Langit semakin meredup, tertutup dengan awan gelap yang mulai datang. Matahari bahkan seakan bersembunyi, seolah enggan terlihat.
"Pokoknya, apa yang kamu lakuin aku pasti akan dukung kamu. Karena sebagai sahabat aku cuma bisa lakuin itu," ucap Bian tiba - tiba.
"Terima kasih," ucapku dengan senyuman kecil.
Setidaknya aku memiliki Bian di sini, aku tidak akan bisa sekuat ini jika bukan karena dorongan dan semangat darinya. Mungkin aku akan menangis seharian jika tidak ada Bian, tapi dia benar - benar membantuku.
"Luna, tentang perkemahan waktu itu."
Bian terdiam beberapa saat, ia seakan ragu saat ingin berbicara kepadaku.
"Ada apa Bian?" tanyaku mengalihkan pandanganku menjadi menatapnya.
"Ini mungkin terdengar gila dan tidak tepat, tapi aku cinta sama kamu Luna."
Aku menutup mulut