> "Tuhan tidak pernah pergi. Aku saja yang terlalu sibuk menunggu pelangi hingga lupa bahwa hujan pun adalah bentuk kasih-Nya."
Hujan turun pelan-pelan sejak pagi. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat kaca jendela kamar Aris dihiasi embun. Ia duduk di lantai, bersandar di dinding, memandangi langit yang kelabu.
Sudah tiga bulan sejak ia mulai menulis kembali. Tiga bulan sejak ia memutuskan untuk tidak menyerah meski godaan untuk berhenti masih datang sesekali.
Dan pagi ini, sesuatu terasa berbeda. Bukan karena hujannya—tapi karena untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ingin menunggu hujan reda.
---
Luna datang dengan dua gelas kopi di tangan. Ia duduk di samping Aris, menyodorkan salah satunya.
> “Hari yang pas buat diam, ya?”
“Hari yang pas buat dengerin suara sendiri,” jawab Aris, menghirup aroma kopi.
“Kamu udah lama diem... tapi sekarang bukan karena putus asa, kan?”
Aris menatap Luna, mengangguk pelan.
“Aku diam... karena mulai nyaman sama suara hati sendiri.”
---
Dulu, Aris pikir hujan adalah lambang duka. Ia mengaitkannya dengan kehilangan, kesedihan, dan kesunyian yang berkepanjangan. Tapi kini, ia melihat hal yang berbeda.
Setiap tetesnya seperti cara langit berkata:
> "Aku tahu kau sedang berjuang. Tapi lihatlah... bahkan langit pun menangis, dan tetap indah setelahnya."
---
Malam itu, Aris membaca kembali tulisan-tulisan lamanya. Yang penuh amarah, keputusasaan, dan luka. Tapi alih-alih membenci versi dirinya yang dulu, kali ini ia merangkulnya.
> “Terima kasih, karena sudah tidak menyerah. Meski kamu benci dunia, kamu tetap bangun setiap pagi. Itu lebih dari cukup.”
Ia mencetak tulisan itu, dan menempelkannya di dinding dekat meja tulis. Sebagai pengingat bahwa perjalanan bukan hanya tentang ke mana kita ingin pergi, tapi tentang siapa yang kita bawa bersamanya: diri sendiri.
---
Keesokan harinya, Luna mengajak Aris mengunjungi rumah singgah anak-anak. Tempat ia menjadi relawan sejak lama.
> “Aku cuma mau kamu lihat,” kata Luna. “Bahwa kamu masih bisa memberi sesuatu. Meskipun kamu merasa belum utuh.”
“Aku takut, Lun. Takut nggak bisa ngasih apa-apa...”
“Kamu lupa, Ris. Kadang kehadiran aja cukup.”
---
Di sana, Aris bertemu seorang anak laki-laki bernama Iyan. 10 tahun, kehilangan orang tua karena kecelakaan. Tapi yang membuat Aris terdiam bukan ceritanya... melainkan cara Iyan tertawa.
Tulus. Lepas. Seolah hidup ini tidak pernah menyakitinya.
> “Kamu suka gambar, Mas?” tanya Iyan, menunjuk sketsa kecil di tangan Aris.
“Iya, tapi udah lama nggak gambar lagi.”
“Kenapa?”
“Nggak tahu... mungkin karena aku lupa caranya bahagia.”
Iyan tersenyum.
“Kalau gitu, gambarnya tentang aku aja. Aku masih inget caranya bahagia, kok.”
Aris tertawa kecil. Dan saat itulah, ia sadar: mungkin hujan yang selama ini ia benci... adalah hujan yang membawanya ke tempat ini.
---
Tuhan tidak pernah pergi. Terkadang, yang perlu dilakukan hanya berhenti menunggu pelangi... dan mulai menyadari bahwa hujan pun adalah bentuk cinta yang tak selalu dimengerti.