Dengan basah kuyup Bian kembali masuk ke dalam mobil, ia menginjak pedal gas saat ayah mulai menarik mobilnya. Beberapa kali percobaan tidak berhasil, aku semakin merasa bahwa ban mobil sudah terjebak cukup dalam.
Kaca mobil bahkan sudah cukup banyak terkena lumpur dari ban yang memercik, Bian menginjak gas sekali lagi namun tetap saja gagal.
Hujan bahkan seakan tidak berniat berhenti, aku menatap Bian yang sudah mulai memucat.
"Gantian aja sini, biar aku yang ngegas. Muka kamu udah pucet banget," ucapku menyarankan.
Bian masih fokus pada usahanya, ia bahkan terlihat tidak mendengar ucapanku. Kulihat ayah menghentikan mobil selama beberapa saat, aku mengambil kesempatan itu untuk meraih tangan Bian.
"Kenapa Lun?" tanya Bian menatapku sejenak.
Sudah kuduga ia tidak memperhatikan ucapa