Rumah bibi Joanna.
lama kelamaan menyaksikan tontonan yang miris itu,Bill tak tahan juga.pemuda berparas tampan itu tak sanggup menahan rasa sedih sekaligus marah.
ia kemudian menutup pintu dengan agak keras supaya kehadirannya akan di sadari oleh dua orang yang sedang beradu argument itu.
"krekk!!".
suara pintu yang tertutup dengan paksa.
"Bill??!".
bibi Joanna menoleh ke arah pintu.
usaha Bill ternyata tidak sia sia.untuk sejenak paman dan bibinya itu menghentikan pertengkaran mereka.
melihat Bill datang,bibi Joanna langsung menyambutnya.ia bergegas beranjak dari posisinya.dan dengan segera menghampiri sang keponakan.sementara Max,sang suami memilih tetap duduk di sofa usang di sudut ruang tamu itu.
"kau sudah pulang sayang?".
sambut bibi Joanna ramah.seolah olah tidak sedang terjadi sesuatu padanya.
"iya Bi...!".
jawab Bill,datar.
ia berjalan menuju ruang tamu yang hanya di isi oleh satu set sofa kulit yang usang,dan sebuah lemari kaca yang hanya di isi oleh sebuah televisi berukuran sedang,dan beberapa barang kecil lainnya.
"duduklah!kau pasti lelah..kemarin malam kau tak pulang...".
ucap bibi Joanna.
sedang Bill hanya terdiam.ia masih mematung di tempatnya.seolah kakinya begitu berat untuk ia gerakkan.
"hei Bill!bibi mu selalu saja memarahiku...".
tiba tiba paman Max bersuara.
"dia selalu menganggap aku salah..".
"hei!kau!diamlah.kau tak lihat keponakan ku ini baru pulang?!".
"biarkan dia istirahat dulu!...dia capek bekerja seharian.!..memangnya kau..".
bibi Joanna emosi.
"apa maksudmu?!".
paman Max ikut emosi mendengar ucapan istrinya.
"apalagi?!".
"apa harus ku ulangi setiap ucapan ku agar kau paham?!".
bibi Joanna berbicara dengan nada suara yang tinggi.
"ahh!!".
"perset**!!".
"dasar wanita Kon**!".
paman Max bangkit dari tempat duduknya,dan dengan segera pria bertubuh jangkung itu berlalu dari hadapan sang istri dan juga Bill.
"pergi!pergi sana!".
"aku muak melihatmu!..".
sumpah serapah terlontar dari mulut bibi Joanna.
sementara paman Max terus berlalu tanpa memperdulikan ocehan sang istri.
"duarr!!.".
terdengar suara pintu yang dibanting dengan keras oleh paman Max.
"hei!dasar gi**!!".
sumpah bibi Joanna.
"sudahlah bi!".
Bill mencoba membujuk bibinya.
ia merangkul tubuh kurus dengan penampilan yang agak semrawut itu.
bibi Joanna menangis tersedu di pelukan Bill.
wanita muda itu mencoba meluapkan segala kegundahan di hatinya.
ia bersyukur memilki seorang Bill Cornor saat ini.sebagai satu satunya keluarga yang ia miliki.
"pamanmu itu keterlaluan..".
ucap bibi Joanna dengan suara parau menahan tangis.
"sudahlah bi..biarkan dia pergi..".
"yah..tentu.kalau dia pergi itu akan lebih baik...".
"dia tidak akan menggangguku dengan ocehan kosongnya itu,setidaknya satu dua hari ini aku bisa sedikit tenang...".
bibi Joanna melepaskan dirinya dari pelukan Bill.
dengan segera ia mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Bill menatap iba pada sang bibi.
semenjak ia ikut bersama sang bibi dan pamannya, Bill sering menyaksikan mereka bertengkar.
namun Bill tak bisa berbuat banyak.bukan ia tak ingin,ia dahulu sudah pernah mencoba untuk memberi saran pada bibinya untuk pergi bersamanya dan meninggalkan pria pemabuk itu.
tapi,sang bibi menolak.
"pamanmu memang pria yang pay** Bill,tapi...bibi tak bisa hidup tanpa dirinya.bibi tak tau harus bagaimana jika harus berpisah darinya...".
"hanya dia pria yang bisa menerima bibi...".
ucap sang bibi saat itu,ketika ia bertengkar hebat dengan suaminya,dan Bill yang tak tahan berniat mengajak bibi Joanna pergi dari rumah itu.namun bibi Joanna menolak dengan alasan itu.
semenjak itu, Bill tak pernah lagi berusaha untuk mencampuri kehidupan pribadi sang bibi.
di setiap ada masalah yang terjadi antara bibi dan pamannya itu, Bill hanya mencoba untuk selalu ada di sisi sang bibi.
Bill akan memastikan untuk selalu menjaga sang bibi dari segala kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi saat paman dan bibinya itu bertengkar.
Bill akan selalu memastikan mereka berdua bertengkar dalam batasan yang wajar.
dan hanya itu yang bisa ia lakukan untuk sekarang dan entah sampai kapan.
****
"e...maaf..".
bibi Joanna jadi merasa tidak enak.ia buru buru duduk kembali di posisi sebelumnya.
"ka..kau...mandilah dulu sana!".
"setelah itu..kau makan yah?!".
"tadi pemilik restoran tempat bibi bekerja memberi bibi pasta dan beberapa potong ayam panggang...".
"bibi akan hangatkan dulu.lalu kau makan ya?!".
ucap bibi Joanna yang mencoba mencairkan lagi suasana yang sempat membeku.
"tidak bibi...!".
"kau tak perlu melakukan itu semua,sudahlah istirahat saja bi...!".
ucap Bill yang tak tega melihat kondisi sang bibi yang terlihat agak kacau itu.
"its okay.!.I am fine..".
ucap bibi Joanna dengan senyum kecut di bibirnya.
"tidak bibi..!".
"aku sudah makan,tadi Marco mentraktirku...".
dusta bill.ia tak ingin menambah beban bibinya yang sedang tak baik baik saja itu.
"kau berbohong?!".
"tidak bi!sungguh,Marco sedang baik hati sepertinya,dia mengajakku makan tadi..".
lanjut bill.mencoba meyakinkan sang bibi dengan alasan dusta nya itu.
"huhhff...".
hembusan nafas yang berat terdengar keluar dari mulut bibi Joanna.
perempuan yang sebenarnya berparas ayu itu terlihat kusut.
tampilannya akan kadarnya,bahkan fisiknya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.
ia memang letih.
letih karena harus bekerja setiap hari demi membiayai kehidupannya.belum lagi di tambah harus menghadapi kelakuan sang suami yang tak beres itu.
"bi,maaf,aku..aku akan kembali ke toko...".
suara Bill memecah keheningan yang sempat tercipta sesaat tadi.
"ke toko??".
"iya".
"tapi ini sudah malam Bill?".
"e..aku baru ingat ada sesuatu yang tertinggal di sana...".
lagi lagi Bill berdusta.
"kau hubungi saja Marco atau Edy,minta mereka membawa barang itu untukmu..".
"e..ti...tidak bi!aku menaruhnya di tempat yang sulit di cari...".
"kau bisa cari lagi esok Bill...".
"sebaiknya kau istirahat...".
bibi Joanna melarang Bill.
Bill mulai panik.
ia mulai mencari alasan agar bibinya mengizinkan ia untuk pergi.
"aku tidak akan lama bi, percayalah!".
"huh..!".
"baiklah,kau pergilah,tapi hati hati sayang...".
ucap bibi Joanna sambil mengelus lembut kepala keponakannya itu.
Bill lega.
akhirnya ia berkesempatan untuk keluar dari rumah itu.
meski sebenarnya bukan untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di toko seperti yang ia katakan pada bibi Joanna.
Bill ingin pergi entah kemana.terkhusus untuk malam ini.
pertengkaran yang baru saja terjadi antara bibi dan pamannya,membuat ia gelisah.batinnya merasa sedih.itulah sebabnya ia ingin pergi untuk menenangkan diri,sekaligus memberi ruang pada bibi Joanna untuk menenangkan diri pula.
karena seperti yang sering terjadi,setiap habis bertengkar bibi Joanna akan masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi jadinya.
mungkin itu caranya untuk melampiaskan segala kekesalan di dalam hatinya.
tapi,setelah melakukan hal itu biasanya bibi Joanna akan terlihat lebih baik.
Bill selalu tak sanggup untuk mendengar tangis yang keluar dari bibir bibi Joanna.batinnya teriris.lantaran ia hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apapun untuk membantu sang bibi.itulah alasan yang membuat ia memilih untuk pergi.
sementara itu paman Max akan pergi dari rumah jika mereka bertengkar.dan ia baru akan kembali keesokan harinya,atau bahkan dua tiga hari kemudian.
entah kemana ia pergi.sepengetahuan Bill,bibi Joanna tak pernah terlihat menghubunginya atau mencarinya.mungkin karena sudah yakin kalau suaminya itu pasti kembali.
dan benar saja,paman Max memang selalu kembali.dan saat ia kembali, keadaan akan kembali juga seperti biasa.seperti saat mereka belum bertengkar.
setelah mendapat izin, Bill bergegas pergi meninggalkan bibi Joanna yang masih duduk terdiam di sofa usang ruang tamu.
"hati hati Bill..!".
ucap bibi Joanna saat Bill menutup pintu rumah.
sejurus kemudian suasana di rumah itu kembali hening.
****