Sebelah telinga Evan berdengung akibat bunyi benturan yang begitu keras. Tubuhnya bergetar sangat hebat dan tak bisa digerakkan layaknya orang lumpuh. Hanya matanya yang dapat melirik ke mata kapak yang tertancap cukup dalam di tembok, cuma beberapa senti dari telinganya. Untung ia sigap menggeser tubuhnya ketika kapak si topeng merah itu menerjangnya. Terlambat satu detik saja, kepalanya pasti sudah terbelah.
Dengan sangat kaku, Evan mengalihkan pandangannya kepada si topeng merah. Dan saat itu juga dirinya menyadari sesuatu.
“HMPH!!!”
Si topeng merah melorot ke lantai sembari memegangi area di antara selangkangannya. Kapaknya ia biarkan lepas dari tangan. Alih-alih menyerang Evan kembali, si topeng merah malah berdiri seperti orang bodoh. Akibatnya, k*********a dihantam Evan dengan linggis. Meski hanya menggunakan bagian yang tumpul.
Evan memaksa kakinya yang masih gemetaran untuk berdiri, lalu bergegas menghampiri tangga yang menuju ke bawah. Kata hatinya menolak untuk menghabisi si topeng merah kedua ini. Tak ada gunanya. Membunuh yang pertama saja sudah membuatnya sangat syok.
Aliran listrik seolah keluar dari d**a Evan dan mengaliri setiap penjuru tubuhnya. Kakinya yang sudah melewati tiga anak tangga yang menuju ke bawah pun ia rem. Benaknya langsung dirasuki rasa bersalah. Bukannya naik ke atas untuk melacak keberadaan Retha, dirinya malah berniat mencari jalan keluar di lantai dasar.
Tanpa pikir panjang lagi, Evan berbalik arah. Menurutnya sikapnya tadi itu sangat tak bisa dimaafkan. Seorang lelaki harus bisa menjaga orang terkasihnya. Lupa atau takut bukanlah alasan yang tepat untuk mangkir dari kewajiban itu.
Si topeng merah meringkuk di lantai ketika Evan melewatinya. Tampaknya serangan Evan tadi benar-benar fatal.
Evan tak membuang kesempatan itu dan segera melesat ke lantai selanjutnya. Bagian-bagian tubuhnya yang sakit tak digubrisnya.
Begitu memasuki lorong di lantai empat, Evan bergegas memasuki ruangan-ruangan yang ada. Lorong itu sama persis dengan lorong sebelumnya. Evan kembali melihat pintu-pintu tanpa nomor, kamera cctv, serta gunungan benda-benda bekas di tengah lorong. Namun, ada yang sedikit berbeda. Sebagian ruangan yang ada diberi penerangan yang remang dan dipasangi kamera cctv.
Evan memanggil-manggil kekasihnya. Dan seperti yang sudah-sudah, ia tak mendengar jawaban apapun.
“ARGHHH!!! Evan menjerit di ruangan terakhir. Kegusarannya benar-benar memuncak. Lantai ini telah membuang waktunya, padahal si topeng merah bisa muncul kapan pun.
Dan benar saja, Evan mendengar suara langkah kaki yang dibarengi dengan bunyi benda diseret. Saat melongok keluar, ia melihat si topeng merah sedang berjalan pincang sembari menarik kapak. Kepala orang itu berkali-kali menoleh ke kanan dan ke kiri, mengecek pintu-pintu ruangan yang tadi dibuka Evan.
Evan buru-buru menarik kepalanya. Untuk kesekian kalinya, hatinya dibanjiri kepanikan. Otaknya mengatakan bahwa dirinya harus lari dan sembunyi. Namun, menurutnya hal itu percuma saja. Nanti ia cuma sibuk menghindar dan malah tidak sempat mencari Retha.
Satu-satunya jalan adalah melawan orang bertopeng itu. Tidak perlu sampai membunuhnya, tapi cukup melumpuhkannya saja. Akan tetapi, hal ini pun tetap membuat Evan sangsi. Mati saja tak bisa membuat orang bertopeng itu menyerah, apalagi hanya cedera?
Evan memeriksa bagian-bagian tubuhnya. Siku kirinya yang nyeri dihiasi memar tipis, tapi tidak terlalu menjadi masalah. Punggung dan tengkuknya juga sudah tidak begitu sakit. Yang menjadi kekhawatirannya adalah bahu kiri. Memang tidak sesakit tadi, tapi terlihat mulai bengkak. Dan lengan yang berhubungan dengan bagian itu agak sulit untuk diangkat, seolah kehilangan kekuatan.
Bunyi langkah kaki dan seretan kapak si topeng merah terdengar semakin jelas. Sambil bersender di salah satu sisi tembok, Evan mengatur napas dan memejamkan mata. Panik dan takut dalam dirinya ia coba enyahkan. Pikirannya ia paksa bekerja maksimal untuk membayangkan kemungkinan-kemungkinan, serta solusi-solusi yang bisa dilakukannya.
Baru dua menit berlalu ketika Evan membuka mata. Sebuah rencana telah tersusun di otaknya. Walau sebenarnya, ia lebih suka menyebut hal itu sebagai aksi nekat, bukan rencana.
Evan heran sendiri, kali ini pikirannya bisa bekerja dengan baik. Barangkali karena ia punya waktu yang cukup.
Langkah si topeng merah makin terdengar jelas. Evan berjalan ke tengah ruangan sembari menyabet-nyabetkan linggis di tangan kanannya. Dengan jantung berdentum keras, ia mulai mempersiapkan diri. Kakinya membentuk kuda-kuda. Matanya mencermati pintu masuk dengan waspada.
Beberapa detik telah lewat, dan akhirnya yang ditunggu-tunggu Evan pun muncul. Si topeng merah berhenti sejenak dan menoleh ke arah Evan, sebelum akhirnya memasuki ruangan. Evan pun melayangkan tangan kanannya jauh ke belakang dengan wajah ngotot. Lalu, sepersekian detik kemudian, ia mengayunkan tangannya itu ke depan dengan sekuat tenaga, membuat linggisnya terbang berputar-putar.
Duak!
Si topeng merah langsung berhenti bergerak lantaran linggis itu membentur pundaknya dengan keras.
“HEAAA!!!” Tanpa membuang waktu, Evan menerjang tangan si topeng merah yang menggenggam kapak.
Mereka berdua terhempas keluar ruangan. Evan langsung berusaha merebut kapak dari tangan si topeng merah tanpa memedulikan rasa sakit di bahunya. Karena kurang siap, si topeng merah pun tak sempat menahan kapak itu. Sehingga Evan berhasil menariknya.
Sayangnya, Evan tak berhasil memegang kapak itu dengan baik. Kapak itu pun terlempar dan jatuh di dekat kaki si topeng merah. Evan segera menjulurkan tangan, berusaha meraih kapak itu. Namun, si topeng merah menendang benda pemotong itu sampai bergeser beberapa meter ke samping.
Evan kembali mengarahkan tangannya menuju kapak. Karena penerangan yang kurang, ia harus meraba-raba terlebih dulu, sebelum akhirnya berhasil menggenggam gagang kapak itu dengan mantap. Akan tetapi, ia belum menang. Tanpa disadari olehnya, si topeng merah telah sukses memegang sisi lain dari kapak itu
Evan yang memunggungi si topeng merah membenturkan ujung bagian bawah kapak ke perut musuhnya itu berkali-kali. Namun, benturan itu tak terlampau keras. Evan tak bisa menggerakkan tangannya dengan maksimal. Tangan si topeng merah masih melekat di kapak, meski tak terlalu erat.
Sampai akhirnya, Evan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik kapak itu. Si topeng merah pun tergiring ke depan dan jatuh terjembab karena tersandung kaki Evan.
“Argh!” erang Evan sambil mundur beberapa langkah ke belakang. Rasa sakit yang luar biasa kembali menyerang bahu kirinya. Manuvernya barusan terlalu membebani bagian tubuhnya yang cedera itu. Ia jadi tak bisa langsung menyerang.
Si topeng merah berdiri dengan susah payah sembari memegangi perut dan selangkangannya.
Evan menggenggam erat kapak yang baru dimenangkannya dengan kedua tangan. Kapak itu ternyata lumayan berat. Evan tak bisa mengacungkannya ke arah si topeng merah dan cuma bisa mengangkatnya sebatas perut.
“Jangan... i... kuti aku,” kata Evan dengan napas terengah-engah.
Setelah sejenak mengamati si topeng merah yang kini berlutut, Evan pun bertolak pergi. Kali ini ia menolak untuk kalah dengan amarah dalam dirinya. Tangannya tak boleh terkotori dengan darah lagi.
Baru beberapa meter berjalan, Evan mendengar bunyi derap kaki dengan interval pendek. Ia pun menoleh ke belakang dan memergoki si topeng merah berlari ke arahnya dengan sedikit terhuyung. Evan yang kaget pun berniat untuk lari, tapi kakinya terantuk salah satu retakan di keramik, membuatnya jatuh terjembab.
Evan yang kini tersungkur di lantai pun memutar tubuhnya untuk menghadap si topeng merah. Ternyata musuhnya itu sudah begitu dekat dan mulai melompat dengan buas. Ia pun mengayunkan kapaknya dengan segera. Dan saat itu juga, melalui tangannya, ia bisa merasakan kapak itu menghantam sesuatu dengan keras.
“ARGHHH!!!” Evan berkelojotan di lantai sembari memegangi bahu kirinya yang serasa akan lepas. Karena adrenalin yang terpacu tinggi, tanpa sadar ia menggunakan sendi bahunya itu untuk menyerang.
Beberapa detik berlalu, Evan berhenti berkelojotan di lantai. Ia terbatuk-batuk untuk sejenak, sebelum akhirnya bisa mengatur napas dan melirik si topeng merah yang tertelungkup di lantai.
Genangan darah terus melebar, menjadi latar dari tubuh si topeng merah, yang kini membeku tanpa gerakan. Sumber dari genangan itu adalah luka menganga di leher si topeng merah. Dan di luka itu, Evan bisa melihat dengan sangat jelas, mata kapak masih tertancap cukup dalam.
“HIIIII!!!” teriak Evan dengan histeris. Ia beringsut menjauhi si topeng merah dengan sangat tergesa-gesa. Seolah dirinya sedang dikejar setan.