Keesokan harinya. Regina langsung saja bertemu dengan Rian. Dia masuk ke ruangan Rian. Namun tidak ada siapapun di sana. Bahkan Regina berangkat lebih dulu baik bis. Meninggalkan Dilla yang masih sendiri di rumahnya. Entah kemana dia, dia belum juga bangun tadi saat dirinya berangkat. Karena dia ada tugas yang harus diselesaikan. Regina memutuskan untuk pergi bekerja lebih dulu. Dan, memberikan kabar pada Vian untuk menjemput Dilla di kontrakannya.
"Permisi, tuan Rian." panggil. Regina. Dia berjalan mengendap-endap, masuk semakin dalam. Masih ada tidak ada siapapun di ruangan itu.
"Kemana Rian? Kenapa dia belum datang?" pertanyaan itu seketika muncul di kepala Regina.
"Kemana dia?" tanya Regina lagi. Dia terus berjalan pelan, Kedua nata mengamati setiap sudut ruangan itu tetap saja,
pelan. Kedua matanya mengamati setiap sudut ruangan itu. Tetap saja tidak ada siapapun di sana. Hanya kursi besar yang kosong, dan meja panjang yang sudah rapi seperti tidak pernah disentuh semalaman.
Regina menghela napasnya lega. Setidaknya dia datang lebih dulu. Itu yang paling penting.
"Sebelum saya datang. Bukan sesudah." Regina menirukan ucapan Rian kemarin sambil mengerucutkan bibirnya. "Iya, iya. Ini sudah sebelum, tuan."
Dia membuka tasnya. Map biru itu dikeluarkan pelan-pelan, seperti orang membawa sesuatu yang mudah pecah. Regina meletakkannya tepat di tengah meja. Lalu dia mundur satu langkah, menatap map itu, lalu maju lagi dan menggeser posisinya sedikit supaya lebih lurus dengan tepi meja.
"Nah, begitu." Ucap Regina puas.
Ruangan itu masih gelap. Hanya ada cahaya pagi yang masuk dari celah tirai. Regina berjalan ke arah jendela, menyibakkan tirainya sedikit. Dari lantai itu, jalanan di bawah terlihat masih lengang. Beberapa lampu jalan bahkan belum dimatikan.
Regina membalikkan badannya. Dan, untuk pertama kalinya dia benar-benar memperhatikan ruangan tempatnya berdiri.
Ada cangkir kopi hitam yang belum dicuci di ujung meja. Sisa kopinya sudah mengering di dasar cangkir. Ada tumpukan berkas di sisi kanan, tersusun rapi menurut warna mapnya. Ada pena hitam yang diletakkan sejajar dengan tepi buku agenda.
"Rapi sekali." Gumam Regina. "Pantas saja dia marah cuma karena angka kebalik."
Kedua matanya berhenti pada satu bingkai foto kecil yang berdiri menghadap kursi. Regina memiringkan kepalanya. Di dalam foto itu ada dua orang laki-laki. Yang satu tersenyum lebar. Yang satu lagi tidak tersenyum sama sekali, hanya menatap kamera dengan wajah datar.
Regina mengenali keduanya.
"Jadi benar." Ucap Regina pelan. Dia teringat ucapan Dilla kemarin. Bahwa laki-laki yang dia tolong di jalan itu adalah kakaknya. Bahwa dulu kakaknya yang memegang perusahaan ini, sebelum diserahkan pada adiknya.
"Kalian ini kakak beradik, tapi wajah kalian saja sudah beda jauh." Regina tersenyum tipis. "Yang satu bicara pelan, yang satu bicara seperti mesin."
Kreekk.
Suara itu datang dari belakangnya.
Regina menoleh cepat. Pintu kaca ruangan itu bergerak sendiri, perlahan, lalu menutup rapat. Terdengar bunyi kecil setelahnya. Bunyi yang pendek, tetapi entah kenapa membuat dada Regina berdesir.
"Eh?"
Regina berjalan cepat ke arah pintu. Dia meraih gagangnya, menariknya. Pintu itu tidak bergerak. Dia menariknya lagi, kali ini dengan kedua tangan. Tetap tidak bergerak.
"Kenapa ini?" Regina mendorong pintu itu. Tetap sama.
Dia mengamati sisi pintu. Ada kotak kecil berwarna hitam menempel di dinding, dengan satu titik lampu merah menyala di tengahnya. Regina menempelkan telapak tangannya di sana. Lampu itu tidak berubah.
"Kartu." Ucap Regina. Suaranya mulai berubah. "Ini pakai kartu."
Regina meraba sakunya. Kosong. Dia berjongkok, membuka tasnya, mengeluarkan semua isinya ke lantai. Dompet, sisir, botol minum kecil, kunci kontrakan. Tidak ada kartu. Tentu saja tidak ada. Kartu pegawai barunya masih tergeletak di laci mejanya sendiri, di ruangan sebelah, bersama ponselnya yang dia titipkan di dalam tas kerja karena tangannya tadi penuh memegang map.
Regina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Regina Putri, kamu ini kenapa sih." Gerutunya pada diri sendiri.
Dia bangkit lagi. Mengetuk pintu kaca itu dengan buku jarinya. "Permisi! Ada orang di luar?"
Tidak ada jawaban.
Regina mengetuk lebih keras. "Halo! Tolong! Saya terkunci di dalam!"
Suaranya memantul di dinding ruangan yang kosong. Di luar sana, lorong masih gelap. Lampu-lampunya belum dinyalakan. Regina menempelkan pipinya ke kaca, mencoba melihat sejauh mungkin ke ujung lorong. Tidak ada siapa-siapa. Bahkan petugas kebersihan pun belum terlihat.
"Ya Tuhan." Regina menyandarkan punggungnya ke pintu. Perlahan dia merosot, duduk di lantai.
Napasnya mulai terasa berat. Bukan karena udara di ruangan itu, tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang selalu datang setiap kali dia berada di tempat tertutup, sendirian, tanpa ada yang bisa dia hubungi.
Regina memeluk kedua lututnya.
Dulu dia juga pernah menunggu seperti ini. Duduk sendirian. Menggenggam ponsel yang tidak berdering. Menatap satu pintu yang dia harap akan terbuka, dan orang yang dia tunggu akan masuk sambil tertawa, mengatakan bahwa semuanya cuma salah kabar. Pintu itu memang akhirnya terbuka. Tetapi yang masuk bukan orang yang dia tunggu.
Regina menggelengkan kepalanya cepat. "Jangan sekarang." Ucapnya lirih. "Jangan sekarang, Ina."
Dia mengusap kedua matanya dengan punggung tangan. Lalu dia menarik napas panjang, menghitung dalam hati, seperti yang biasa dia lakukan.
Regina bangkit. Kedua matanya menyapu ruangan itu sekali lagi, dan berhenti pada satu benda yang sedari tadi luput dari perhatiannya.
Telepon.
"Astaga, kenapa aku tidak ingat dari tadi." Regina berjalan cepat ke meja. Dia mengangkat gagang telepon itu, menempelkannya di telinga.
Ada nada sambung. Dadanya melonjak senang.
Tetapi kesenangan itu hanya bertahan beberapa detik. Regina menatap deretan tombol di depannya. Dia baru bekerja di sini beberapa hari. Dia tidak hafal nomor siapapun. Nomor Dilla ada di ponselnya. Nomor Vian ada di ponselnya. Semuanya ada di ponsel yang sekarang tergeletak manis di dalam tas kerjanya, di ruangan sebelah.
Regina menekan beberapa tombol asal. Terdengar suara panjang, lalu terputus.
"Kenapa aku tidak pernah menghafal satu nomor pun." Gerutu Regina, meletakkan kembali gagang telepon itu dengan kasar. "Payah kamu, Ina."
Dia berdiri diam sebentar, mengatur napasnya. Lalu dia meraih pena hitam milik Rian di atas agenda, dan kembali ke pintu. Dia mengetuk kaca itu dengan pangkal pena, berkali-kali, dengan bunyi yang jauh lebih nyaring.
Tok. Tok. Tok.
"Ada orang? Tolong!"
Entah berapa lama dia melakukan itu. Tangannya mulai pegal. Kaosnya di bagian punggung sudah terasa lembab.
Lalu terdengar bunyi itu.
Tiit.
Lampu merah di kotak kecil itu berubah menjadi hijau. Pintu kaca bergeser terbuka.
Regina yang sedang bersandar hampir saja jatuh ke depan. Sebuah tangan menahan lengannya.
"Apa yang kamu lakukan di ruangan saya?"
Regina mengangkat wajahnya. Rian berdiri di depannya, masih memegang kartu di tangan kanannya. Rambut laki-laki itu masih sedikit basah. Alisnya bertaut.
"Tuan." Suara Regina keluar seperti orang yang baru saja lari jauh.
Rian melepaskan lengannya. Kedua matanya turun ke lantai. Isi tas Regina masih berserakan di sana. Dompet, sisir, botol minum, kunci.
"Kenapa barang kamu berhamburan?"
"Saya mencari kartu." Jawab Regina. "Tapi kartu saya ada di laci meja saya. Pintunya menutup sendiri, tuan. Saya tidak bisa keluar."
Rian terdiam. Dia melirik pena hitam yang masih digenggam Regina.
"Itu pena saya."
"Saya pakai untuk mengetuk kaca." Regina menyerahkan pena itu dengan wajah bersalah. "Maaf."
Rian menerimanya. Dia berjalan masuk, meletakkan pena itu kembali sejajar dengan tepi agenda, seperti sedia kala. Lalu kedua matanya berhenti pada map biru di tengah meja.
Laki-laki itu meraih map tersebut. Membukanya. Membalik satu lembar. Lalu satu lembar lagi.
Regina berdiri di dekat pintu, memeluk tasnya, menunggu. Jemarinya mencengkeram tali tas itu semakin erat setiap kali terdengar bunyi kertas dibalik.
Rian berhenti di halaman tiga. Kedua matanya menyusuri baris paling bawah.
Ruangan itu sunyi sekali.
"Sudah benar." Ucap Rian akhirnya.
Regina menghembuskan napasnya. Bahunya turun. "Syukurlah."
"Kamu datang jam berapa?" Tanya Rian, masih menatap kertas itu.
"Sebelum tuan." Jawab Regina.
Rian mengangkat wajahnya. Untuk sesaat, sudut bibir laki-laki itu bergerak sedikit. Bukan senyum. Tetapi juga bukan wajah kaku yang biasa dia pakai di kantor.
"Duduk." Kata Rian.
Regina mengerjapkan kedua matanya. "Saya harus kembali ke meja saya, tuan."
"Meja kamu tidak akan lari."
"Tapi jam kerja sudah mau mulai."
Rian menutup map biru itu. Dia meletakkannya di sisi kanan meja, di atas tumpukan berkas yang tersusun rapi menurut warnanya. Lalu dia menarik kursinya, duduk, dan menatap Regina.
"Kemarin kamu bilang kamu tidak bisa makan bersama saya karena laporan ini." Ucap Rian. "Laporan ini sekarang sudah ada di meja saya. Sudah benar. Jadi alasan yang pertama sudah tidak ada."
Regina membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi.
"Alasan yang kedua," lanjut Rian, "kamu bilang kamu tidak mau dilihat pegawai lain keluar bersama saya. Sekarang lihat ke luar. Ada berapa orang di lorong itu?"
Regina menoleh. Lorong itu masih kosong.
"Belum ada." Jawabnya pelan.
"Duduk, Regina."
Regina menoleh ke arah pintu kaca di belakangnya. Pintu itu sudah menutup lagi. Lampu kecil di kotak hitam itu kembali menyala merah.
Dia menelan ludahnya. Lalu perlahan berjalan ke arah kursi di depan meja.