Saat ini...
Evan merasa kakinya seperti diganduli sesuatu yang sangat berat saat berjalan keluar dari ruangan. Paru-parunya seperti diremas-remas sehingga kesulitan menghirup udara. Perutnya bergejolak, membuatnya terjangkiti mual
Rasa tak percaya terus menghinggapi hati Evan. Mengapa ia tidak memilih lari saja saat linggis itu tersangkut di papan kayu? Apa yang membuat dirinya begitu beringas saat menghantami orang itu? Insting kah? Perasaan terpepet kah? Evan tak tahu. Yang jelas, setelah melakukan hal itu, benaknya diserang rasa takut yang begitu pekat. Ia sampai tak punya nyali untuk merobek topeng itu dan mengecek siapa pemakainya.
Namun, ada hal yang lebih penting daripada meratapi orang asing. Ya, Retha belum ditemukan. Evan pun membulatkan tekad untuk mencari kekasihnya itu. Kini tangannya kembali menggenggam linggis. Bukan untuk membunuh, tetapi demi menjaga diri.
Evan melemparkan pandangannya lurus ke depan saat berada di luar ruangan. Matanya melihat lorong memanjang dengan lebar sekitar empat meter. Suasananya tak jauh beda dengan ruangan tadi. Berpenerangan remang-remang dengan dinding yang terkelupas di sana-sini, serta lantai keramik yang retak di beberapa tempat. Hanya saja, terdapat pintu-pintu berwarna cokelat pudar yang saling bersebelahan sepanjang lorong. Evan jadi teringat akan kamar-kamar di apartemen atau losmen, tetapi minus nomor penanda.
“RETHA!!! THA...RETHA!!!”
Telinga Evan hanya mendengar gema suara dirinya sendiri. Ia mulai memandang berkeliling dan menemukan sebuah kamera cctv di salah satu sudut langit-langit.
Setelah memanggil-manggil beberapa kali dan tak ada yang menyahut, Evan pun menghampiri salah satu pintu yang ada di lorong itu dan membukanya. Derit pelan terdengar saat daun pintu itu mulai bergerak. Evan bersiap-siap untuk kejutan yang mungkin ditemuinya.
Akan tetapi, Evan hanya menjumpai kegelapan total ketika pintu itu terbuka sepenuhnya.
Evan mengeluarkan ponsel pemberian Zehr dari saku celananya dan menyalakan lampu flashlight. Saat akan keluar dari ruangan, ia tak sengaja mendapati fitur itu di ujung bagian atas ponsel.
“Retha!?” Evan menyoroti setiap penjuru ruangan itu, tetapi telinganya kembali tak mendengar jawaban dari siapa pun.
Dengan langkah pelan, Evan pun memasuki ruangan itu sambil menggerak-gerakkan cahaya di ponselnya ke berbagai arah. Walau kurang jelas, mata Evan menjumpai suasana yang tak asing. Ruangan itu tampak begitu identik dengan ruangan sebelumnya.
Setelah mengamati ruangan itu dengan seksama, Evan pun memutuskan pergi keluar. Jangankan sosok Retha, secuil petunjuk pun tak dapat ditemukannya.
Tak mau menghabiskan waktu, Evan pun segera beralih ke ruangan-ruangan lain. Beberapa kali ia memasuki ruangan yang sama persis seperti dua ruangan terdahulu. Namun, ada juga ruangan yang lebih luas dan dilengkapi dengan anak-anak ruang tanpa daun pintu.
Saat sudah memeriksa sepertiga dari ruangan-ruangan itu, Evan menjumpai tumpukan benda-benda bekas yang menutupi sebuah persimpangan di tengah lorong. Ketika menyorotinya dari bawah ke atas, ia melihat lemari-lemari dapur, televisi, meja, kursi, kulkas, serta kantung-kantung plastik hitam berukuran besar yang menggembung. Hidung Evan bisa mendeteksi sedikit bau busuk dari kantung-kantung itu.
Semua benda itu disusun cukup tinggi, tapi tak sampai menyentuh langit-langit. Evan melihat celah yang sepertinya cukup untuk dimasuki satu orang di bagian atas tumpukan. Ia merasa mencapai celah itu adalah hal yang hampir mustahil. Salah-salah dirinya malah jatuh ketika mendaki karena tumpukan yang curam dan minimnya tempat berpijak.
Akhirnya, Evan pun kembali mengecek ruangan-ruangan yang tersisa. Namun, seteliti apapun ia mencari, sekuat apapun ia berteriak memanggil. Yang dapat ditemuinya hanyalah kegelapan kosong.
BRAK!
Evan keluar dari ruangan yang terakhir dimasukinya sambil menggebrak daun pintu. Frustasi mulai menyebar memenuhi kepalanya. Akan tetapi, ia tak mau tunduk pada perasaan itu. Usahanya untuk mencari kekasihnya masih belum selesai. Beberapa meter di depannya masih ada satu pintu yang belum dicek olehnya.
Pintu terakhir itu berbeda dengan pintu-pintu yang lain. Selain posisinya yang lebih menjorok ke dalam, warnanya juga tidak coklat, melainkan merah metalik. Meski tanpa papan petunjuk, Evan bisa menebak kalau pintu tersebut adalah pintu darurat. Terbukti dari adanya oleh panic exit bar, semacam gagang besi memanjang yang terpasang horizontal di tengah daun pintu. Benda itu adalah alat bantu yang mempermudah orang untuk membuka pintu saat keadaan genting.
Sebelum menghampiri pintu tersebut, Evan kembali mengedarkan penglihatannya. Ia baru sadar ternyata tak ada lift di lorong ini. Mungkin ada, hanya saja sulit dijangkau karena terletak di belakang gunungan benda-benda bekas.di tengah lorong.
Saat akan mulai melangkah lagi, Evan menemui kamera cctv yang lain bercokol di atas pintu darurat itu. Perasaan muak pun langsung menyerangnya. Dirinya sedang tidak dikerjai dengan cara konyol seperti orang-orang yang tertangkap kamera program reality show murahan. Jadi, sebenarnya apa fungsi kamera-kamera itu dipajang di tempat ini?
Gusar, Evan pun berjalan cepat dan meremas panic exit bar di pintu tersebut, lalu mendorongnya dengan kasar. Ketika pintu itu menjeblak terbuka, ia mendapati rangkaian tangga darurat.
Evan maju beberapa langkah dan menengok ke belakang. Matanya menemukan pelat plastik bertuliskan angka tiga tertempel di samping pintu. Sepertinya angka itu menunjukkan nomor lantai tempatnya berada saat ini. Ia kemudian melongok tangga yang menuju ke bawah untuk sejenak. Tangga itu bersebelahan dengan tangga yang menuju ke atas di hadapannya.
...jangan cari pacarmu ini ke bawah, tapi ke atas.
Ya, Evan tak punya pilihan lain. Setelah berdiam sejenak sambil mengatur napas, ia mulai menapaki satu-persatu anak-anak tangga yang menuju ke atas. Jantungnya yang berdegup kencang dan seolah meronta memintanya untuk berbalik arah tak dipedulikannya. Karena, bila tak melangkah maju, maka sampai kapan pun ia tak bisa bertemu Retha.
Kaki Evan berhenti bergerak di tengah perjalanan. Tubuhnya mendadak merinding. Bukan karena kedinginan, tapi instingnya mendeteksi hawa kehadiran seseorang yang samar.
Meski begitu, Evan memaksa kakinya untuk mendaki kembali. Kepalanya beberapa kali menengok ke belakang, tetapi matanya tak menemukan satu sosok pun. Bahkan telinganya pun cuma bisa menangkap kesunyian. Dan semakin banyak anak tangga yang dilaluinya, semakin kuat pula aura kehadiran itu dirasakannya.
Mungkinkah karena penerangan yang suram membuat ketajaman mata Evan berkurang, sehingga tak dapat melihat sosok yang sedang mengikutinya? Ataukah sosok itu hanyalah manifestasi kumpulan rasa takut di otaknya?
Akan tetapi, bahkan sampai di depan pintu lantai empat, Evan tak menemui siapa pun. Ia pun menyenderkan punggungnya ke dinding sambil menghela napas lega.
Setelah menyeka peluhnya yang ternyata telah banyak mengalir, Evan pun menarik kenop pintu lantai tersebut.
Mata Evan tiba-tiba membelalak sangat lebar. Jantungnya kini seakan benar-benar akan meledak. Pintu itu baru dibukanya setengah, tapi matanya sudah bisa melihat sesuatu yang benar-benar mustahil.
Di tengah lorong lantai empat itu, si topeng merah berdiri tegak. Walau cahaya yang menyiraminya tak begitu terang, tapi jelas sekali terlihat kalau topeng di kepalanya masih sangat mulus. Tak ada sedikit pun luka, sobekan, maupun darah.
Evan segera mempererat pegangan di linggisnya. Rasa takut dalam hatinya menjadi semakin kuat. Bukan cuma karena kehadiran si topeng merah, tetapi juga dengan benda yang ada di tangan orang itu. Linggis Evan bagai mainan dibandingkan dengan kapak besar yang dipegang si topeng merah saat ini.
Si topeng merah mulai melangkah maju, dan Evan pun mundur sejengkal. Ketika si topeng merah mengayunkan kakinya kembali, Evan lagi-lagi berjalan mundur. Begitu seterusnya sampai kaki Evan berada di tepian tangga yang menuju ke atas.
“Hmphhh!!!!” Tiba-tiba si topeng merah mengangkat kapaknya melewati bahu dan melesat ke arah Evan.
“HIII!!!” Evan langsung bergeser ke samping dan menuruni tangga dengan sangat tergesa-gesa. Tujuannya cuma satu: lari.
Ketika baru melewati setengah dari rangkaian anak tangga tersebut, Evan terpeleset sebuah retakan keramik yang besar. Pandangannya langsung berputar-putar tidak karuan. Tubuhnya berguling-guling sampai akhirnya jatuh tersungkur di bawah tangga. Linggis yang dipegangnya pun terlepas.
“ARGH!!!” Evan memegangi bahu kirinya yang terasa seperti dipukuli palu godam. Rasa sakit juga dideritanya di siku kiri dan sebagian area di punggung kanan, namun tak begitu parah.
Sambil meringis, Evan mendongak ke arah tangga dan melihat si topeng merah yang sedang turun dengan cepat. Ia buru-buru meraih linggis yang ada di dekat kakinya, lalu beringsut mundur sampai punggungnya menyentuh tembok.
Tiba-tiba, dengan tanpa peringatan, si topeng merah melompat ketika sudah melewati tiga perempat rangkaian tangga. Evan yang tidak sempat berdiri, menyaksikan kapak si topeng merah mulai menukik ke arahnya.
BRAK!