> "Mungkin, aku tidak perlu bukti bahwa Tuhan ada. Mungkin, rasa sakit ini cukup menjadi saksi bahwa aku masih hidup."
Tiga hari sejak malam itu. Sejak telepon dari Luna yang menyentuh sisi paling rapuh dalam diri Aris. Tak ada keajaiban besar, tak ada perubahan drastis. Tapi ada satu hal kecil: ia bangun pagi tanpa keinginan untuk menghilang.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Matahari masuk. Cahaya itu menembus celah gorden lusuh dan mengenai lantai dingin kamar sempitnya. Ia memejamkan mata, menghirup udara pelan.
> "Aneh," bisiknya.
"Tapi... hangat ini rasanya berbeda."
Langkah pertama yang ia ambil bukan untuk menyelesaikan masalah besar, tapi hanya untuk menyeduh teh hangat. Langkah kecil. Tapi cukup berarti. Dunia luar masih sama—sepi dan tidak pasti. Tapi dunia dalam dirinya mulai bergeser sedikit.
---
Aris mulai menulis lagi.
Bukan untuk dikirim ke siapa pun. Bukan untuk uang. Hanya untuk dirinya sendiri. Tulisan-tulisan pendek yang isinya kacau. Tapi penuh perasaan.
Salah satunya:
> “Terkadang yang kita butuhkan bukan solusi, tapi keberanian untuk bertahan satu hari lagi.”
---
Suatu siang, Luna datang tanpa kabar. Membawa dua bungkus nasi padang dan satu senyuman yang seperti matahari.
> “Kau belum mandi, ya?” candanya.
Aris tertawa kecil. Tawa yang kaku, tapi nyata.
“Terakhir mandi kayaknya pas kamu masih percaya aku bisa jadi penyair hebat.”
“Aku masih percaya, Ris.”
Luna duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding kamar. Mereka makan sambil saling diam. Tapi diam yang nyaman. Diam yang tidak menuntut. Hanya keberadaan yang cukup.
Setelah makan, Luna membuka tasnya. Mengeluarkan sebuah buku kecil berisi kutipan-kutipan yang ia tulis sendiri.
> “Ini buat kamu. Isinya mungkin gak bisa nyembuhin kamu... tapi siapa tahu bisa bikin kamu diem sebentar.”
Aris membaca halaman pertama:
“Kau tidak harus sembuh untuk layak dicintai.”
Kepalanya tertunduk. Ada benjolan di tenggorokan yang sulit ditelan.
---
Malam harinya, Aris duduk di depan laptop. Ia menulis—tanpa beban, tanpa ekspektasi. Ia hanya ingin menyalurkan perasaan. Tentang gelap, tentang kehilangan, tentang mencoba percaya lagi. Tentang Luna.
Ia sadar, harapannya belum kembali sepenuhnya. Tapi kini, ia bisa melihat satu titik kecil di ujung sana. Mungkin itu bukan solusi. Mungkin bukan cahaya. Tapi itu... sesuatu.
Sebuah percik.
---
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia berkata:
> “Tuhan... mungkin Kau diam selama ini. Tapi entah kenapa... aku masih ingin bicara.”
---
Tidak perlu menunggu sembuh untuk melangkah. Cukup hidup hari ini. Kadang, percik kecil bisa jadi cahaya yang menyelamatkan.