Saat ini...
Hanya lima anak tangga lagi Evan akan sampai ke tempat si topeng merah, yang kini berdiri di pintu darurat lantai sembilan. Akan tetapi, Evan memilih untuk berdiam diri dengan pandangan yang terus menghunjami orang bertopeng itu. Sebisa mungkin, Evan ingin mengindari kontak fisik. Kondisi tubuhnya sekarang benar-benar buruk.
“Cepat,” kata Evan tak sabar. Ia sudah lebih dari tiga menit menunggu.
Tanpa bersuara, si topeng merah membuka pintu darurat itu secara perlahan. Evan tak langsung melangkah. Ia menunggu si topeng merah memasuki pintu.
Begitu si topeng merah masuk, Evan bergegas mendekati pintu itu. Namun, kakinya membeku ketika sudah melewati tangga yang tersisa. Air matanya sudah tak bisa dibendung dan mulai jatuh. Hatinya seperti sedang dirajam oleh ribuan batu. Ia melihat kekasihnya di ujung lorong.
Tangan gadis itu diikat ke atas menggunakan tali yang ujungnya tergantung di langit langit. Kakinya hampir tak menyentuh tanah. Matanya tertutup rapat, layaknya orang yang sedang tidur. Lebam di wajahnya masih terlihat dengan jelas, tetapi luka di kakinya sudah diperban dengan baik.
“RETHA!!!” pekik Evan sekuat tenaga, kedua kakinya mulai berlari maju. Namun, kekasihnya itu tak memberi respon. Saat itu juga, rasa takut langsung memenuhi setiap sudut hatinya.
Kamu tidak boleh mati, Tha!
Si topeng merah mendekati Retha, lalu mengusap pipi gadis itu secara perlahan
BUG!
Kepalan tangan si topeng merah menghantam perut Retha dengan sangat keras. Gadis itu pun langsung membelalakkan mata dan terbatuk-batuk.
Seharusnya Evan merasa lega melihat kekasihnya itu masih bernyawa, tapi akal sehatnya lenyap begitu saja saat melihat perlakuan si topeng merah itu.
“ARRGGGHHH!!!” Evan mengarahkan larinya ke arah si topeng merah. Parangnya teracung ke depan, siap merobek kulit musuhnya itu. Rasa sakit dan letih di tubuhnya seolah musnah. Wajahnya terlihat sangat bengis, bak binatang buas yang kelaparan.
Evan tak ingin air mata kekasihnya itu mengalir lagi.
Si topeng merah berlari menyongsong Evan. Waktu berjalan maju, keduanya terus mendekat. Ketika jarak mereka tinggal setengah meter, Evan mengayunkan parangnya ke leher si topeng merah.
Evan hanya membelah udara kosong. Si topeng merah berhenti sedetik, dan mundur satu langkah tepat pada waktunya. Kemudian, si topeng merah maju setengah langkah sembari mendorong tubuh Evan ke depan dengan sangat kuat. Evan pun jatuh terjengkang dan parang di tangannya tergelincir lepas.
Hanya perlu beberapa detik bagi Evan untuk bangkit dan menghampiri parang yang kini tergeletak di lantai. Tekadnya yang kuat seperti memberinya energi lebih untuk melakukan hal itu.
“ARGH!!!” Evan merasakan remasan tangan si topeng merah di bahu kirinya yang begitu nyeri. Gerakan Evan pun langsung terhenti seketika.
Evan menggeliat-geliat sambil terus berteriak kesakitan, berusaha melepaskan bahunya dari tangan si topeng merah. Akan tetapi, si topeng merah malah makin memperkuat cengkeramannya. Akhirnya, Evan pun menangkap punuk si topeng merah.
Dug!
Evan membenturkan keningnya sendiri ke dahi si topeng merah. Cengkeraman di bahu Evan langsung terlepas. Si topeng merah memegangi kepalanya dan menggeram. Evan sedikit terhuyung karena pening akibat efek benturan, tetapi tak perlu waktu lama baginya untuk mengumpulkan kesadaran dan memungut parang.
Sekarang Evan dan si topeng merah berdiri saling berhadapan. d**a keduanya naik turun tak terkendali. Lewat pundak si topeng merah, Evan bisa melihat Retha yang hanya tinggal berjarak beberapa meter.
“Van... To... long...” Erang Retha.
Napas Evan semakin memburu. Detak jantungnya menjadi begitu liar. Ia kembali melesat maju, berniat membelah kepala si topeng merah. Namun, hanya terdengar bunyi gesekan beruntun antara udara dan parang. Evan mengayun-ayunkan parangnya itu dengan tak beraturan, sehingga si topeng merah bisa mengelak dengan mudah.
Si topeng merah terus menghindar sambil berjalan mundur, menggiring Evan mendekati tumpukan benda-benda yang menutupi persimpangan di tengah lorong.
Jleb!
Parang Evan menancap di sebuah kantong plastik besar yang menajdi bagian dari tumpukan itu. Si topeng merah berhasil menghindari serangan Evan dengan sedikit menggeser tubuhnya. Evan melirik si topeng merah untuk sebentar, lalu menggerakan parangnya ke kepala musuhnya itu.
Sraaak!
Parang itu membelah kantong-kantong plastik yang lain. Berbagai jenis sampah pun langsung berhamburan keluar.
Tak!
Si topeng merah sudah akan menunduk ketika parang itu tertahan di sebuah lemari dapur yang ada di tumpukan.
“b******n!” umpat Evan, berusaha menarik parangnya.
Sekonyong-konyong si topeng merah menjebloskan kepala Evan ke robekan di kantung sampah
“Blergh!” Hidung Evan kesulitan menghirup oksigen dan dipenuhi bau tak sedap. Ia berusaha menarik kepalanya, tapi si topeng merah justru membenamkannya semakin kuat.
Si topeng merah mencabut parang, lalu melepaskan kepala Evan dan berlari menjauh. Evan pun langsung mengangkat kepalanya dan menarik napas sangat panjang seperti orang yang baru menyelam.
Krak...Krak...Krak!
Evan mendongak dan mendapati tumpukan di depannya itu mulai bergetar-getar. Tanpa pikir panjang, ia pun melesatkan kakinya sembari melindungi kepalanya dengan kedua tangan.
BRUGGHH!!!
Evan bisa merasakan benda-benda menjatuhi dirinya saat tumpukan itu runtuh. Untungnya, tak ada yang membuat tubuhnya terluka.
Setelah mengatur napas sambil memegangi lutut, Evan pun menengok ke belakang. Ia memandangi benda-benda yang berantakan mengotori lorong untuk sejenak, baru kemudian mengarahkan wajahnya ke depan lagi.
Jantung Evan seperti disengat aliran listrik. Indra penglihatanya membuka begitu lebar begitu mendapati mata parang yang hanya berjarak lima senti dari keningnya.
Tubuh Evan mulai gemetaran.
“Hmph... Hmph...Hmph! Hmph! HMPH!” Bukannya menyerang, si topeng merah malah membungkuk sembari memegangi perut. Tubuhnya berguncang-guncang, layaknya orang yang sedang tergelak-gelak.
Evan tetap bergeming di tempatnya karena kebingungan. Si topeng merah mundur dengan terus melakukan perbuatan aneh itu. Parang yang sebentar lagi membelah kepala itu Evan pun ikut menjauh.
Klang!
Si topeng merah menjatuhkan parangnya. Guncangan di tubuhnya bertambah hebat. Suara geraman tertahan dari mulutnya terdengar makin nyaring.
Dahi Evan mengernyit. Ia baru sadar, sedari tadi inisiatif menyerang si topeng merah ini sangat minim. Musuh Evan itu hanya melancarkan serangan balik, itupun tidak mematikan. Bahkan sekarang si topeng merah tak memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menghabisi Evan.
Merasa dipermainkan, Evan pun mengepalkan kedua telapak tangannya dengan begitu keras. Rasa murka dalam hatinya mulai meluap-luap. Urat di lehernya terlihat berkedut karena begitu tegang. Tanpa berpikir lagi, ia pun memungut parang yang ada di di lantai dan kembali berlari menghampiri orang bertopeng itu.
Si topeng merah berbalik, dan ikut berlari sembari merentangkan tangan ke arah Retha. Seakan ia ingin memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Retha yang melihatnya cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala ketakutan.
“TUNGGU b*****t!” umpat Evan dengan suara begitu keras sampai bergema memenuhi lorong.
Alih-alih mendekap tubuh gadis itu, si topeng merah malah berbelok ke salah satu ruangan. Evan pun ikut masuk ke ruangan tersebut.