Sekitar satu tahun yang lalu...
Ayah Evan duduk diam di kursi ruang makan dengan kening berkerut. Jari-jarinya ia ketuk-ketukan di meja. Ini pertanda bahwa otaknya sedang berpikir keras. Evan yang duduk di depannya cuma bisa menunduk lesu.
“Kamu tahu berapa besar biaya yang Ayah keluarkan supaya kamu bisa keluar dari sana?” tanya ayah Evan dengan nada getir.
Kedua tangan Evan terkepal dengan sangat erat. Suara ayahnya itu memang tidak terlalu nyaring, tapi cukup untuk menohok hatinya. Otaknya penuh sesak dengan berbagai hal yang menunggu untuk disampaikan, tetapi bibirnya seolah kelu.
“Tapi jangan kira semua ini akan selesai begitu saja, Van.“ Ayah Evan bangkit berdiri sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Kamu itu sudah jadi ai... Ah...”
Evan merasa tengkuknya seolah disiram air es. Ia bisa menebak apa kata terakhir yang ingin diucapkan ayahnya itu. Tentu saja ia ingin menyangkal. Namun, hatinya mengatakan hal itu percuma saja. Sanggahan dan bantahan yang pernah dilancarkannya selama ini tak pernah digubris oleh sang ayah.
“Yang penting, hal ini jangan sampai mengganggu studimu, Van,” lanjut ayah Evan.
Dengan takut-takut, Evan pun mengangkat mukanya. Ia melihat ayahnya sedang memandangi dirinya dengan mata berkaca-kaca, serta mulut yang tersenyum samar. Evan merasakan ada yang janggal dari senyum itu, terkesan sangat dipaksakan
Ayah Evan lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi, meninggalkan Evan yang kini diam membeku.
Air mata Evan mulai mengancam turun. Rasa gelisah, malu, dan takut bercampur menjadi satu dalam dirinya. Sekarang, setelah apa yang terjadi, jalan kehidupan yang akan dilaluinya tak lagi terang.
“Ayah seharusnya nggak ngomong gitu.”
Evan pun menoleh ke belakang. Dan ia mendapati Romi sedang berdiri memandanginya dengan wajah yang hampir tanpa ekspresi.
“Mungkin,” timpal Evan pendek, lalu menghadap ke depan lagi.
Romi membungkuk dan berbisik di telinga Evan. “Sekarang kamu emang lagi terpuruk. Tapi aku yakin kamu bisa bangkit lagi. Dulu kamu pernah ngebuktiin hal itu, Van.”
Setelah mengatakan hal itu, Romi pun beranjak dari ruang makan. Evan yang sedikit terkejut kembali menengok ke belakang dan memperhatikan punggung Romi yang mulai menjauh.
Otak Evan dipenuhi kebingungan. Dulu Romi terlihat membencinya, tetapi sekarang adiknya itu malah memberi dukungan.
***
Evan menghentikan mobilnya di sebuah lahan parkir yang tak terlalu penuh. Ia tak langsung keluar dan justru mengamati gedung kampusnya dari jendela mobil. Sebenarnya, Evan merasa sangat enggan berada di tempat ini. Ayahnyalah yang terus menekannya untuk berangkat dengan alasan hal itu untuk menebus perbuatannya.
Bangunan empat tingkat tempatnya kuliah itu masih sama seperti sebulan yang lalu, saat Evan masih rutin mengikuti studi. Dengan berbalut cat putih dan dihiasi huruf-huruf besar yang merangkai nama kebanggaan fakultas di lantai teratas.
Setelah menghela napas panjang, Evan pun turun dari mobil dan mulai melangkah menuju gedung sembari menenteng tas. Dan detik itu juga, ia bisa mendeteksi sesuatu yang tidak beres.
Sepanjang jalan, Evan bisa merasakan pandangan-pandangan jijik menyerang dari setiap sudut.
Namun, Evan tetap berjalan maju. Ia arahkan pandangannya ke depan untuk menghindari semua itu. Ya, mentalnya harus kuat. Kalau sekarang ia memilih kabur, maka pengakuan dari ayahnya tak akan pernah kembali.
Akhirnya, setelah beberapa menit berjalan, Evan sampai juga di depan pintu ruang kelas tempat kuliahnya pagi ini. Telinganya bisa mendengar hiruk pikuk mahasiswa dari ruangan yang sudah terisi separuh itu.
Dengan memantapkan hati, Evan pun masuk dengan kepala menghadap ke bawah dan langkah yang sangat cepat.
Tiba-tiba, seisi kelas kompak untuk membisu. Rasa tak nyaman langsung menyarangi diri Evan. Ia tak tahu karena matanya hanya bisa melihat lantai, tapi instingnya mengatakan saat ini kehadirannya sedang jadi pusat perhatian.
Kaki Evan terus bergerak menuju kursi bermeja di salah satu sudut bagian belakang. Tempat itu hampir tak pernah dijamahnya. Selama ini ia selalu menempati deretan terdepan.
Bisikan-bisikan mulai terdengar saat Evan menaruh tas dan duduk. Awalnya berasal hanya dari dua orang, namun dengan cepat menyebar ke seluruh kelas. Evan menekuk mukanya dan berusaha tak memedulikan bisikan-bisikan itu. Akan tetapi, mau tak mau, bisikan-bisikan itu lewat juga ke telinganya
“Gue nggak percaya dia masih punya nyali buat dateng ke sini...”
“Katanya dia bisa keluar dari tahanan gara-gara koneksi Bokapnya...”
“Sampah...”
Evan merasa hatinya seperti sedang diiris-iris. Tangannya jadi gatal untuk memukul wajah orang-orang itu. Mereka sudah berani menghakiminya, padahal cuma tahu secuil kebenaran.
Seorang dosen pria paruh baya dengan perawakan kurus memasuki ruangan. Para mahasiswa segera menempatkan diri ke kursi masing-masing. Kendati demikian, bisikan-bisikan itu tak kunjung berhenti.
Sejumlah kursi yang ada di sekitar tempat Evan berada tampak kosong. Ia jadi terlihat seperti sedang diisolasi. Sang dosen yang sudah akan memulai perkuliahan sepertinya menyadari hal itu. Beliau memperhatikan Evan selama beberapa detik. Meski begitu, beliau hanya meminta mahasiswa untuk tenang dan sama sekali tidak menyinggung tentang Evan.
Dengan masih menunduk, Evan melirik ke setiap arah untuk mencari keempat teman dekatnya yang seharusnya juga mengikuti kuliah ini. Namun, Evan sama sekali tak menemukan batang hidung mereka.
Sepanjang perkuliahan, Evan tidak bisa memusatkan perhatian. Bisikan-bisikan itu memang telah teredam, tetapi dirinya merasakan aura menjijikan yang sangat pekat dari setiap orang yang ada di ruangan. Dadanya jadi terasa begitu sesak dan perutnya terserang mual.
Mendadak, sebuah map merah mendarat di muka Evan dan jatuh ke lantai. Sepertinya seseorang melemparkannya dengan sengaja. Tanpa memeriksa siapa pelakunya, Evan memungut map berisi daftar absensi itu dan langsung mengecek namanya di halaman pertama.
Evan merasa isi perutnya seperti sedang dibetot oleh sesuatu yang tak kelihatan. Ada goresan dua kata yang begitu kejam di kotak kecil yang seharusnya ditandatanganinya.
Mati sana!
Otak Evan tiba-tiba memanggil memori-memori gelap di masa lalunya. Waktu tasnya ditulisi kata-kata tidak senonoh. Ketika kepalanya disiram dengan air bekas rendaman pel. Saat dirinya ditelanjangi sampai hanya memakai celana dalam saja dan diikat di pohon, kemudian jadi bahan tertawaan.
Evan mengeluarkan tip-ex dari tasnya dan menghapus tulisan itu dengan tangan gemetar. Meski bentuknya berbeda. Walau penyebabnya lain. Namun menurutnya, orang yang berbisik-bisik dan melemparkan tatapan sinis di tempat ini, serta manusia yang menuliskan kalimat itu mempunyai tujuan yang sama dengan makhluk-makhluk yang dulu menganiayanya. Ya, mereka pasti ingin melihatnya menderita.
Mata Evan terasa panas karena air mata yang hampir tak terbendung. Tempatnya bukan di sini lagi. Tak ada yang namanya menebus kesalahan, apalagi mendapat pengakuan.
***
Hari sudah menjelang siang saat Evan berada di tempat fitness langganannya. Ia duduk di butterfly machine, sebuah alat untuk melatih otot d**a. Tangannya menggerakan pegangan alat itu dengan cara membuka dan menutup. Alat-alat yang lain tampak kosong, hanya dirinya yang tampak sedang berlatih. Peluh mengkilat membanjiri tubuhnya, membasahi kaus hijau tanpa lengan yang dikenakannya. Waktu berlatihnya hari ini telah melewati durasi fitness yang biasa ia lalui pada hari-hari biasa.
Hari ini Evan memutuskan untuk tidak masuk kuliah. Kemarin pun ia hanya mengikuti satu perkuliahan dari tiga yang ada di jadwal. Tentu saja, siapa yang tahan mendapat respon kejam seperti itu?
“Sekarang kamu mau ngapain, Van?” tanya Arjuna yang berdiri di depan Evan.
Evan menghentikan aktivitasnya, lalu menghapus peluh di mukanya dengan handuk. “Nggak tahu. Yang jelas sekarang aku nggak bisa ke kampus lagi, Jun.”
“Mereka kan nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi!” ucap Arjuna dengan berapi-api. Seolah tahu persis apa yang terjadi dengan Evan. “Ibu sama adikmu juga nggak ngasih support sama sekali. Kena kutukan apa sih mereka semua itu?”
Pada hari-hari biasa, kalimat terakhir Arjuna itu pasti cukup untuk memantik syaraf tawa Evan. Akan tetapi, saat ini rasa galau di hati Evan telah mengalahkan keinginanannya untuk bersenda-gurau.
“Yah... Lebih baik gini aja, nggak peduli sekalian,” timpal Evan dengan nada datar, lalu mendongak menatap Arjuna.
“Tapi mereka itu keluargamu, Van! Udah jadi kewajiban mereka buat ngasih support ke kamu! Ayahmu juga, seharusnya dia nggak terus-terusan nyalahin kamu! Kamu kan nggak pengen semua ini terjadi!” gerutu Arjuna.
Memang sudah selayaknya sebuah keluarga memberikan ketenangan dan sokongan mental. Hanya saja, untuk sekarang Evan benar-benar tak mengharapkan semua itu.
Evan tiba-tiba teringat perkataan adiknya beberapa hari yang lalu.
“Tapi Romi ngasih support kok. Dia nggak setuju sama apa yang ayah....”
“Seorang adik yang jarang bicara sama kamu, dan iri sama keberhasilan kamu itu ngasih support? Kamu harus curiga deh, kayaknya dia punya maksud lain,” potong Arjuna sengit.
“Lama-lama kamu kok jadi bawel kayak cewek, sih?” timpal Evan kesal.
Perkataan Arjuna mengenai Romi itu cukup mengganggu hati Evan. Rasa percaya memang merupakan hal yang hampir mustahil dimiliki.oleh Evan untuk saat ini. Meski begitu, hati kecilnya masih ingin memberi kesempatan kepada adiknya itu.
“Aku cuma khawatir sama kamu, Van!” bentak Arjuna.
Evan menunduk sembari merentangkan senyum samar di bibir. Rasa lega mulai memenuhi benaknya. Apapun yang akan terjadi, dirinya tak akan sendiri. Masih ada Arjuna yang akan selalu setia mendengar keluh-kesahnya.