Teriakan gadis-gadis cantik di area balapan liar berhasil membuat cowok bernama Vernando Elditama Ferraro tersenyum. Ia berhasil membuat gadis-gadis tergila-gila padanya. Pasalnya, Nando adalah cowok paling keren seantero Jakarta.
Nando mulai bersiap balapan menggunakan motor sport kesayangannya itu. Gadis cantik berjalan di pertengahan Nando dan sosok laki-laki yang menjadi lawannya berada di sampingnya dengan motor terbarunya.
"Udahlah, lo pasti akan kalah lawan gue," ejek Nando sombong akan dirinya yang selalu menang saat bertanding.
"Lo jangan sombong dulu, Nan. Kali ini, gue yang akan kalahin lo!" balas temannya, Kevin Nicholas tak mau kalah.
"Siap?" teriakan gadis didepannya membuat Nando menatap tajam kearah temannya dan memulai bersiap untuk melaju.
"1 ... 2 ... 3 ! Go !"
Balapan sengit antara Nando dan Kevin di jalan ibu kota Jakarta yang cukup ramai. Nando begitu sengit menandingi kecepatan motor sport lawannya hingga tak sengaja ia terkejut melihat mobil hampir melintas kearahnya.
Seketika ia terjatuh lantaran terkejut dan membuat motornya menabrak pohon di tempat itu.
Srrrttt ...
"Astaga. Nando!" cemas dan teriak Kevin saat turun dari motornya.
"Nando!!" panggilnya menghampiri laki-laki yang sudah terkujur lemas di tanah dengan darah merah mengalir deras di bagian kepalanya.
"Gue harus gimana?" paniknya.
Tiba-tiba ia melihat mobil taxi melintas dan memberhentikannya.
"Pak, tolong sahabat saya, Pak!" perintah sahabat Nando penuh bentakan.
Untunglah, si supir taxi pun segera membantunya dan membawa mereka ke rumah sakit.
Suasana hening di ruang penuh dengan alat-alat kedokteran. Nando sedang ditangani oleh Dokter yang mengecek keadaan dan kondisi pasien yang baru saja kecelakaan itu bersama para suster juga asisten pembantu lainnya.
"Nando! Nando! Dimana anak saya? Kenapa dia bisa seperti ini, Kevin?" Histeris wanita paruh baya menghampiri laki-laki yang sedang menunggu di ruang tunggu.
"S-saya juga kurang tau, Tante. Nando tiba-tiba kecelakaan saat--"
"Kalian balapan lagi?" tanya wnaita itu lagi yang tak lain adalah mama Nando, Mega Dirgantara.
Kevin mengangguk.
"Kenapa? Kenapa Nando harus mengalami ini? Kenapa?" histerisnya lagi.
"Sabar, Mah! Kita doakan saja, semoga Nando tidak kenapa-kenapa," ujar sosok laki-laki paruh baya yang sedang memeluknya, yaitu papa Nando, Surya Ferraro.
"Permisi, apa ada keluarga pasien disini?" tanya sang Dokter yang baru saja keluar dari IGD.
"Saya! Saya orangtuanya Dokter. Bagaimana dengan keadaan anak saya?" tanya Mega.
"Begini Bu, pasien mengalami pendarahan di bagian kepalanya dan seluruh organ tubuhnya mengalami luka-luka," terang Dokter.
"Astaga, anakku! Dokter, lakukan sesuatu untuk anak saya Dokter!" histeris Mega yang belum bisa menerima kenyataan bahwa anaknya mengalami kecelakaan parah.
"Mama, sudah. Kita berdoa saja, Ma." Surya berusaha menengangkan istrinya itu
"Tenang, Bu. Kami akan segera melakukan operasi untuk anak Ibu dan kami meminta permohonan persetujuan bapak dan ibu kepada kami untuk melakukan operasi," ujar sang Dokter.
"Lakukan saja Dokter. Demi anak saya sembuh. Kami bisa menanggung biaya operasi anak saya!"
"Baik, kami akan berusaha semaksimal mungkin."
3 hari setelah operasi ...
"Bagaimana Dokter? Bagaimana operasinya? Berjalan dengan lancar 'kan dokter?"
Beberapa pertanyaan bertubi-tubi dari mama Nando membuat Dokter semakin enggan untuk memberitahu.
"Kenapa Dokter diam? Bagaimana dengan keadaan anak saya Dokter?" tanya beliau sekali lagi.
"Sebelumnya, saya mengucapkan permintaan maaf kepada bapak dan ibu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, takdir berkata lain. Anak ibu dan bapak sudah dipanggil Tuhan," jelas sang Dokter.
"Ti-tidak! Tidak mungkin!!" Mega terus-menerus berteriak histeris sehingga para penghuni rumah sakit terganggu.
Di sisi lain, Nando masih tergeletak tak bernyawa di ruang operasi. Tiba-tiba seorang gadis menghampirinya dan memberikan sebuah suntikan berupa jarum kecil ke tubuhnya.
Seketika tubuhnya bergerak dan membuat lampu rumah sakit hidup, lalu mati.
"Ada apa ini?" bingung Surya yang masih menenangkan istrinya.
"Mari kita masuk ke dalam?" saran Dokter.
"Nando! Ada apa dengan dia Dokter? Kenapa dia kejang-kejang seperti itu?" tanya Ibu Nando semakin histeris melihat putranya.
"Sebentar Bu." Dokter meyakinkan orang tua Nando agar tenang dan memeriksa keadaan Nando yang sudah berhenti kejang-kejang.
"Ya, Tuhan!"
"Kenapa Dokter?" tanya Ibu Nando masih histeris.
"Anak Ibu diberi kesempatan hidup kembali. Dia masih hidup Bu, ini keajaiban dari Tuhan." Dokter tersenyum bahagia setelah tahu bahwa pasien yang baru saja gagal operasi itu diberi kesempatan lagi untuk hidup.
•••
"Selamat pagi, Pah, Mah," sapa Nando dengan senyuman manis lalu mencium kening mama dan papanya itu.
"Hai, sayang. Udah mau berangkat?" tanya Mega.
"Iya, Mah. Nando berangkat ya," ujar Nando yang sudah mau berpamitan.
"Hati-hati sayang," pesan Mega.
Nando berjalan keluar menenteng tas hitam kesayangannya.
"Mah, Papa juga berangkat ke kantor ya," pamit Surya.
"Hati-hati dijalan, Mas," pesan Mega kepada sang suami sembari melambaikan tangannya sebelah.
Kehidupan Nando kembali seperti semula. Bahkan, seluruh siswa-siswi di sekolahnya dihebohkan dengan kabar bahwa Nando hidup kembali setelah kecelakaan maut. Atau, biasa disebut dengan mati suri!
Beberapa di antara mereka banyak yang menanyakan bagaimana bisa Nando mati suri? Namun, Nando hanya acuh. Toh, dia juga tidak tahu mengapa ini semua bisa terjadi.
Sudah dua hari lamanya Nando menjalani hari-harinya setelah mati suri. Syukurlah, semua berjalan normal. Namun, ada kejanggalan di hari ketiga saat dia berangkat ke sekolah. Bumi seolah berhenti berotasi, udara berjalan dengan pelannya, dan makhluk bumi yang bergerak begitu lambat juga aneh.
Kebingungan mulai merasuki dirinya. Nando turun dari motornya dan berlari ke arah yang tak tertuju. Dia bingung, sangat bingung. Ada apa ini? Itulah pertanyaan yang memenuhi otaknya sekarang.
Merasa kelelahan, Nando memilih berhenti di area lapang, yaitu taman yang berada di sekitar kompleknya. Tiba-tiba, manik mata Nando tak sengaja melihat sosok gadis seumuran dengannya yang memandang Nando mistis, lalu pergi entah kemana. Seolah sesosok itu ingin menunjukkan sebuah jalan.
Dengan langkah gercap, Nando berlari mengejar sosok gadis tersebut. Siapa tahu, dia bisa membantu Nando. Ketika sampai di sebuah pohon beringin besar, yang terdapat sebuah lubang sebesar kepalanya, Nando pun heran.
"Apa ini? Siapa namamu? Mengapa kamu tak seperti manusia lain? Nando menghujani pertanyaan bertubi-tubi pada gadis itu.
"Namaku Tarisa Ayako. Ini adalah lubang menuju dunia lain. Masuklah," suruh Ayako.
"Hey, gue nggak tahu siapa lo dan kenapa lo malah nyuruh-nyuruh gini?"
"Ck! Masuklah dulu jika kau ingin dunia ini kembali normal."
Tak butuh waktu lama, mereka pun memasuki lubang bak portal tersebut. Benar saja, setelah mereka masuk, mereka dihadapkan oleh sebuah dunia yang penuh dengan api, kotoran, hantu, kejahatan, dll yang begitu sulit untuk dimengerti.
Sejenak, Nando berpikir. "Ayako, bukannya ini dunia ..." Bibir Nando bergetar menyebutnya.
To Be Continued ...
Minggu, 18 Oktober 2020
A Story Written by Alexiarischa feat. IamFitri18__