“Ina, kamu ke ruangan saya sekarang.” Pinta Rian, yang rela jalan sendiri untuk menemui Ina daripada harus menelponnya. Rian menyapa sekilas Regina yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Kedua matanya terlihat fokus pada layar komputer di depannya.
Regina mengangkat kepalanya. dengan wajah tampak kebingungan. Dia memutar matanya Melirik sekelilingnya. Tidak ada yang berani menatap ke arahnya.
“Aku?” Tanya Ina bingung, dia mengerutkan wajahnya, sembari tangan menunjuk dirinya sendiri. Kedua mata itu mengerjap berkali-kali
“Iya, kamu siapa lagi kalau bukan kamu.” Kesal Rian, meski sering sekali dia terlihat baik di luar. Tetapi di kantor dia sangat dingin. Wajahnya begutu kaku, bahkan menatap Ina lebih lama saja dia tidak mau.
“Aku pikir orang lain, soalnya disini bukan hanya aku, ada banyak pegawai lain yang duduk berjejer.” Ucap Ina pelan. Dia menutup layar komputernya. Lalu bangkit dari kursinya.
Rian tidak menjawab. Laki-laki itu sudah lebih dulu membalikkan badannya. Langkahnya panjang, sepatunya berbunyi pelan di lantai. Semua pegawai menunduk saat dia lewat. Tidak ada satupun yang berani mengangkat kepala.
Dilla menyenggol siku Ina. “Cepat sana! Jangan buat dia menunggu.” Bisik Dilla, hampir tidak terdengar.
“Memangnya kenapa kalau menunggu?” Tanya Ina santai.
“Ina..” Dilla melotot. Dia menarik napasnya dalam-dalam. “Sudah, pergi saja. Nanti kalau kamu kena marah jangan cerita padaku.”
Ina mengerucutkan bibirnya. Dia merapikan kemejanya, lalu berjalan mengikuti Rian dari belakang. Sepanjang lorong itu Ina merasa ada banyak mata yang mengikuti punggungnya. Bisik-bisik pelan terdengar dari meja sebelah. Ina pura-pura tidak mendengar. Dia hanya menatap lurus pada pintu kaca di ujung lorong.
Pintu ruangan itu tertutup rapat begitu Ina masuk. Ruangan Rian dingin sekali. Bau kertas baru bercampur dengan aroma kopi hitam di atas meja. Rian sudah duduk di kursinya. Kedua tangan laki-laki itu bertumpu di atas map berwarna biru.
“Duduk!” Perintah Rian.
Ina menarik kursi di depan meja. Dia duduk dengan punggung tegak. Kedua tangan diletakkan rapi di atas paha.
Rian membuka map itu. Dia membalik satu lembar. Lalu satu lembar lagi. Kedua matanya bergerak cepat menyusuri deretan angka di sana.
“Kamu yang mengerjakan laporan ini?” Tanya Rian, tanpa mengangkat wajahnya.
“Iya.” Jawab Ina.
“Kamu tahu di mana salahnya?”
Ina mengerjapkan kedua matanya. Dia memiringkan kepalanya sedikit, berusaha melihat lembaran yang ada di depan Rian. Tetapi laki-laki itu memutar map tersebut, mendorongnya ke arah Ina.
“Halaman tiga. Baris paling bawah.” Kata Rian.
Ina menunduk. Jemarinya menelusuri deretan angka itu. Wajahnya perlahan berubah. Kedua matanya melebar sedikit. Bibirnya terkatup rapat.
“Ini.. Angkanya kebalik.” Ucap Ina lirih.
“Kebalik.” Rian mengulang kata itu. Datar sekali. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi. “Angka yang kebalik di halaman tiga akan membuat semua hitungan di halaman berikutnya ikut salah. Kalau ini sampai keluar dari ruangan saya, yang malu bukan cuma kamu.”
Ina menelan ludahnya. Dia ingin menjawab, tetapi entah kenapa suaranya tertahan di tenggorokan. Baru kali ini dia melihat Rian sedekat itu di dalam kantor. Wajah laki-laki itu benar-benar kaku. Tidak ada senyum sedikitpun. Bahkan tidak ada tanda dia pernah mengantarkan Ina pulang malam itu.
“Maaf.” Ucap Ina akhirnya. “Saya perbaiki sekarang juga.”
“Bukan sekarang.” Rian menutup mapnya. “Saya masih ada rapat sampai sore. Perbaiki semuanya, hitung ulang dari halaman satu. Besok pagi laporan itu sudah harus ada di meja saya sebelum saya datang. Bukan sesudah.”
“Sebelum tuan datang?” Tanya Ina memastikan.
“Iya.”
“Tuan datang jam berapa?”
Rian mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak Ina masuk, laki-laki itu menatap tepat ke kedua matanya. “Itu urusan kamu untuk datang lebih pagi dari saya.”
Ina mengerucutkan bibirnya lagi. Dalam hatinya dia menggerutu panjang. Orang ini benar-benar tidak punya perasaan. Kemarin mengantarkan pulang, hari ini bicara seperti mesin.
“Baik, tuan.” Ucap Ina. Dia meraih map biru itu, memeluknya di dada, lalu bangkit dari kursinya. “Kalau tidak ada lagi, saya kembali bekerja.”
“Regina.”
Langkah Ina berhenti tepat di depan pintu. Dia membalikkan badannya perlahan. “Iya?”
Rian terlihat ragu. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja dua kali. Rahangnya bergerak sedikit. Sesuatu yang tidak pernah Ina lihat pada laki-laki sedingin itu.
“Nanti sore, setelah jam pulang.” Kata Rian. “Makan bersama saya.”
Ina berkedip beberapa kali. “Makan?”
“Iya, makan. Kenapa? Apa kata itu susah dimengerti?”
“Bukan susah dimengerti.” Ina menggeleng pelan. “Cuma aneh saja. Barusan tuan memarahi saya soal angka yang kebalik. Sekarang tuan mengajak saya makan. Yang mana yang harus saya percaya?”
Rian menghela napasnya. “Dua-duanya.”
“Maaf, tuan. Saya tidak bisa.” Ucap Ina.
Ruangan itu hening beberapa detik. Rian menegakkan duduknya.
“Alasannya?”
“Banyak.” Jawab Ina jujur. “Pertama, laporan ini harus selesai malam ini. Kalau saya pergi makan, saya tidak akan sanggup menghitung ulang semuanya. Kedua, di luar sana ada puluhan pegawai yang melihat saya masuk ke ruangan ini. Kalau sore nanti mereka melihat saya keluar bersama tuan, besok pagi cerita yang beredar sudah bukan soal laporan lagi.”
“Kamu takut dibicarakan orang?”
“Saya tidak takut.” Ina menatap Rian lurus. “Saya cuma tidak mau bekerja di tempat yang membuat saya harus menjelaskan diri saya setiap hari. Saya baru saja mulai di sini, tuan.”
Rian terdiam. Dia menatap wanita di depannya cukup lama. Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya, tetapi hilang secepat munculnya.
“Ada alasan ketiga?” Tanya Rian pelan.
Ina menggigit bagian dalam bibirnya. Ada. Tentu saja ada. Tetapi alasan yang ketiga itu tidak mungkin dia katakan pada siapapun di ruangan ini. Bahwa setiap kali ada laki-laki mengajaknya duduk berdua di meja makan, yang muncul di kepalanya justru wajah orang yang sudah tidak ada. Meja untuk dua orang selalu terasa seperti kursi kosong yang menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang.
“Tidak ada.” Jawab Ina. “Dua saja sudah cukup, kan?”
Rian mengangguk sekali. “Kembali bekerja.”
“Terima kasih, tuan.” Ina menundukkan kepalanya sebentar. Lalu keluar dari ruangan itu.
Pintu tertutup pelan di belakangnya. Ina bersandar sebentar di dinding lorong. Dia menghela napasnya panjang, memeluk map biru itu lebih erat.
Begitu dia sampai di mejanya, Dilla langsung memutar kursinya menghadap Ina.
“Gimana? Kamu dimarahi?” Tanya Dilla, matanya berbinar seperti orang menunggu akhir cerita.
“Dimarahi.” Jawab Ina santai. Dia meletakkan map itu di meja, lalu menyalakan komputernya lagi.
“Cuma dimarahi?”
“Terus mau apa lagi?”
Dilla menarik kursinya mendekat. “Ina, kamu masuk hampir dua puluh menit di sana. Untuk marah, orang tidak butuh selama itu.”
Ina menghela napasnya. “Dia mengajak aku makan sore nanti.”
Suara Dilla hampir memecahkan seisi ruangan. “Apa?”
“Ssstt!” Beberapa pegawai menoleh bersamaan.
Dilla menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia menunduk, lalu berbisik dengan suara bergetar menahan sesuatu. “Terus kamu jawab apa?”
“Aku tolak.”
“Kamu.. Kamu apa?”
“Aku tolak, Dilla.” Ulang Ina, tangannya sudah mulai mengetik ulang deretan angka di layar.
Dilla mengurut dadanya. Dia menatap langit-langit ruangan beberapa detik, seperti orang yang sedang mengumpulkan kesabaran dari tempat yang jauh. “Ina.. Kamu tahu berapa banyak pegawai di gedung ini yang ingin bicara dengan dia lima menit saja? Dan kamu menolak makan bersamanya.”
“Aku ada kerjaan.” Jawab Ina tanpa menoleh. “Laporan ini harus ada di mejanya besok pagi sebelum dia datang.”
“Sebelum dia datang?” Dilla mengerutkan keningnya. “Itu artinya kamu harus berangkat gelap-gelap.”
“Ya sudah, berangkat gelap-gelap.”
Sore itu Ina tidak beranjak dari kursinya sampai lampu ruangan mulai dimatikan satu per satu. Angka-angka itu dihitungnya ulang dari halaman pertama. Dilla menemaninya sampai selesai, sambil terus menggerutu soal makan malam yang ditolak begitu saja.
Malamnya, Dilla ikut menginap lagi di kontrakan Ina. Wanita itu tertidur lebih dulu di ranjang, masih memakai kaos kantornya, kakinya menggantung di tepi kasur.
Ina duduk di lantai. Map biru itu sudah rapi di dalam tasnya. Dia menyetel alarm di ponselnya, jauh lebih pagi dari biasanya. Jarinya berhenti sebentar di layar.
“Besok aku berangkat sendiri saja.” Gumam Ina pelan, menatap Dilla yang sudah pulas. “Kamu tidur saja.”
Lalu dia mengetik satu pesan singkat untuk Vian. Meminta laki-laki itu menjemput Dilla besok pagi di kontrakannya.
Belum sempat ponsel itu diletakkan, Dilla bergerak sedikit di atas ranjang. Matanya masih terpejam, tetapi mulutnya bergumam.
“Ina..”
“Apa?”
“Kamu benar-benar menolak dia?” Suara Dilla serak, setengah tertidur.
“Iya.”
“Kalau besok dia tanya lagi?”
Ina diam beberapa saat. Tangannya bermain dengan tali tas di dekat kakinya. “Ya aku jawab lagi.”
“Jawab apa?”
“Belum tahu.” Ucap Ina jujur.
Dilla menarik selimutnya sampai ke dagu. “Kamu itu aneh.” Gumamnya, lalu diam lagi. Beberapa detik kemudian napasnya sudah kembali teratur.
Ina tersenyum tipis. Dia membuka tasnya sekali lagi, memastikan map biru itu benar-benar ada di sana. Halaman tiga, baris paling bawah, angka yang tadi siang membuat wajahnya panas. Sekarang angka itu sudah berdiri di tempat yang benar.
Ina meletakkan ponselnya. Dia memandang langit-langit cukup lama sebelum akhirnya memejamkan mata.