Pesta penyambutan pun tiba, semua bangsawan yang ada di Dormanum dan kerajaan tetangga diundang hadir dalam perayaan tersebut.
Anastasia memilihkan baju terbaik dari butik miliknya khusus untuk Casey. Gaun merah maroon, memamerkan leher dan sebagian d**a dipadukan dengan sarung tangan hitam
"Ya ampun putriku, gadis tercantik di Dormanum," puji Anastasia.
Rambut coklat Casey dibiarkan tergerai dengan aksen bergelombang di ujung rambutnya. Sebuah fascinator sebagai hiasan kepala.
Semua pandangan tertuju pada Casey, saat dirinya memasuki aula kerajaan. Semua orang mengaguminya kecuali Dylan yang menatapnya tanpa ekspresi. Casey duduk di tempat yang telah disediakan untuknya.
Tak lama berselang, semua mata kembali terpana ke arah pintu. Casey yang sedang fokus menatap Dylan ikut mengalihkan pandangan ke arah pintu utama.
Seorang gadis berambut perak berkilau, mengenakan gaun malam berwarna biru gelap. Mata safir dan warna rambutnya terlihat mencolok.
Gadis itu, Liliana Arnaugh putri dari Raja Silvian Arnaugh Jr. yang saat ini memerintah di kerajaan Dortmund.
Casey memamerkan senyum kecutnya melihat Lilian masuk dengan anggunnya. Gadis itu dipersilahkan duduk di hadapan Casey.
Casey meneliti wajah Lilian dan gaun yang dikenakan Lilian. Terbesit rasa iri melihat rambut perak indah Lilian. Lilian adalah teman angkatan Dylan di akademi bangsawan tempat mereka belajar saat kecil. Lilian datang ke Dormitten bukan tanpa alasan, Raja dan Ratu Dortmund jelas menginginkan posisi putri raja bagi anaknya.
Lilian mengibaskan kipas perak miliknya, dia melakukan hal yang sama. Meneliti Cassiopeia Lindberg yang katanya bunga kelas atas. Menurut Lilian, Casey tak sesuai dengan posisi yang akan diberikan Dylan. Wajah Casey memancing permusuhan dan Lilian banyak mendengar bahwa Casey sangat ceroboh. Mata Lilian memancing, melihat wajah dingin Casey.
Aura persaingan terlihat di antara mereka, Lilian memaksakan senyumnya menyapa Casey.
"Putri Cassiopeia, senang bertemu anda," ujar Lilian.
Casey membalas sapaan itu dengan sikap canggung.
Bangsawan yang hadir di ruangan mulai berbisik membandingan kedua putri tersebut.
Dylan resmi diperkenalkan pada pesta penyambutan tersebut. Wajah tampan, rambut hitam, dan sorot mata tajamnya mengundang decak kagum tamu yang hadir. Casey bahkan mendengar seseorang berbisik bahwa rambut hitam dan perak sangat cocok.
Selama pesta berlangsung Casey tak bisa bersosialisasi dengan benar. Dia terus menerus menolak ajakan dansa dari bangsawan lain, sedangkan Dylan langsung memilih ibunya di kesempatan dansa pertama.
Usai berdansa Dylan terlihat menuju balkon, Casey berusaha menyusul Dylan. Casey melihat Dylan sedang bercakap dengan Lilian di balkon, wajah menyebalkan Lilian membuat Casey tanpa sadar menyela percakapan itu.
Lilian tentu saja kaget dengan kedatangan Casey. Tampaknya tak perlu dipancing Casey akan muncul sendiri dan menunjukan kecerobohannya.
Tak ingin membuat keributan di istana, Lilian undur diri dan kembali ke ruang pesta. Wajah kesal Dylan tergambar jelas.
"Yang Mulia aku mencari anda karena anda tampaknya tak nyaman berada di ruang dansa," tanya Casey.
Dylan mengerutkan keningnya, dalam hati Dylan merasa pertanyaan Casey terasa konyol. Bukankah undangan pesta ini adalah hal lumrah di kaum bangsawan dan kerajaan?
"Ada yang ingin kau tanyakan?," balas Dylan dingin.
Tanpa basa-basi Casey mengajak Dylan berdansa yang tentu saja langsung ditolak oleh Dylan.
Casey yang kebingungan mencari tahu lebih lanjut mengala Dylan terus menolak ajakannya. Casey yakin apa yang dipelajari selama ini memenuhi kriteria calon pendamping pangeran.
Sejak kecil Casey hanya memiliki satu cita-cita yakni menjadi pasangan Dylan. Semua proposal pernikahan yang masuk tak pernah dihiraukannya. Malam ini melihat kehadiran Lilian membuat Casey merasa cita-citanya terancam.