> “Semua ini belum akhir. Tapi setiap akhir yang dilalui dengan hati... adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.”
---
Langit sore hari itu tenang. Tidak ada drama dalam cahaya yang perlahan memudar di cakrawala. Hanya warna jingga yang menari di antara siluet bangunan kota, seakan membisikkan: “Sudah cukup. Sekarang waktunya pulang.”
Aris duduk di halte kecil dekat taman tempat ia biasa menunggu Luna. Ia tidak menunggu siapa-siapa hari ini, hanya membiarkan waktu duduk bersamanya. Tak terburu-buru, tak perlu ke mana-mana.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari Luna.
> “Sudah siap untuk mulai lagi? Tapi bukan dari nol. Tapi dari hati yang lebih kuat.”
Ia tersenyum kecil. Tidak ada keraguan. Tidak ada ketakutan seperti dulu. Hanya keyakinan yang perlahan tumbuh dari luka—bahwa ternyata, ia tidak rusak. Hanya hancur untuk membentuk ulang dirinya.
---
Beberapa waktu lalu, Aris pernah bertanya dalam hati, “Tuhan, Kau di mana?”
Sekarang ia tidak lagi mencari jawaban. Karena ternyata, Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk keajaiban besar. Kadang, Tuhan hadir lewat Luna. Lewat secarik pesan. Lewat tulisan yang akhirnya selesai. Lewat udara pagi yang membuatnya tetap bernapas.
Dan paling sering… Tuhan hadir dalam dirinya sendiri.
Dalam keberaniannya untuk tidak menyerah.
---
Langkah Aris mungkin masih goyah. Tapi kini ia berjalan bukan karena dunia sudah aman… tapi karena ia sudah siap menghadapinya, satu hari sekali.
Bukan untuk menjadi sempurna.
Tapi untuk hidup. Sepenuhnya.
---
Penutup Epilog:
Cerita ini mungkin selesai, tapi hidup tidak pernah benar-benar selesai. Setiap luka adalah jalan. Setiap rasa sakit adalah peta. Dan setiap air mata adalah petunjuk... bahwa masih ada jalan pulang.