Mataku membesar memandang Adrian, tanganku langsung mencubit perutnya cepat membuat Adrian langsung meringis.
"Aw, Lun sakit. Ampun Lun," ucap Adrian terus mengaduh, aku melepaskan cubitanku setelah beberapa saat.
Adrian mengusap - usap bagian perut bekas aku cubit tadi, aku menatapnya dengan pandangan sedikit merasa bersalah. "Sakit?" tanyaku mendekati Adrian.
Ia mengangkat sedikit bagian pinggang bajunya. "Biru gitu, kekerasan nih. Kekerasan apa ya soalnya belum berumah tangga jadi gak mungkin kekerasan dalam rumah tangga," ucap Adrian sambil tertawa.
Aku heran di setiap sela - sela waktu ada saja candaan yang dilontarkan oleh Adrian, aku menarik baju Adrian menutupi bagian pinggangnya yang kucubit tadi.
"Maaf ya," ucapku pada Adrian.
Cengiran terlihat jelas, "gak apa - apa, gitu d