Penolakanku pada ajakan Bian sia - sia, padahal tidak terlalu jauh untuk berjalan dari sini menuju rumah. Aku berdiri, lalu menginjak injakan kaki sebelah kiri, memegang pundak Bian untuk membantuku menyeimbangkan diriku. Motor Bian memang besar dan juga tinggi di bagian belakang membuatku sedikit kesulitan untuk menaikkinya.
"Dari mana, Lun?" tanya Bian memulai pembicaraan sesaat setelah aku naik di kursi belakang, aku berhati - hati saat menaiki motor .
Bian melajukan motornya dengan kecepatan sedang, mungkin karena ia sadar jika aku sedikit merasa kedingingan akibat suhu udara setelah hujan. Bahkan rasanya tubuhku sedikit menggigil, entah mengapa hujan tiba - tiba turun padahal sejak tadi langit terlihat sangat cerah.
Aku bahkan yang tadinya sempat kepanasan karena berjalan kaki mula