"Ada beberapa hal didunia ini yang kita tidak perlu ketahui, karena bila kita memaksa untuk mengetahuinya, sesuatu akan terjadi kepada kita"
"Apa yang sedang kau baca?" Pemuda bersurai pirang dengan flek-flek hitam diwajahnya bertanya dihadapan ku, namanya Jhonny Allen.
"Kau lihat aku sedang membaca apa?" Tanyaku balik dengan nada ketus yang tidak aku sembunyikan.
Jhonny memutar matanya kesal, "Novel" tetapi cowok itu masih menjawab pertanyaanku.
"Kalau sudah tahu, kau tidak usah bertanya hal yang tidak berguna, kau hanya membuat polusi suara semakin bertambah" balasku lagi. Moodku saat ini tidak mengijinkanku untuk melanjutkan membaca buku. Sialan.
"Hei hei, calm down girl, kau selalu saja ketus Angela, tidak seperti namamu, kau lebih mirip medusa"
Jhonny Allen, sudah kukatakan perawakannya? Bersurai pirang, memiliki flek-flek hitam diwajahnya, tinggi 165 cm (yang mana merupakan cowok terpendek sesekolahan), anak orang kaya dan tampang diatas rata-rata, namun dia memiliki mulut menyebalkan dan aku harus tahu sebenarnya apa yang ibunya makan saat mengandung seorang Jhonny Allen?
"Berhenti menambah kekesalanku Allen, atau kupukul kau menggunakan novel ini" ancamku serius.
Oh ya aku lupa mengenalkan diriku pada kalian, perkenalkan namaku Hannah Montana, 10 tahun lalu sebelum ibuku menggantinya menjadi Angela Merkel. Aku memiliki surai merah kembang dan juga memiliki flek-flek hitam di wajahku yang putih pucat. Tinggiku 160 cm (yang mana merupakan cewek terpendek sesekolahan), sederhana dan tampang diatas rata-rata. Aku tahu, aku tahu, ibuku berkata aku cantik, cantik sekali seperti dirinya 23 tahun lalu.
Aku juga memiliki mulut menyebalkan, serta memiliki berat badan menggiurkan bila ditukar menjadi emas, dengan tinggi 155cm aku memiliki tubuh seberat 80kg. Bulat sekali, itulah mengapa aku bersedia menjadi bantal hidup bagi Jhonny bila ia ingin memeluk sesuatu, dia membayarku satu dollar per satu menit pelukan btw. Sudah kubilang dia kaya raya.
"Lihat itu, Marcelline si perlek sekolah, tas Chanel siapa yang ia curi kali ini?" Kan sudah kubilang, Jhonny memiliki mulut yang menyebalkan, melebihi mulut gembel.
"Jhon, berhentilah untuk menggosipi orang lain, mengapa kau begitu julid? Mungkin saja dia membelinya kan?" Aku menutupi sebagian wajahku dengan mata curi-curi pandang melirik Marcelline. Astaga, itukan tas Chanel terbaru bulan ini yang kulihat di majalah fashionn Jhonny. Harganya saja kurang lebih $945 dollar, gilaaa, kalau itu uangku, itu sudah mencukupi jajanku hqmpir tiga bulan lebih!
Jhonny langsung memberikan laser tak terlihat kepadaku, padahal bulu mata palsunya begitu tebal, namun mengapa pria itu bisa melebarkan matanya begitu bulat ya.
"Berhenti memanggilku Jhonny, Merkel. Panggil aku Allen, Allena, no Jhon, Jhonny or something like that!" desis pria muda kelebihan hormon progesteron dan estrogen.
"Okay okay, i forget, sorry" aku tidak ikhlas meminta maaf sebenarnya.
"Aku sudah katakan padamu sebelumnya, dia itu simpanan om om! Ayam kampus! Dia itu menjajakan selangkangannya untuk pria tua kaya hidung belang di luar sana, Merkel!" Jhonny berkata dengan nada berapi-api. Maaf untuk mulut kasarnya yang kurang di semir itu.
"Apa bedanya denganmu yang mau saja memberikan bokongmu untuk Brad Pit bila ia memintamu?" Tanyaku sinis.
"Itu berbeda, aku, Allen Allena mau memberikan bokongku pada om om gagah, kaya, sexy, tampan dan terlebih dia itu artis! Ar-tis! Aku tidak menyesal bila keperjakaanku diambil olehnya" Allen memberikan smirk menjijikkannya padaku sebelum berjalan lebih dulu.
Kurang ajar, jika saja ia bukan teman baikku dari Elementary school sudah kujambak dia dan kami akan bergelut dan mengakhiri pertemanan 11 tahun yang sia-sia ini.
Langkah kakinya perlahan mulai melambat menantiku menyusulnya, ia memberikanku sekotak s**u coklat less sugar yang ia beli tadi dan melirikku yang sudah terengah-engah tak berdaya.
"Kau harus diet Merkel, atau kau akan mati obesitas" Sumpah ya, Jhonny itu adalah teman toxic paling menyebalkan sejagat raya.
"Kau tidak lihat seberapa besar perjuanganku diet hingga aku masuk rumah sakit? Aku tidak mau lagi melihatmu mendramatisir keadaan di lobby rumah sakit karena keadaanku" aku tidak mengada-ada saat mengatakan ini. Saat ia tahu aku masuk rumah sakit, ia langsung pergi dengan baju piama pink sutranya. Menangis, membiarkan maskaranya luntur hingga mirip seperti hantu dan berteriak: "Merkel! Merkel!" Dengan lantang di sepanjang perjalanan. Jika saja suster rumah sakit tidak tanggap memberi tahu ruanganku padanya, sudah kupastikan ia akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
Jhonny cemberut mendengar perkataanku, "Itu bukan diet Merkel, itu penyiksaan, diet yang sehat itu bukanlah menahan lapar atau tidak makan, tetapi mengurangi porsi makanan, protein yang masuk serta olahraga, kau harus mengatur defisit kalorimu!!" penjelasan cowok itu membuatku moodku yang membaik malah memburuk kembali.
"Aku akan diet" jedaku, Jhonny terlihat tersenyum lebar, "Jika ada cowok yang mampu membuatku ingin diet karenanya" dan pria itu menggeram marah.
"Katakan padaku siapa yang mampu membuatmu jatuh cinta kecuali dua dimensi? Siapa?!" Ugh... Maaf-maaf saja jika aku seorang wibu.
"Aku mana tahu! Lagian aku tidak perlu mencari seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta, karena pasti suatu saat aku akan bertemu dengannya, dengan atau tanpa usahaku dia akan datang sendiri kehadapanku" ucapku mantab, namun yang kudapat adalah gelak tawa panjang dari pria muda kelebihan hormon progesteron bersurai pirang disampingku ini, dia tertawa sampai tersedak, hmph! Bagus! Tersedaklah sampai mati!
"Mana mungkin... Itu mustahil Angela Merkel, mus-ta-hil! Di dunia ini, di bumi ini, dimana diisi dengan 7 milliar manusia di seluruh penjuru bumi, hampir berapa ratus juta yang mati dalam keadaan jomblo? Kau mau mati sebagai perawan tua? Kau mau mati tanpa merasakan indahnya b******a? Kau mau mati tanpa mencium bibir pria tampan, sexy atau pria yang cintai? Kau mau mati menyedihkan seperti itu???"
Hell??? Apa dia bilang? b******a? Humph, sepertinya aku harus menampar b****g perawannya ini supaya tahu cara berbicara yang sopan.
Aku menatap wajahnya yang menatapku horor 15cm didepanku, "Umm... Aku juga tidak ingin mati menyedihkan seperti itu, tapi maksudku adalah... Tuhan telah mentakdirkan setiap manusia dengan jodohnya, dan aku percaya itu".
"Bah... Kau dan kepercayaan timurmu itu terkadang membuatku jengkel" sindiran itu membuatku benar-benar mendaratkan novel tebalku ke bibir ranumnya.
"Mati kau ke neraka, homo kurang ajar" aku memaki sebelum berlari kencang meninggalkannya. Kalau aku berjalan bisa-bisa dia benar-benar akan membalasku dan kami benar-benar akan bergelut, saling mencaci maki dan mengakhiri pertemanan kami hari ini juga.
Tega-teganya cowok progesteron itu mengatakan hal itu padaku, aku sih tidak sakit hati, aku hanya kesal dengan mulut lemas busuk yang Tuhan hadiahkan pada Jhon. Memangnya mengapa jika prinsip hidupku naif? Dia sendiri yang pernah bilang, cinta lah yang menentukan kemana ia akan berlabuh, saat pertama kali dia mengakui secara terang-terangan dia jatuh cinta pada Brad Pit dan menghomokan diri.
Tapi dia juga yang mengejek prinsip hidup naifku! Maksudku hey! Maaf-maaf saja jika ayahku yang seorang asia menanamkan hal itu padaku. Yah memang aku campuran asia kanada, wajahku benar-benar kanada dengan badan mungil asia. Tidak seperti kakak-kakak ku yang punya campuran eksotis, aku bahkan sempat dibilang anak pungut yang diambil dari tong sampah.
Damn. Emosiku semakin buruk saja setiap menitnya!!![]