ia yakini bisa ia bahagiakan.
---
Hari itu hujan turun deras. Langit menangis, dan entah kenapa Aris merasa langit sedang menggantikan dirinya yang terlalu lelah untuk menangis lagi.
Ia duduk di halte yang kosong. Pikirannya jauh. Ia merasa ingin berbicara... pada sesuatu, pada seseorang... mungkin pada Tuhan. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya satu kalimat:
> "Tuhan, jika Kau ada... aku ingin bicara sebentar."
Lalu diam.
Tak ada jawaban. Tapi tak juga ia berharap.
“Bukan karena tidak percaya… tapi aku hanya terlalu lelah untuk percaya lagi,” gumamnya.
---
Telepon dari Luna masuk. Tidak ia angkat. Notifikasi pesan muncul.
> “Kalau kamu nggak bisa bicara, nggak apa. Tapi jangan hilang, ya.”
Dan entah kenapa kalimat itu menusuk.
Bukan karena ia ingin hilang, tapi karena bagian dalam dirinya sudah terlalu sering merasa tidak terlihat.
---
Malamnya, Aris menghidupkan laptop. Membuka folder kosong. Menulis satu file dengan nama “Surat untuk Tuhan”.
Surat itu dimulai seperti ini:
> “Tuhan, aku tidak marah pada-Mu. Aku hanya bingung... kenapa Kau begitu jauh saat aku butuh. Aku tahu, hidup tidak harus mudah. Tapi kenapa terasa seberat ini? Kenapa semua pintu tertutup bersamaan?”
> “Aku tahu Kau bukan penyihir. Aku tahu tidak semua doa harus langsung dijawab. Tapi kalau diam-Mu adalah bagian dari ujian... aku tidak yakin bisa lulus.”
> “Kau tahu, aku tidak ingin menyerah. Tapi aku juga tidak ingin jadi beban. Pada Luna. Pada diriku sendiri. Bahkan mungkin, pada-Mu.”
---
Lalu surat itu ditutup, tanpa tanda tangan, tanpa nama. Seperti hatinya sendiri: menggantung, tak punya akhir.
Tapi setelah menulis itu, Aris merasa sedikit lebih ringan. Seperti akhirnya ada yang mendengar, meski mungkin hanya kosong.
---
Beberapa hari kemudian, Luna datang lagi. Membawa dua kotak makanan dan satu buku tipis yang ia taruh di atas meja.
Aris membuka buku itu pelan. Halamannya penuh kutipan. Salah satu yang disorot Luna:
> “Kadang, Tuhan menjawab lewat rasa lelahmu sendiri—karena dari situlah kamu tahu, kamu butuh diselamatkan, bukan sekadar dimenangkan.”
Aris menatap Luna. Tak ada kata. Tapi matanya berbicara.
Ia tidak meminta pelukan. Tapi dalam diam, ia merasa sudah dipeluk oleh pemahaman.
---
Malamnya, Aris kembali duduk di sajadah.
Tidak ada tuntutan. Tidak ada rengekan. Hanya kalimat lirih yang keluar:
> “Tuhan, jika Kau masih di sana… aku tidak akan lari. Aku cuma butuh Kau tetap di sini, meski aku belum sanggup bicara.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Aris tidur dengan tenang.
Bukan karena masalahnya selesai.
Tapi karena ia mulai menerima, bahwa tidak semua luka harus langsung sembuh untuk bisa bertahan.
---
Terkadang, iman bukan tentang percaya tanpa ragu, tapi tetap memilih bertahan meski hati penuh tanya.