Dylan kesal lagi-lagi Casey berulah, tidak cukup dengan mengirim surat dan undangan kali ini ayah gadis itu, Duke Adrian muncul di hadapan ayahnya. Meskipun ayahnya menjabat sebagai salah satu menteri di kerajaan ini entah mengapa Dylan yakin Casey pasti mengadukan sikapnya pada ayahnya.
"Siapkan hadiah, kita akan berangkat ke kediaman Lindberg," ujar Dylan pada Kiev.
Semua hadiah mulai dari gaun, sepatu, hingga permata berjejer rapi di kereta kuda miliknya.
"Putriku persiapkan dirimu, ibu dengar pangeran sedang bergerak mengunjungimu," ujar Anastasia antusias.
Bukan suatu hal baru jika ibuku berhasil mengetahui informasi tentang kerajaan. Casey pernah mendengar pepatah bahwa dinding kerajaan pun bisa bernyanyi.
Casey mempersiapkan dirinya, dia mengenakan gaun hijau cerah. Semua pelayannya mengatakan warna hijau cocok dengan kulit pucatnya.
Dylan hanya bermaksud mengantarkan hadiah dan sedikit berbasa-basi tentang kepulangannya tapi tampaknya keadaan semakin runyam saat Casey muncul dengan gaun hijaunya.
"Pangeran, setelah menjelajahi negeri lain anda tentu merindukan bercengkrama dengan gadis masa kecil anda. Casey akan mengajakmu berjalan-jalan di taman keluarga Lindberg," ujar Anastasia menutup setengah wajahnya dengan kipas sutra miliknya.
Dylan yang tak kuasa menolak terpaksa menurut saja. Sedangkan Casey di sampingnya menatap wajah Dylan dengan mata berbinar.
Baru setengah jalan Dylan seolah kehabisan energi. Casey yang katanya anggun itu berbicara tanpa henti, dan selalu minta Dylan menatap wajahnya ketika berbicara. Dylan tentu saja menolak, wajah Casey terlalu dekat dan itu membuat Dylan gugup.
"Pangeran anda baik-baik saja? Wajah dan telinga anda memerah," Casey refleks mengulurkan tangannya menyentuh dahi.
Secepat kilat Kiev menahan tangan Casey. Casey hampir saja kehilangan tangannya. Dylan adalah putra mahkota dan dilarang disentuh oleh siapapun tanpa seizin kerajaan.
"Aku harus pulang," ujar Dylan sembari membalikan badannya menuju tempat kereta berada.
"Haiss apa yang anak itu lakukan, bukankah ini waktunya mengambil hati pangeran?," kesal Anastasia.
Anastasia bersama Dorkas dan Rea sibuk mengintip interaksi pangeran dan Casey. Dengan berat hati Anastasi tersenyum melambai saat kereta kerajaan meninggalkan istana.
"Apa yang terjadi?," tanya Anastasia ingin tahu.
Casey menceritakan kejadian tersebut. Setelah mendengar penuturan putrinya Anastasia memijat keningnya pelan.
"Dorkas katakan padaku kalau aku salah mendidik Casey," tanya Anastasia sambil duduk di ruang pribadinya.
"Tentu saja tidak nyonya, baru kali ini Nona Casey lepas kendali. Lebih tepatnya saat bertemu Pangeran. Sepertinya ini hal yang wajar menanyakan kondisi orang yang sedang sakit," ujar Dorkas tak yakin.
Anastasi memejamkan matanya, ingatannya kembali pada saat Casey kecil dimana gadis itu menangis seharian di kamar. Menolak untuk makan dan sekolah. Setelah Anastasia membujuknya bahwa saat kembali dari luar negeri pangeran akan menikahinya, Casey kembali bersemangat.
Sejak itu Anastasi mendidik Casey lebih keras untuk memenuhi kriteria calon pengantin pangeran.
Sementara itu di istana Raja Stuart menyerahkan laporan keuangan kerajaan pada Dylan dan memintanya memeriksa semua laporan tersebut.
"Bukankah Putri Duke Lindberg sangat manis," goda Raja Stuart.
Dylan tersenyum kecut.
Setelah ayahnya pergi dari ruangannya, Dylan menghempaskan bongkahan laporan itu di atas meja.
Jari-jarinya menyisir rambut hitamnya kasar. Ada banyak laporan yang harus dikerjakannya, entah mengapa wajah khawatir Casey selalu terngiang di benaknya.
"Tuan, ucapan Raja barusan pertanda anda harus segera membawa pasangan anda. Lusa nanti ada pesta menyambut kedatangan anda dan anda akan memulai debut pertama," ujar Kiev pelan.