Ronald Shop.
"hei Bill!".
"kau tak perlu lembur hari ini!".
"sepertinya kau sangat lelah..".
"bagaimana jika aku yang menggantikan mu saja,oke?".
seorang pemuda usianya sekitar dua puluh lima tahun sedang berbicara sambil merapikan beberapa barang di rak besi yang terpajang dihadapannya.
orang yang pemuda itu ajak bicara adalah sesosok yang sedang duduk di belakang meja kasir.
ia duduk dengan kedua tangannya yang menopang dagunya.nampaknya ia sedang tak baik baik saja.
"kau dengar aku!?".
pemuda yang sedang merapikan barang di rak itu kembali bertanya,lantaran ia tak mendapat respon.
"ya..aku dengar...".
jawab pemuda yang sedang duduk itu dengan suara yang terdengar lesu.
"kalau begitu tunggu apa lagi, pulanglah ini sudah hampir malam..!".
katanya lagi.
"huff..!!".
terdengar pemuda yang sedang duduk itu menghembuskan nafas dengan keras.
seperti mencoba untuk membuang sebuah beban berat yang menyesakkan dadanya.
ia masih tetap duduk.
meskipun sudah diminta pulang oleh rekannya tadi.dan memang jam kerjanya juga sudah habis.namun,ia nampaknya masih enggan untuk beranjak dari posisinya.
entah karena terlalu nyaman,atau malah justru karena terlalu lesu untuk bergerak.
"hei...kenapa masih disitu?!".
pemuda yang tadi sedang merapikan barang di rak,kini sudah ada di hadapan pemuda yang sedang duduk itu.
"kau kan sudah lembur semalam,dan kau terlihat begitu lelah".
"lihat wajahmu!pucat dan tak b*******h".
"kau tau itu Marco....".
pemuda yang sedang duduk itu kembali bersuara dengan lesu.
ia tetap menopang dagunya dengan kedua tangannya.
tatapannya nanar.seperti sedang menahan rasa lelah yang teramat.tapi,entahlah lelah itu disebabkan oleh apa.mungkin oleh pekerjaannya sebagai karyawan minimarket yang ia jalani hampir empat tahun belakangan.atau justru oleh beban hidup yang memang begitu berat yang harus ia tanggung.
"oke!terserah saja jika hari ini kau ingin lembur lagi".
ucap pemuda yang sedang berdiri itu.ia adalah Marco Reus,salah seorang rekan kerja yang sekaligus sahabat dari pemuda yang sedang duduk itu,alias Bill Cornor.
Bill Cornor tak bereaksi.
sedang Marco kembali pada pekerjaannya,merapikan barang barang di rak minimarket.
saat ini minimarket masih dalam kondisi tertutup.lantaran hari yang menjelang malam.namun,tepat pukul tujuh malam,toko akan kembali di buka.itulah sebabnya ia memanfaatkan waktu senggang itu untuk merapikan barang barang yang tampak sedikit berantakan akibat aktivitas pembeli selama seharian ini.
"e..e.. Marco aku...aku pulang!".
akhirnya Bill beranjak juga dari posisinya.
ia berdiri,lalu mulai melangkah keluar dari tempat kasir.
Marco berhenti sejenak.
ia segera menghampiri sahabatnya itu.
"sorry..,!".
ucapnya.
Bill menggeleng lemah.
"aku tau kau sangat perlu uang,tapi...kau juga harus tetap memperhatikan kondisi tubuhmu...".
Marco memberi alasan tentang maksudnya memberi saran agar Bill tak lagi lembur hari ini.
"yeah...no problem,...".
jawab Bill dengan senyum tipis yang terkesan dipaksakan.
ia tak boleh tersinggung dengan ucapan dari Marco,karena sedikit banyak Marco memang tahu bagaimana kondisi kehidupannya.
ia yang yatim sejak kecil karena kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan.terpaksa harus menjalani kehidupan yang begitu berat.
sempat dirawat oleh sang nenek,nyatanya Bill kecil harus menanggung derita kembali.karena baru tiga tahun hidup bersama sang nenek,ia pun kembali harus kehilangan orang yang mengasihinya itu.sang nenek wafat karena sakit.
tak punya pilihan, Bill pun terpaksa tinggal di panti asuhan hingga tujuh tahun lamanya.
sampai pada akhirnya,sang bibi atau adik dari ibunya,yang selama ini berada di luar kota dan baru menikah, akhirnya menemukan dirinya.tepat saat usia Bill dua puluh tahun.
semenjak itu,ia pun di rawat oleh sang bibi.
awalnya Bill merasa sangat bahagia.ia akhirnya kini punya keluarga yang sesungguhnya.ia merasa menemukan kembali orang tua,dari sosok bibi dan pamannya.tapi, nyatanya Bill justru harus mendapatkan kenyataan pahit.sang paman ternyata adalah seorang pengangguran.ia hanya menghabiskan hari harinya dengan duduk di bar sambil ngobrol tak tentu arah bersama teman teman sejawatnya.
sesekali ia bekerja paruh waktu sebagai pelayan di bar itu.tapi sayang,itu hanya ia lakukan jika ia sedang ingin bekerja saja.
hal itu terpaksa membuat sang bibi harus ikut banting tulang demi menyambung hidup.
Bill sendiri tak bisa banyak membantu,upahnya sebagai karyawan toko serba ada hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja.
kondisi ekonomi yang sulit itu serta ditambah tabiat buruk sang paman,membuat rumah tangga bibi dan paman Bill sering dilanda pertengkaran.
mendapati kenyataan yang tak sesuai harapan itu, seringkali membuat Bill merasa jenuh dan frustasi.
****
jalanan kota yang ramai.
malam yang telah hadir membawa serta angin yang berhembus dengan lembut,namun memiliki hawa yang cukup dingin menusuk.
Bill Cornor berjalan menyusuri trotoar yang mulai ramai oleh para pejalan kaki dengan tujuan masing masing.
ia berjalan dengan langkah yang lesu.
saat saat seperti ini adalah hal yang paling ia benci.
pulang kerja,kembali ke rumah.
karena ia tahu,pemandangan yang buruk pasti sudah menantinya di rumah.
"ah...malas sekali rasanya aku...".
batin Bill.
ia masih terus berjalan.halte bus tempat ia biasa menunggu bus yang akan membawanya pulang ke rumah sang bibi sudah mulai nampak.
dibawah cahaya lampu yang menyinari,tampak di halte itu sudah ada beberapa orang yang juga sedang menunggu bus.
Bill mempercepat langkahnya.
meski rasa malas untuk pulang selalu ada di pikirannya,namun rasa letih yang menggelayuti tubuhnya ternyata cukup ampuh untuk mengusir rasa malas itu.
ia ingin segera sampai di rumah.ia ingin segera membaringkan tubuhnya,dan tidur dengan pulas.
nasib beruntung rupanya sedang menghampiri Bill.baru saja sampai di halte,bus yang mengarah ke tempat tujuannya langsung tiba.
dengan cekatan ia segera masuk kedalam bus yang ternyata sudah terisi setengahnya oleh para penumpang.
Bill duduk sambil menyandarkan kepalanya pada kursi bus yang tidak empuk lagi.
kedua bola matanya ia coba pejamkan.berharap rasa lelah yang ada akan sedikit hilang dari pandangannya.walau itu mungkin hanya untuk sesaat saja.
ia tak perduli.
****
Rumah bibi Joanna.
"hei!kau pikir aku senang hidup denganmu?!".
"kau enak enakan minum di bar,ngobrol dengan teman teman gi**mu itu,sedang aku harus banting tulang jadi tukang cuci piring...!!".
"lelaki macam apa kau ini....!".
"apa kau bilang?!".
"prakkk!!...".
suara benda yang dibanting ke lantai terdengar menggema di seisi ruangan.
Bill terpaku dengan pemandangan yang menyambut kedatangannya itu.
sesuatu yang sebenarnya sudah ia duga,dan juga sudah menjadi rutinitas penglihatan dan pendengarannya selama lima tahun ini.namun begitu,tetap saja setiap kali ia menyaksikan hal itu,hatinya selalu tersayat.
nelangsa bercampur amarah.
ia masih berdiri terpaku di ambang pintu.
untuk sesaat tak ada yang menyadari kehadirannya.sang bibi,Joanna dan suaminya,Max Philips terus bertengkar.mereka saling mengeluarkan kata kata kasar,menyumpahi satu sama lain.seolah pernikahan mereka akan berakhir detik itu juga.
Bill menatap nanar pada dua orang manusia yang ia miliki saat ini.
tak ada lagi orang terdekat yang ia miliki selain mereka berdua.
meski harus hidup dengan drama drama menyayat emosi itu,namun Bill tak punya pilihan.
meski sebenarnya ia bisa saja pergi dari rumah itu,dan hidup secara mandiri.karena ia pun sudah memiliki penghasilan yang pasti cukup untuk membiayai hidupnya.
tapi,ia tak sampai hati membiarkan sang bibi sendiri.
ia takut jika sang paman akan berbuat di luar batas jika sampai ia jauh dari bibinya itu.
itulah sebabnya Bill memilih untuk tetap bertahan,demi untuk bisa terus menjaga sang bibi,meski tidak sepenuhnya.setidaknya ada waktu dimana ia berada dekat dengan orang yang menyayanginya itu.
****