Pandanganku masih menatap kaca spion mobil Bian, menatap sosok tinggi Adrian yang masih berdiri hingga pandanganku menghilang saat mobil Bian membelok. Aku merasakan aura kecanggungan di antara aku dan Bian, setelah aku memintanya menunggu di mobil Bian hanya terdiam saja sejak tadi.
Bahkan, hingga saat ini sudah hampir masuk ke daerah rumahku juga dia masih diam. Selama 15 menit perjalanan kami, suara radio yang diputar saja yang memenuhi dalam mobil.
"Mampir dulu," ajakku pada Bian setelah ia menarik rem.
Bian menggelengkan kepalanya menatapku, "enggak usah Luna, aku langsung balik aja."
Aku merasa bersalah dan tidak enak pada Bian, tapi aku juga bingung harus menanggapinya bagaimana saat ini. Aku sedang bingung dengan diriku sendiri dan tindakan yang aku ambil, aku terkadang merasa