Sejenak, Nando berpikir. "Ayako, bukannya ini dunia ..." Bibir Nando bergetar menyebutnya.
"Dunia apa? Jangan sok tahu dulu," semprot Ayako sang gadis gaib itu.
Mendengar perkataan sengit itu tentunya membuat Nando kesal. "Idihhh, nebak doang ga boleh. Belum juga mau ngomong. Setan k*****t emang lo!"
"Gini-gini aku juga punya hati buat bantu kamu," balas Ayako tak terima dihina.
"Apa? Maaf aku nggak dengar." Nando berlagak seperti orang tuli sambil kedua jari telunjuknya menutupi telinganya.
"Bodoamat! Kita ga punya banyak waktu. So, jangan banyak debat," final Ayako.
"Sok inggris banget jadi setan!" hina Nando lagi. Ayako yang mendengarnya hanya memutar bola mata malas.
Eh, kok punya mata? Tubuh Ayako masih sepenuhnya seperti manusia. Hanya saja, dia makhluk gaib.
"Jadi, mulai nggak?" tanya Ayako yang melihat mulut Nando terus-menerus kocar-kacir.
"Ya, silahkan. Mana saya tahu tempatnya? Saya kan ikan!" Nando semakin gila.
"Aminin aja. Umur gada yang tahu." Lagi-lagi Ayako mengalah.
"So, pertama ke mana dulu? Oh iya, jelasin ini dunia apa?" Wajah Nando kembali serius, tapi penuh dengan pertanyaan. Ayako bisa lihat itu.
"Kenalin, ini dunia IVI," ucap Ayako.
"IVI? Apaan tuh?" Nando nampak berfikir.
"IVI itu kepanjangan dari implicatus vitam yang dalam bahasa latin. Kalau di dunia kamu artinya kehidupan yang terperangkap. Di sini adalah tempat hidup para iblis, jin, dan setan juga arwah yang jahat dan memiliki dendam. Mereka semua berkumpul dan membentuk sebuah dunia yang dinamakan IVI tadi. Mengapa mereka menamai hal tersebut? Karena semua penghuni di sini memiliki satu tujuan, yaitu menjerat seluruh kehidupan di dunia nyata agar mereka masuk neraka. Semua ini karena mereka yang masuk neraka merasa marah dan akhirnya, mereka mengajak para penghuni bumi untuk masuk neraka. Tak sabar dengan peristiwa besar, yaitu terjeratnya dunia, akhirnya, mereka menjerat seluruh kehidupan di dunia nyata dengan cara khusus. Aku nggak tahu itu gimana caranya. Aku cuman tahu semua ini dan cara mengembalikannya. Itu pun aku merasa belum pasti benarnya," terang Ayako.
"Buset, dedemit aja sok-sokan make bahasa latin juga. Udah kayak Om Alber enten," balas Nando.
"Albert Einstein!" Ayako membenarkan.
"Kok tempe? Sekolah, yah?"
"Ngaco digedein. g****k digedein!"
"g****k dipupuk, gila ditanam!"
"Cukup! Sekarang kita ke perpustakaan IVI." Ayako menggandeng tangan Nando.
"Eh, ga boleh pegang-pegang! Bukan mukrim tau!" Nando menghempaskan tangan Ayako.
"Btw, itu tangan lo kok bisa megang? Demit kan tembus?"
"Idihh geer banget jadi manusia. Ga akan aku suka sama kamu. Lagian aku setan, mana ada mukrim nggknya. Btw, ada cara khusus dulu biar arwah itu menjadi seperti badan manusia. Yaudahlah, ayo buruan kita nyari. Kamu harus tetep pegang tangan aku. Soalnya, manusia yang utuh dan sadar sepenuhnya ketahuan sama mahkluk sini, jika berada di IVI akan mati dan dijerat masuk neraka langsung, tapi jika kamu pegang badan aku, kamu gak akan keliatan kok. Ada cara khusus dan aku udah pelajari itu semua," jelas Ayako dan Nando mengangguk paham.
"Lah, tapi kok dari tadi kita nggak ketahuan. Tuh liat ada demit mukanya kek sempak temen gue. Ancur dan bau!" Nando menunjuk ke arah iblis yang sedang lewat di hadapan mereka.
"Oh, karena ada batasan antara portal dengan dunia IVI. Sekarang, kita lagi berdiri di perbatasan antara dunia nyata dan IVI. Jadi, kita nggak keliatan. Karena masih di are dunia nyata dan btw kita bakal keliatan jelas kalo di IVI."
"Bukannya makhluk gaib tetep bisa lihat manusia dalam bentuk apapun?"
"Bener banget. Makhluk gaib bisa liat bangsa kamu di dunia nyata, cuman ini pembatas ada mantra khusus. Tebak siapa yang buat?"
"Orang gembel yang maknya bunuh diri, 'kan?"
"Asem!" Kesal Ayako.
"Bukan! Jelas akulah! Aku udah persiapin semuanya matang-matang dan--" Ucapan Ayako terpotong.
"Gosong, nggak?" tanya Nando sok polos.
"Itu mulut lama-lama gue ubah jadi air pancoran!" balas Ayako yang sudah kesal sehingga Nando pun diam, menutup mulutnya rapat-rapat. Dia takut jika ketampanannya akan berubah drastis. Apalagi jadi air pancoran. Kan serem?
"Oke. Sekarang jalan. Gue janji gak akan lepasin tangan lo masako," ucap Nando bersungguh-sungguh.
"Nama aku Ayako, bukan masako! Itu mulut kalo manggil orang bisa nggak sih yang bener dikit hah?!"
"Iya maaf, Masako. Yaudah jalan kuy. Keburu waktunya sisa loh."
"Ayako, s****n kamu! Waktu itu habis bukan sisa. Manusia nggak ada otak banget!" Ayako mulai naik pitam lagi.
"Iya-iya. Yaudah yuk," ajak Nando antusias.
Entah ada apa dengan jiwanya. Padahal, dia baru saja melihat Ayako. Bahkan kenal saja belum dekat banget. Namun, ada rasa asik pada diri Ayako yang membuat dirinya menjadi care untuk berbicara.
Ayako dan Nando pun memulai perjalanan menuju perpustakaan IVI. Sebenarnya, IVI tidak menyediakan hal-hal tersebut sebelumnya. Namun, karena lambat laun IVI memiliki banyak makhluk yang siap dikirim ke neraka, sang pemimpin IVI pun mendirikan sebuah perpustakaan, tempat jual-beli darah, ajaran sesat untuk mengajak manusia ke jalan yang salah, dan masih banyak lagi. Tujuannya, agar mereka tidak bosan dan sebelum mereka benar-benar lenyap dari dunia IVI untuk dikirim ke neraka, mereka mengajak para manusia agar sesat juga. Aneh emang! Kok bisa ada bosen, yah? Mana saya tahu, saya kan ikan :')
Sepanjang perjalanan, jari-jari Nando tak lepas sedikit pun dari jari-jari Ayako. Sesuai janji tadi. Sekitar 10 menit, mereka pun sampai di tempat tujuan. Yah, sekarang mereka berada di sebuah perpustakaan yang berisi makhluk gaib dengan beragam rupa.
(Nggak usah mikir atau ngarep mereka cantik atau enggak! Udah jelas kayak muka yang baca! :') Apa? Mau marah? Sok atuh!)
"Buku tentang implicatus vitam lengkap ada?" tanya Ayako pada penjaga perpustakaan.
"Buku implicatus vitam? Kenapa kau mencari itu? Siapa kau?" Penjaga itu balik bertanya.
"Ah, saya hanya anak kecil yang penuh dendam. Hari ini saya bosan dan belum dapat darah sedikit pun. Karena banyak antri, aku iseng ingin ke sini dan membaca tentang dunia kesayanganku ini," bohong Ayako.
Mendengar kata "darah" dari mulut Ayako, tentunya membuat Nando jijik dan ingin muntah. Namun, dengan sekuat tenaga dia menahannya. Apalagi, sekarang ada yang membaca buku dengan secangkir darah merah. Ngeri?
"Buki itu hanya ada di toko spesial. Bukan di perpustakaan. Kalau kau ingin membacanya, ya datang aja di toko yang ada di pojok sini. Toko dengan bangunan tinggi dan tua. Cat tembok berwarna hitam. Di sana, berhati-hatilah jika ingin meminta!" tutur penjaga tersebut.
Dengan rasa kecewa, Ayako pergi mencari toko itu.
"Ay, liat tuh. Kok ada barang antik bagus, yah?"
Pertanyaan Nando sontak membuat Ayako menoleh. "Barang yang mana?" tanyanya sambil berjalan.
"Itu tuh. Sumpit antiknya keren banget. Gue kira, di sini semuanya bakal menjijikkan, eh ternyata enggak juga," curhat Nando. Eh, curhat?
"Itu tongkat sihir, setan!"
"Eh, hantu kok bisa ngumpat?
"Iri bilang!"
"Idihhhh ..."
Begitulah isi sepanjang perjalanan. Debat terus. Nggak sadar apa kalau mereka setan sama manusia?
Mata sempurna milik Ayako terus menatap setiap inci are toko di IVI. Sampai sekarang, lima belas menit lamanya dia belum menemukan apapun.
"Nan, kalau liat toko itu, kamu bilang ke ak--" Ucapan Ayako terpotong ketila menoleh tidak mendapati sosok yang dia gandeng tadi.
Di mana Nando? pikirnya.
"Nandoooo."
To Be Continued ...
Senin, 19 Oktober 2020
A Story Written by Alexiarischa feat. IamFitri18__