Aku langsung memegang tanganku yang gemetar, pintu diketuk secara intens beberapa kali. Kotak itu terlempar jauh, namun masih dapat aku lihat.
"Luna, ada apa?!" tanya Ayah dengan sedikit membentak dari balik pintu.
Gagang pintu juga berulang kali diputar, namun tidak bisa di buka karena aku yang sudah mengunci pintu tadi saat masuk kamar.
"Luna! jawab Ayah," lanjut Ayah masih dengan nada yang meninggi.
"Iya, Luna gak apa - apa. Nanti Luna ke depan," ucapku masih terkejut.
"Bener Luna?" tanya Ayah lebih memastikan.
"Iya," sahutku berusaha baik - baik saja.
Langkah kaki Ayah judengar menjauh, bersamaan dengan suara langkah kaki Bian yang mengikuti ayah.
Aku mendekat, meraih kembali kertas yang ada di lantai. Aku menggenggamnya kasar, air mata turun dengan deras melewati pipiku.
Mata