Evan kembali mandapati ruangan yang mirip dengan yang sudah-sudah. Hanya saja, di salah satu dinding ruangan terdapat layar-layar lcd yang menyala. Akan tetapi, Evan tak menghiraukan hal itu. Ia kembali mengayun-ayunkan parangnya seperti orang gila, padahal jarak si topeng merah cukup jauh.
Ketika sudah mencapai rangkaian layar lcd, si topeng merah mengambil kursi lipat besi di situ, lalu melemparkannya sekuat tenaga.
Dug!
“Ugh!” Secara reflek, Evan membuang parangnya ke lantai dan memegangi pelipis kanannya, yang kini dijangkiti rasa nyeri karena terhantam kursi lipat itu.
Saat mengecek telapak tangan yang digunakan untuk menutupi pelipisnya, Evan melihat lapisan darah segar. Ia juga terpaksa menutup kelopak mata kanannya, yang terasa begitu perih lantaran teraliri oleh darah.
“ARGHHH!!!” Amarah Evan makin tersulut. Dengan kalap, ia berlari menerjang si topeng merah, dan bruk! Ditabraknya badan musuhnya itu dengan sisa-sisa tenaganya. Tubuh si topeng merah terdorong ke atas meja yang ada di depan rangkaian layar lcd.
BAM!
Bagian belakang kepala si topeng merah membentur salah satu layar lcd, yang langsung padam dan berasap.
Merasa belum puas, Evan pun membentur-benturkan kepala si topeng merah ke layar itu dengan tangan kanannya.
“Argh!” Evan memegangi mata kirinya yang seperti baru saja tersengat sesuatu. Karena tersudut, si topeng merah pun mencolok mata Evan itu dengan jari.
Tanpa membuang waktu, si topeng merah menendang d**a Evan sekuat tenaga. Serangan si topeng merah itu begitu keras, sampai-sampai Evan jatuh berguling ke belakang.
Si topeng merah turun dari meja sambil memegangi kepala. Ia membungkuk sejenak untuk mengatur napas, sebelum akhirnya mendekati Evan dengan langkah agak sempoyongan.
Evan berguling-guling di lantai dengan pelan, menjauhi si topeng merah. Mulutnya berkali-kali mengerang kesakitan saat sebagian bahu kirinya berada di bawah. Namun, si topeng merah jauh lebih cepat, sekarang kakinya sudah berada begitu dekat dengan Evan.
Crass!
Tiba-tiba, si topeng merah terjatuh dan wajah Evan pun terkena cipratan darah.
“HMPH!!!” Si topeng merah memandangi kucuran darah dari luka yang menganga di atas mata kaki kanannya.
Beberapa detik yang lalu, dengan gerakan yang begitu gesit, Evan telah menebas kaki si topeng merah dengan parang. Ya, tujuan Evan berguling-guling bukanlah untuk menghindari si topeng merah, tetapi menghampiri parang yang teronggok di lantai.
“Hihihihi... Uhuk! Hihihi...” Evan terkikik-kikik dengan nada yang aneh. Ia bangkit sembari memegangi dadanya yang sesak karena tendangan si topeng merah tadi.
Meski perih, Evan membelalakkan mata kirinya dengan begitu lebar. Sampai-sampai bola matanya itu terlihat seperti akan meloncat keluar. Bibirnya membentuk cengiran janggal, seolah ia dipaksa untuk melakukannya.
Si topeng merah merayap melewati kaki Evan dengan menggeram kesakitan. Tapi anehnya, Evan hanya mengamati lekat-lekat musuhnya itu dan tak melakukan apa-apa. Tentu saja, kemenangan sudah tergenggam di tangannya. Ia tak perlu repot-repot berjibaku dengan orang bertopeng itu lagi.
Jejak darah memanjang menghiasi lantai. Si topeng merah terus merayap sampai akhirnya bisa keluar dari ruangan.
“AHAHAHAHA!!!” Dengan tawa yang begitu nyaring, Evan menghampiri si topeng merah sembari mengangkat parangnya tinggi-tinggi. Ya, orang yang telah menyakiti Retha ini tak berdaya. Akhirnya Evan mendapatkan kesempatan emas untuk membalas dendam.
“Jangan!”
Evan tercekat dan menoleh ke arah Retha. Tak salah lagi, suara barusan berasal dari mulut kekasih Evan itu.
Perlahan, raut wajah Evan mulai terlihat normal. Tanda bahwa kegilaan dalam hatinya mulai terkikis. Ia kembali memperhatikan si topeng merah yang masih saja merayap.
“Re... Tha? Retha!” Evan pun segera menghampiri kekasihnya itu. Ya, tujuannya bukanlah menghabisi si topeng merah, tapi menyelamatkan Retha. “Kamu nggak apa-apa?”
“A... Aku nggak mau kamu jadi pembunuh,” isak Retha.
Evan pun tersenyum, sekarang dengan tulus, tidak dihiasi dengan kegilaan. Tanpa mengatakan apapun lagi, ia pun memotong tali yang mengikat tangan Retha dengan menggunakan parang.
Retha hampir jatuh terkulai saat tali yang mengikatnya terputus, namun dengan sigap Evan menahannya dengan kedua tangan. Parang yang ada di tangan Evan pun terlepas dan jatuh.
“Ugh!” Evan merasa bahunya seperti sedang ditusuk-tusuk. Namun, baginya rasa sakit seperti ini tak ada artinya. Yang penting, tangannya bisa merasakan tubuh Retha secara nyata.
“Kamu kenapa, Van?” tanya Retha.
“Nggak kenapa-napa kok,” jawab Evan sambil meringis kesakitan.
Tiba-tiba Retha menarik kepala Evan. Lalu, sedetik kemudian bibir mereka pun saling bertemu. Evan membalas ciuman kekasihnya itu dengan pelukan erat. Keduanya pun memejamkan mata, saling mengalirkan kehangatan.
Detik berganti dengan detik, keduanya melepaskan ciuman itu dan saling menyentuhkan kening. Di mulut masing-masing terukir senyum suka cita.
Rasa takut, amarah, serta kesedihan dalam benak Evan telah lenyap tak berbekas. Yang ada dalam dirinya adalah kebahagiaan yang begitu besar. Perjuangannya tak sia-sia. Mimpi buruk ini sudah berakhir, Retha telah kembali ke pelukannya.
Tapi mimpi buruk keluarga Evan mungkin saja belum berakhir. Ia ingin sekali mencari kedua orang tuanya dan Romi dengan segera. Namun, rasa lelah dan sakit di tubuhnya tak bisa dikompromi. Ia tak punya daya untuk melawan orang bertopeng merah lain yang bisa muncul kapan saja.
“Kamu bisa berdiri?” tanya Evan.
Retha mengangguk pelan. Evan pun membantu kekasihnya itu bangkit, lalu memapahnya.
“Enggak usah, aku bisa jalan sendiri kok,” ujar Retha sambil melepaskan tangan Evan dari pundaknya dengan lembut.
“Tapi, kaki kamu kan luka.”
“Nggak dalem kok. Malah kayaknya kondisi kamu lebih parah, deh,” timpal Retha.
Keadaan Evan memang sangat kacau dengan tubuh basah kuyup karena keringat, bahu yang agak turun, napas ngos-ngosan, serta pelipis yang berdarah.
Evan memandangi kekasihnya itu dengan ragu. Kalaupun benar luka di tubuh Retha itu tidak mengkhawatirkan, luka psikologis yang diderita gadis ini pasti akan sangat membekas.
“Aku ini kan nggak dibikin dari kertas, Van,” lanjut Retha sembari memperlihatkan otot lengan kirinya, yang sebenarnya tak terlalu besar.
“Tapi...”
Retha berdecak dan mendorong punggung Evan. “Daripada khawatir sama kondisi aku, lebih baik kamu tanya-tanya sama orang itu, deh. Siapa tahu dia punya info penting.”
Mata Evan tertuju kepada si topeng merah yang sudah merayap cukup jauh. Benar apa kata Retha, Evan bisa mendapatkan kabar tentang keluarganya dari orang itu.
“Oke,” ucap Evan, kemudian mengambil parang yang tadi dibuangnya ke lantai. Dengan parang tersebut, ia bisa merobek topeng yang ada di kepala orang itu.
Evan menghampiri si topeng merah, berjongkok dan meletakkan parangnya ke lantai, baru kemudian menarik tubuh musuhnya itu untuk berbalik.
Dengan gerakan secepat kilat, si topeng merah mengulurkan tangannya ke leher Evan. Dan satu detik kemudian, Evan merasakan setitik rasa ngilu yang menggigit di leher bagian kanannya.
“Ugh!” Evan berusaha menarik tangan si topeng merah itu. Namun, Evan merasa kesulitan lantaran musuhnya itu begitu ngotot. “Arghhh!”
Akhirnya, setelah beberapa detik bergelut, tangan si topeng merah terlepas.
Evan melihat sebuah alat suntik jatuh di dekat kakinya. Ia memegangi lehernya yang sakit dan berniat untuk berdiri, tetapi rasa kantuk yang begitu dahsyat menghalangi tubuhnya untuk bergerak. Kelopak matanya menutup secara otomatis, membuatnya hanya bisa melihat kegelapan pekat.