Dua minggu yang lalu...
“Awas, becek,” ujar Evan sembari menuntun Retha menghindari kubangan air yang cukup besar. Hujan baru reda beberapa saat yang lalu, menyisakan udara yang sangat menusuk kulit. Bahkan Evan yang sudah memakai jaket pun masih saja menggigil kedinginan.
“Mereka jual buat seukuran aku nggak, yah?” Mata Retha tertuju ke salah satu stan yang memajang kaus-kaus untuk anak kecil dengan berbagai gambar kartun. Di depan stan, ada seorang lelaki yang sedang menyablon sebuah nama di atas permukaan salah satu kaus.
Evan terkikik geli. “Kamu kan udah gede.”
Retha mencibir, tetapi tampak tidak serius. Ia dan Evan pun melanjutkan perjalanan sambil terus berpegangan tangan.
Selain stan penjual kaus itu, sepanjang jalur pasar malam Evan mendapati lapak-lapak yang menjual berbagai macam benda: mainan plastik yang catnya sudah mengelupas, kaset-kaset lawas, sandal jepit yang digantung berjejer, sampai lapak yang menjual burung dalam sangkar bambu.
Bau minyak goreng, asap sate, dan tanah basah bercampur jadi satu. Suara musik dangdut dari salah satu stan bersaing dengan teriakan penjual mainan yang menawarkan dagangannya lewat pengeras suara kecil.
“Van, itu.” Retha menarik lengan jaket Evan dan menunjuk sebuah lapak di ujung deretan.
Lapak itu menjual pernak-pernik: gelang, kalung, gantungan kunci. Lampu neon di atasnya berkedip-kedip, membuat barang-barang di bawahnya tampak berkilau lalu redup bergantian.
Retha langsung berjongkok di depan lapak dan mengaduk-aduk kotak berisi gantungan kunci. Evan berdiri di belakangnya, kedua tangan disembunyikan di saku jaket, matanya sesekali menyapu kerumunan.
Kebiasaan baru. Sejak tiga bulan terakhir, Evan tidak pernah lagi bisa berada di keramaian tanpa memeriksa wajah orang-orang di sekitarnya. Mencari tahu siapa yang mengenalinya. Siapa yang sudah membaca berita itu.
“Nih.” Retha bangkit dan menyodorkan sesuatu ke depan wajah Evan.
Sebuah gantungan kunci berbentuk anak panah, berwarna biru, dengan permukaan yang sedikit tergores di bagian ujungnya.
Evan mengernyit. “Kenapa panah?”
“Karena kamu itu kayak panah.” Retha memutar-mutar benda itu di antara jarinya. “Kalau udah dilepas, nggak bisa balik. Cuma bisa maju.”
“Itu pujian atau ejekan?”
“Tergantung kamu ngapain habis ini.” Retha menyeringai dan memasukkan gantungan kunci itu ke saku jaket Evan tanpa menunggu jawaban. “Udah, jangan dibalikin. Aku udah bayar.”
Evan menggenggam benda kecil itu di dalam sakunya. Dingin, ringan, dengan sudut-sudut yang menekan telapak tangannya. Entah kenapa, genggaman itu membuat dadanya terasa sedikit lebih longgar.
“Makasih,” gumam Evan.
“Apa? Nggak kedengeran.”
“Makasih, Retha.”
“Nah gitu.”
Mereka melanjutkan langkah. Retha berjalan setengah meloncat, sesekali berhenti untuk menunjuk sesuatu, sementara Evan mengikuti di sampingnya. Untuk beberapa menit, Evan hampir lupa bahwa hidupnya sudah hancur. Hampir.
Beberapa lapak setelah itu, Evan berhenti sendiri tanpa sadar.
Sebuah lapak kaset bekas. Kotak-kotak kardus berisi kaset pita dan CD tanpa sampul, ditumpuk asal-asalan di atas terpal biru. Di tumpukan paling atas, ada album sebuah band rock lokal yang sampulnya sudah menguning.
Evan mengambilnya.
“Arjuna suka banget ini,” ucapnya pelan. “Sampe kasetnya rusak dua kali gara-gara kebanyakan diputer di mobil.”
Retha tidak menjawab. Gadis itu berdiri di sampingnya, ikut memandangi sampul kaset di tangan Evan.
“Dia selalu bilang lagu nomor empat itu buat aku,” lanjut Evan. Sudut bibirnya naik sedikit, meski matanya tidak ikut. “Padahal liriknya tentang orang yang kabur dari rumah. Nggak nyambung sama sekali.”
“Mungkin dia cuma pengin kamu punya lagu.”
Evan menoleh.
“Orang kayak Arjuna gitu,” kata Retha sambil mengangkat bahu. “Dia nggak pinter ngomong, jadi dia ngasih barang. Kaset, stiker, apa aja. Biar kamu inget dia.”
Evan menatap sampul kaset itu beberapa detik lagi, lalu mengembalikannya ke tumpukan.
“Nggak dibeli?” tanya penjualnya.
“Nggak, Pak. Makasih.”
Mereka berjalan lagi. Kali ini Evan yang lebih dulu menggenggam tangan Retha, bukan sebaliknya.
Tiga bulan. Sudah tiga bulan sejak kecelakaan itu, dan Evan masih belum bisa melewati satu hari penuh tanpa menemukan sesuatu yang mengingatkannya pada Arjuna. Kaset. Bau bensin. Suara mesin motor yang digas terlalu keras di kejauhan.
Retha satu-satunya orang yang tidak pernah menyuruhnya berhenti mengingat.
Sampai seseorang menabrak bahunya.
Bukan tabrakan yang tidak sengaja. Evan tahu bedanya. Bahu itu menghantam bahunya dengan sengaja, cukup keras sampai ia terhuyung setengah langkah.
“Eh, sori.”
Evan menoleh. Seorang lelaki bertubuh besar dengan jaket kulit berdiri di belakangnya, ditemani dua orang lain yang tertawa-tawa kecil. Evan mengenali wajahnya, samar-samar. Satu almamater. Angkatan di bawahnya.
“Loh, ini kan...” Lelaki itu memicingkan mata, lalu tersenyum lebar seolah baru menemukan hadiah. “Evan, ya? Evan yang itu?”
Evan tidak menjawab.
“Berani juga lo keluar rumah.” Lelaki itu melirik Retha dari atas ke bawah, tanpa buru-buru, dengan cara yang membuat perut Evan mengeras. “Ini pacar lo? Hati-hati, Mbak. Cowok ini—”
“Ayo, Van.” Evan merasakan tangan Retha melingkari lengannya.
“Bentar dulu, dong. Gue lagi ngasih tahu dia—”
“Ayo.”
Retha menarik Evan menjauh. Evan menurut. Ia selalu menurut. Tiga bulan terakhir mengajarinya bahwa membalas hanya akan membuat besok lebih buruk daripada hari ini.
Tawa lelaki itu masih terdengar di belakang mereka, bercampur dengan dangdut dan teriakan penjual mainan, sampai akhirnya tenggelam.
Mereka berhenti di ujung pasar malam, di dekat parkiran motor yang becek. Evan menarik napas dalam-dalam, berkali-kali, menunggu tangannya berhenti gemetar.
“Maaf,” ucapnya akhirnya.
Retha menoleh. “Buat apa?”
“Kamu jadi ikut kena.”
“Aku nggak kena apa-apa.”
“Retha—”
“Van.” Retha berhenti berjalan dan berdiri menghadapnya. Cahaya lampu jalan jatuh miring ke wajah gadis itu, menyisakan separuhnya dalam bayangan. “Kamu tahu nggak apa yang aku pikirin barusan?”
Evan menggeleng.
“Aku mikir, orang kayak dia itu nggak akan pernah berhenti sendiri.” Retha mengucapkannya dengan nada biasa. Datar. Seperti sedang membahas cuaca, atau harga bensin. “Dia bakal terus gitu ke kamu, ke orang lain, sampai ada yang bikin dia berhenti.”
Ada sesuatu di suara itu yang membuat bulu kuduk Evan berdiri.
“Retha.”
“Hm?”
“Kamu ngomong apa, sih.”
Retha berkedip. Lalu, secepat datangnya, sesuatu tadi hilang dari wajahnya. Gadis itu tersenyum lebar, senyum yang sudah Evan kenal selama dua tahun, senyum yang selama ini jadi satu-satunya alasan Evan masih mau bangun pagi.
“Nggak ngomong apa-apa.” Retha menggandeng tangannya lagi. “Aku laper. Ayo cari martabak.”
Evan menatap punggung Retha yang berjalan mendahuluinya.
Ia ingin bertanya lagi. Ia ingin memastikan bahwa yang barusan ia dengar hanyalah gurauan, atau kelelahan, atau salah tangkap dari telinganya sendiri.
Tapi Retha sudah berbelok ke arah lapak martabak, sudah menawar harga, sudah tertawa bersama penjualnya. Dan Evan, seperti biasa, memilih untuk tidak bertanya.
Ia meraba saku jaketnya. Gantungan kunci panah itu masih di sana.
Malam itu mereka pulang jam sebelas. Retha mengantar Evan sampai depan pagar, memberi lambaian, lalu menghilang di tikungan.
Rumah masih terang ketika Evan masuk.
Ibunya duduk di ruang tengah, menonton sinetron dengan suara dikecilkan, sementara ayahnya membaca sesuatu di layar ponsel dengan kacamata melorot di hidung. Adiknya, Nayla, tertidur di sofa dengan buku pelajaran terbuka di atas dada.
“Udah pulang?” tanya ibunya tanpa menoleh.
“Udah, Bu.”
“Makan dulu. Ibu masak sop.”
“Udah makan di luar.”
Ayahnya mengangkat kepala. Pandangan mereka bertemu sebentar, dan seperti biasa selama tiga bulan terakhir, ayahnya yang lebih dulu memalingkan muka.
Evan naik ke kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi.
Di atas meja belajar, ia mengeluarkan gantungan kunci panah dari saku jaket dan meletakkannya di bawah lampu. Warna birunya tampak lebih tua di bawah cahaya kuning.
Evan memandanginya lama sekali.
Lalu ia mengaitkannya ke kunci motornya, mematikan lampu, dan tidur.
Empat hari kemudian, di halaman kriminal koran lokal, ada berita tentang seorang lelaki bertubuh besar yang ditemukan tak bernyawa di sebuah gang, tak jauh dari lokasi pasar malam.
Evan membacanya sekilas, merasa ngeri sebentar, lalu membalik halaman.
Ia tidak menghubungkan apa pun.
Belum.