"ya tinggal nikah aja kak, apa susahnya sih"
"Lo tu ya"...belum lagi Rio menyelesaikan kata-katanya pelayan datang membawakan pesanan Meraka
"silahkan kakak makannya, ayam bakar dua, minumnya es jeruk dan es teh ya kak, selamat menikmati"
"terimakasih mbak" balas Rara
"ayo kak di makan" titah Rara pada Rio
"harusnya gue yang bilang gitu"
"hahahaha, iya ya, ya udah sih kak tinggal makan aja"
"iya dimana"
"Ra..."
"hemmmm"
"Lo dah punya pacar belum"
"udah dong, kenapa memang?"
"gak papa, kali aja belum"
"kak Rio suka sama Rara ya, hayo ngaku" canda Rara membuat Rio tersedak
"aduh kak maaf, minum kak" Rara memberikan minumannya pada Rio
"ahhh...lega, lho Ra ini kan minuman kamu"
"ya udah sih kak, gak papa" lalu Rara mengambil es tehnya dan di minumnya
"Ra, itu bekas gue, Lo pesen aja lagi"
"males ah kak, keburu haus Rara"
"dih ni bocah, Lo gak jijik apa bekas gue"
"kak Rio gak penyakitan kan"
"maksud Lo"
"ya kan kalo penyakitan Rara bisa ketularan kak"
"sial Lo"
"hahahhahah, nih ngambek, becanda kak" dan mereka makan dengan becanda.
"eh BTW gak salah lihat kan ini aku kak'
"maksudnya"
"ya tumben aja bisa becanda sama kak Rio, biasanya Rara serem kalo liat kak Rio"
"emang se serem itu ya Ra"
"kakak gak pernah ngaca"
"ngaca gue, ganteng"
"baahahha, kak Rio kepedean"
"ya harus dong, dah selesai belum makannya, balik yuk nih Aris udah wa."
"siap" Rio membayar dan Rara menunggu di luar
*****
"Lo kan pacarnya Rio" gadis cantik tadi menarik rambut Rara
"aduh mbak, sakit, Rara bukan pacar kak Rio"
"peringatan ya buat Lo, jangan deket-deket lagi ma Rio, ngerti Lo" Eca semakin kuat menarik rambut Rara
"aduh..sakit"
"apa-apaan nih" Rio menarik tangan Eca hingga melepas rambut Rara dan melepaskan dengan kasar
"Lo gak papa Ra? Rara mengelus kepalanya yang sakit
"gak kak, udah tuk balik"
"ca gue bilang ma Lo ya, jangan pernah Lo gangguan Rara, karena bakal berurusan ma gue, paham Lo"
"Rio....."
"ayo Ra" Rio membukakan pintu untuk Rara
"terimakasih kasih kak"
sepanjang jalan kembali hening, seperti awal mereka bertemu, dimana Rio yang hangat tadi, apakah sudah pergi.
******
"lama banget sih Lo Ra" gerutu Nina
"iya makan dulu tadi, kak Rio lapar"
"apa??makan?kalian pacaran?
"ih Nina, masak hanya orang pacaran yang boleh makan bareng"
"gak juga sih" kemudian Rara menceritakan kejadian yang membuatnya kesal tadi.
"jadi kak Rio sudah punya pacar"
"bukan pacar Nina, cewek yang mananya Eca suka ma kak Rio"
"terus kamu gimana"
"maksudnya apa nin, aku cerita kak Rio nih bukan tentang aku"
"emang kak Rio gak bilang apa-apa gitu ma kamu?"
"bilanglah, masak iya kita diem-dieman"
"dia bilang apa"
"dia tanya aku sudah punya pacar apa belum?
"terus kamu bilang apa?"
"udah" dengan wajah polosnya
"Rara kok bilang gitu sih"
"maksudnya apa sih nin"
"emmm... sebenarnya kak Rio tanya sama aku, kamu sudah punya pacar apa belum"
"terus?"
"aku bilang belum, makanya tadi dia sendiri sebenarnya yang minta jemput kamu"
"kok bisa?" dengan wajah tak percaya pada Nina
"sorry Ra"
"aku lihat kak Rio beneran suka sama kamu"
"tapi kok kamu gak bilang Nin"
"takut kamu marah Ra?"
"dan sekarang aku harus seneng gitu"
"Ra... maaf" Rara tidak menggubris dan meninggalkan kamar Nina.
Rara masuk ke kamarnya dan menguncinya "ini pasti ada kesalahan, kak Rio gak mungkinkan suka ma aku" batin Rara
"masak karma secepat itu, baru saja berdoa jangan sampai punya pacar kayak dia, tapi kenapa kak Rio suka sama aku sih" batin Rara berkecamuk, semua tentang Rio ya Ario brahmana.
POV RARA END
"aku tidak peduli sayang, tidak peduli siapa Ario, aku mau kamu tidak jauh dari aku" ucap yoga dengan memeluk Rara
"kenapa harus aku ga"
"ya karena itu kamu, kamu yang aku mau"
"sulit ga"
"apa masih ada Ario di dalam sini" yoga menunjuk d**a Rara
"iya, masih dia yang membawa mahkota itu, aku belum bisa melepasnya begitu saja"
"aku akan membuatnya lepas tanpa kamu sadari"
"ga ... semua tidak bisa di paksa"
"aku tidak memaksa, namun aku akan berusaha selalu ada buat kamu, asaaall..."
"asal apa" tanya Rara dengan menatap Yoga
"asal kamu mengijinkan"
"apa kamu mau mencoba"
"pasti...."
"aku akan menyisihkan sedikit tempat untukmu, tergantung seberapa kuatnya kamu menyingkirkan pemegang mahkota itu"
.
.
.
bersambung