> "Bukan aku yang kuat. Tapi ada kekuatan yang tidak pernah meninggalkanku, bahkan saat aku ingin menyerah."
Hari itu langit tidak kelabu. Tidak juga cerah. Tapi cukup teduh untuk membuat Aris berdiri lebih lama di balkon rumah kontrakannya. Udara pagi menyusup pelan ke d**a—tidak dingin, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ia masih hidup.
Luna duduk di ambang pintu balkon, menatap Aris yang kini lebih tenang.
> “Masih banyak yang belum selesai, ya?” tanya Luna.
“Iya,” jawab Aris, “tapi untuk pertama kalinya, aku nggak takut sama ‘belum selesai’ itu.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang aku tahu, aku nggak sendirian.”
---
Waktu terasa berjalan lambat dalam proses penyembuhan. Tidak ada momen dramatis seperti dalam film, tidak ada pelukan hangat dari semesta yang menyembuhkan segalanya.
Yang ada hanyalah rutinitas. Bangun. Mandi. Menulis. Diam. Menyeduh kopi. Bicara sedikit. Tidur. Lalu ulang lagi.
Tapi dalam keheningan yang konsisten itu, perlahan Aris mulai menemukan kembali "cahaya" yang dulu ia pikir telah mati.
---
Suatu malam, saat listrik mati, Aris menyalakan lilin dan duduk di meja tulisnya. Cahaya kuning keemasan itu menari di atas kertas yang penuh coretan.
Dan ia sadar sesuatu.
> “Cahaya bukan datang karena dunia terang... tapi karena ada yang tetap menyala meski dalam gelap.”
Ia teringat pada Luna. Pada Iyan. Pada semua yang pernah ia temui dan tidak pernah tahu bahwa kehadiran mereka telah menyelamatkannya.
---
Di ponselnya, Aris menyimpan banyak draft tulisan yang belum selesai. Tapi malam itu, ia menyelesaikan satu. Tulisan tentang seseorang yang pernah ingin menyerah, namun memilih diam sebentar... agar bisa mendengar lagi.
Dan ia kirim ke sebuah platform menulis.
> Judulnya: "Titik Awal."
---
Beberapa minggu kemudian, notifikasi masuk. Tulisannya dibaca ribuan orang. Beberapa meninggalkan komentar. Beberapa hanya diam, tapi Aris tahu... diam mereka adalah bentuk pelukan tak bersuara.
Ada seseorang yang menulis:
> “Terima kasih, karena menulis ini. Rasanya seperti mendengar suara hatiku sendiri.”
---
Luna datang ke rumah malam itu, membawa kue kecil dan sebatang lilin.
> “Selamat, penulis favoritku,” ucapnya.
Aris tertawa kecil. “Itu terlalu manis buat seseorang yang baru selesai mandi dan belum sikat gigi.”
“Nggak masalah. Kamu udah cukup manis untuk hari ini.”
“Terlalu gombal.”
“Tapi kamu senyum.”
Mereka makan sambil menonton film lama. Tapi filmnya tidak penting. Yang penting adalah tawa yang kembali. Keheningan yang tak lagi menakutkan. Dan pelukan yang tak lagi terasa seperti perpisahan.
---
Beberapa hari setelahnya, Aris berjalan ke sebuah bukit kecil di pinggiran kota. Sendirian.
Dulu, tempat ini jadi tempatnya menangis diam-diam. Tapi kali ini berbeda.
Ia duduk di atas rumput, membuka catatan kecil, lalu menulis:
> “Tuhan, kalau benar Kau tidak pernah pergi… maka sekarang aku tahu, akulah yang selama ini berjalan menjauh.”
> “Tapi terima kasih… karena tetap menunggu. Bahkan saat aku tidak tahu arah pulang.”
---
Matahari perlahan muncul di ujung langit. Menerobos kabut pagi. Tidak menyilaukan, tapi cukup hangat untuk membuat hati terasa penuh.
Aris menutup catatannya. Menarik napas dalam-dalam.
Lalu berdiri.
Karena meski perjalanan belum selesai…
Ia siap untuk melangkah lagi.
---
Cahaya tidak selalu datang dalam bentuk terang. Kadang, ia hadir dalam bentuk keteguhan hati. Dalam diam yang tidak menyerah. Dalam cinta yang tak bersyarat. Dan dalam Tuhan... yang tidak pernah pergi.