Sekitar satu setengah tahun yang lalu...
Terdengar denting piring beradu dengan garpu dan sendok dari ruang makan di sebuah rumah. Hari ini adalah hari yang sangat spesial. Ayah Evan yang sangat sibuk dengan pekerjaan bisa hadir dan menyantap hidangan malam bersama Evan dan anggota keluarga yang lain. Pada hari-hari biasa, Evan hanya makan bertiga saja dengan ibu dan adiknya. Kadang-kadang malah berdua saja dengan sang adik.
Sebenarnya bukan sosok sang ayah yang membuat hari ini istimewa. Ada suatu sebab yang membuat pria dengan rambut yang mulai beruban dan perut buncit itu menyempatkan diri untuk pulang.
“Maaf nggak sempet buat pesta meriah,” ucap wanita berambut tipis sepanjang bahu yang duduk di sebelah ayah Evan. Ia tak lain adalah ibu Evan. Wajahnya yang minim kerutan di usianya yang sudah melewati kepala empat tampak berseri.
“Tenang, nanti pasti kita rayakan kok,” timpal ayah Evan, lalu terkekeh. “Saudara-saudara sepupumu nggak ada yang punya IP seperti kamu. Ini namanya sukses besar.”
Kebahagiaan dan kebanggaan dalam diri Evan terus membuncah. Senyumnya yang ia pasang sejak sebelum makan jadi semakin lebar. Baru tadi pagi ia melihat nilai-nilai kuliahnya di website kampus. Bahkan ia sendiri tak percaya kalau IP-nya bisa mencapai angka 3,88.
Adik laki-laki Evan yang berambut gondrong sepanjang leher berdiri dan mulai beranjak dari meja makan. Piringnya telah kosong. Sedari tadi ia hanya membisu tanpa ekspresi. Tak ikut merayakan keberhasilan kakaknya.
“Romi, kamu mau kemana?” tanya ayah Evan kepada anak keduanya itu. Biasanya, di keluarga Evan siapapun yang makanannya telah habis akan menunggu sampai yang lain selesai bersantap. Menurut ayah Evan, hal itu akan mempererat tali kekeluargaan.
Romi yang sudah berjalan beberapa meter pun berhenti, lalu menengok kepada ayahnya. ”Belajar.”
“Oh,” jawab ayah Evan pendek.
Ayah dan ibu Evan saling berpandangan dan melemparkan senyum. Evan melihat ke arah Romi dan ikut tersenyum. Alih-alih membalas dengan gerakan yang sama, Romi justru melancarkan lirikan sinis kepada kakaknya itu. Bulu kuduk Evan pun langsung berdiri dibuatnya.
“Tuh, ternyata kamu bisa menginspirasi adikmu,” kata ibu Evan saat Romi sudah mulai melangkah lagi. “Sepertinya sekarang dia sedang mengurus pendaftaran untuk masuk Universitas, deh. Yah, kalau nggak bisa lolos pakai nilai sekolah, dia harus berusaha lewat ujian masuk.”
Evan kembali merentangkan senyum di bibirnya. Ayahnya pun menepuk-nepuk pundaknya dengan bangga.
Lirikan Romi tadi cukup menganggu pikiran Evan. Hubungan mereka sebagai saudara memang tak bisa dibilang dekat. Meski begitu, Evan merasa adiknya itu tak punya cukup alasan untuk membencinya.
***
Keheningan yang canggung menyelimuti ruang tamu. Ayah Evan menancapkan pandangannya kepada Romi yang duduk di hadapannya. Mereka berdua ditemani oleh Evan yang menempati sofa di sisi yang lain, dan ibu Evan yang duduk di sebelah ayah Evan.
Romi menunduk lesu, tak bernyali membalas tatapan ayahnya itu. Seharusnya hari ini adalah hari bersejarah baginya. Sudah satu jam berlalu sejak hasil penerimaan mahasiswa baru diumumkan. Dan kalau melihat tampang Romi yang sedih seperti sekarang ini, jelas sekali kalau hasilnya jauh dari harapan. Tiket masuk universitas favorit lepas dari tangannya. Ini adalah kegagalan keduanya setelah nilai rapor dan ujian nasionalnya tak mencukupi.
“Biarkan kegagalanmu ini jadi pelajaran berharga, Rom,” ujar ayah Evan setelah beberapa menit hanya membisu.
“Romi janji, tahun depan Romi pasti bisa masuk ke salah satu universitas favorit itu, Yah,” sahut Romi sembari mengangkat mukanya.
Ayah Evan menghela napas, guratan kekecewaan terlukis jelas di setiap kerutan wajahnya. Kegagalan anak keduanya ini benar-benar membuatnya terpukul. Baginya, masuk ke universitas yang biasa-biasa saja bukanlah pilihan. Impian yang dimilikinya sekarang, saat usianya sudah lewat kepala lima, adalah melihat anak-anaknya menjadi yang terbaik.
“Ah, terlalu lama, Rom,” desah ayah Evan. “Apa kata orang-orang kalau kamu nganggur setahun. Seharusnya kan kamu langsung bisa masuk dengan mudah seperti kakakmu itu.”
Romi merasakan perutnya seakan dipukul oleh tangan yang tak terlihat.
“Mau gimana lagi, Yah,” sahut sang ibu sembari mengusap-usap punggung suaminya itu.
Mulut Evan tak bersuara. Otaknya tak sanggup menemukan kata-kata yang pas untuk menghadapi situasi ini. Menurutnya, Romi tak bersalah. Adiknya itu pasti sudah berusaha dengan mati-matian. Namun, di saat yang sama, ia merasa segan membantah perkataan ayahnya.
Pandangan ayah Evan tertuju kepada Evan dan istrinya secara bergantian untuk beberapa detik, sebelum akhirnya terarah kepada Romi kembali
“Begini saja, Ayah punya koneksi di salah satu universitas favorit. Siapa tahu dia bisa bantu,” ucapnya dengan nada getir, lalu meninggalkan ruang tamu dengan diikuti istrinya.
Evan menelan ludah sembari memandangi punggung kedua orangtuanya yang mulai menjauh. Kata-kata ayahnya itu benar-benar membuatnya terkejut. Tak pernah terlintas di otaknya kalau ayahnya yang berharga diri tinggi rela melakukan hal curang seperti itu. Atau justru yang mencederai harga diri ayahnya adalah karena Romi tidak bisa menembus universitas ternama?
Tiba-tiba, bulu kuduk Evan berdiri. Pandangannya langsung berpindah kepada Romi yang masih duduk. Ternyata adiknya itu kembali melemparkan lirikan sinis padanya. Bahkan kali ini Evan bisa merasakan aura kebencian. Saat itu juga, Evan mulai bisa menerka alasan Romi menunjukkan sikap antipati seperti itu.
***
Evan menelungkupkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Pikirannya masih saja berkutat kepada lirikan Romi kemarin. Ia ingin tahu alasan Romi, tetapi hatinya sungkan untuk menanyakan hal itu kepada yang bersangkutan. Atau lebih tepatnya malas.
“Kamu kenapa, Van?” tanya pemuda bertubuh agak kerempeng dengan rambut pendek dicat kecokelatan yang duduk di kursi belajar Evan.
“Aku itu harus gimana ngadepin Romi, Jun? Kayaknya dia benci banget deh sama aku.” Evan balik bertanya kepada sahabat karibnya yang bernama Arjuna itu.
“Tumben kamu peduli sama dia. Emangnya kenapa? Kalo menurutku sih, diemin aja dulu, Van,” jawab Arjuna ringan. “Dia itu cuma iri sama keberhasilan kamu. Aku yakin nggak selamanya adikmu itu akan bersikap kekanak-kanakkan kayak gitu.”
“Yah, emang sih,” desah Evan.
Sebenarnya, Evan dan Romi hampir tidak pernah berselisih. Hanya saja, sejak kecil komunikasi mereka sangat minim. Jangankan bermain, mengobrol pun hampir tidak pernah. Hanya sesekali mereka saling berbicara beberapa patah kata, itupun kalau ada sesuatu yang penting. Evan sendiri sudah lupa kapan tepatnya hubungannya dengan sang adik jadi seperti itu.
“Gimana kabar kampus? Nggak ada apa-apa kan?” tanya Arjuna, terdengar ingin mengalihkan pembicaraan.
“Nggak, temen aku semuanya baik-baik kok,” sahut Evan dengan malas.
“Tapi kamu harus tetap waspada, Van. Inget, temen-temen SMA kamu nggak ada yang tulus mau temenan sama kamu, mereka pasti selalu ada mau...”
“Udah berapa kali kamu ngomong kayak gitu?” Evan bangkit dari tempat tidurnya dan menatap Arjuna. “Sekali-kali, aku ingin mempercayai mereka, Jun.”
Arjuna membalas tatapan itu hanya dengan diam. Kendati demikian, Evan bisa melihat sedikit gurat kekhawatiran di wajah sahabat baiknya itu.