Hujan deras mulai turun membasahi bumi. Air hujan itu membasahi bulu-bulu ketujuh harimau yang basah oleh keringat dan percikan darah musuh. Suasana setelah pertempuran tadi masih terasa mencekam. Hanya terdengar suara gemuruh guntur yang bergantian dengan desisan angin yang menusuk tulang.
Mereka kini berada di sebuah gua besar yang tersembunyi di balik tebing curam. Tempat ini adalah markas rahasia mereka, tempat di mana mereka bisa kembali ke wujud asli dan memulihkan tenaga tanpa perlu takut diserang oleh musuh.
Perlahan-lahan, cahaya keemasan mulai memancar dari tubuh mereka. Sosok harimau yang gagah itu perlahan menyusut dan berubah kembali menjadi wujud manusia. Kulit mereka kembali halus, otot-otot mereka kembali terlihat proporsional, dan tatapan mata tajam predator itu perlahan berubah menjadi tatapan manusia biasa, namun masih menyimpan sisa-sisa kegarangan.
Gumara, Wira, Bima, serta yang lainnya kini duduk melingkar di sekitar api unggun yang baru saja dinyalakan oleh Bima. Api itu berderak kecil, memberikan kehangatan di tengah dinginnya malam hutan. Wajah mereka terlihat lelah, namun mata mereka tetap terjaga dan waspada.
"Pertarungan tadi tidak mudah," ujar Wira memecah keheningan. Ia menyeka keringat di dahinya dengan kain yang ada di pinggangnya. "Mereka jauh lebih banyak dan lebih kuat dari perkiraan kita."
Gumara mengangguk pelan sambil menatap nyala api. "Benar, Kang Wira. Mereka bukan pasukan sembarangan. Gerakan mereka terlatih, dan ilmu hitam yang mereka gunakan sudah cukup tinggi. Sepertinya dalang di balik semua ini sedang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencari kita."
"Dan mereka pasti tidak akan berhenti sampai kita habis," tambah Bima dengan nada kesal. Ia menendang-nendang tanah dengan kakinya. "Dasar sampah masyarakat! Hanya bisa mengandalkan jumlah dan ilmu setan!"
Di sudut lain, Sari dan Rini sedang duduk dengan tenang. Mereka berdua tampak cantik jelita di bawah cahaya api unggun, namun aura ketenangan itu justru membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa hormat.
Sari mengambil selembar daun obat, lalu meremasnya dan menempelkannya ke luka gores kecil di lengan Gumara. "Jangan terlalu memaksakan tenagamu, Gumara. Tubuhmu juga butuh istirahat. Kekuatan harimau itu besar, tapi ia juga memakan banyak energi dari dalam tubuh kita."
Gumara tersenyum tipis. "Terima kasih, Sari. Aku tidak apa-apa. Hanya saja... aku terus memikirkan kata-kata pemimpin mereka tadi."
"Maksudmu?" tanya Rini penasaran.
"Dia bilang... bahwa legenda kita akan mereka hancurkan," jawab Gumara pelan. "Itu membuatku berpikir. Sebenarnya, dari mana kekuatan ini berasal? Mengapa kita yang dipilih menjadi manusia harimau? Apa sebenarnya takdir yang menanti kita?"
Pertanyaan Gumara membuat suasana di gua itu menjadi hening sejenak. Pertanyaan itu adalah pertanyaan besar yang mungkin sering terlintas di benak mereka semua, namun jarang sekali diucapkan.
Wira menghela napas panjang. Ia menatap wajah-wajah saudaranya satu per satu. Wajah yang penuh tekad, wajah yang penuh beban tanggung jawab.
"Kalian tahu kan cerita dari leluhur kita?" mulai Wira dengan suara berat dan bijaksana. "Dahulu kala, nenek moyang kita adalah orang-orang yang sangat saleh dan sakti. Mereka hidup berdampingan dengan alam dan hewan-hewan hutan. Namun pada masa itu, dunia dipenuhi oleh kejahatan yang sangat besar. Manusia saling membunuh, yang kuat menindas yang lemah, dan keadilan hilang entah ke mana."
Wira berhenti sejenak, menatap api unggun yang membara.
"Karena tidak tega melihat penderitaan rakyat, para leluhur memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk menegakkan kebenaran. Doa mereka didengar. Mereka diberi kekuatan untuk menyatu dengan alam, mengambil sifat terkuat dari raja hutan, yaitu Harimau. Kekuatan, kecepatan, keberanian, dan naluri yang tajam."
"Tapi itu bukan hadiah, melainkan amanah," sambung Wira lagi. "Kekuatan ini diberikan dengan syarat: Hanya boleh digunakan untuk melindungi, bukan untuk menyerang yang tidak bersalah. Jika kita melanggar, maka kekuatan itu akan berubah menjadi kutukan yang akan memakan diri kita sendiri."
"Jadi... kita ini penjaga?" tanya Bima.
"Betul," jawab Wira tegas. "Kita adalah penjaga keseimbangan. Kita adalah pedang bagi yang tertindas, dan perisai bagi yang lemah. Itulah sebabnya mengapa kita berjumlah tujuh. Tujuh melambangkan kesempurnaan, dan juga melambangkan bahwa kekuatan sejati ada pada persatuan."
Rini menunduk, matanya berkaca-kaca sedikit. "Berarti... perbedaan kita dari manusia lain itu bukan aib, tapi kehormatan ya?"
"Benar sekali, Rin," jawab Sari sambil memegang bahu temannya. "Kita mungkin berbeda. Kita bisa berubah wujud, kita punya kekuatan yang menakutkan. Tapi hati kita tetap hati manusia. Kita punya rasa kasih sayang, punya rasa malu, dan punya rasa takut. Itulah yang membedakan kita dengan binatang buas dan juga membedakan kita dengan musuh-musuh kita yang kehilangan hati nurani."
Gumara merasakan sesuatu yang hangat mengalir di dadanya. Rasa ragu yang tadi ada perlahan hilang. Ia mengangkat wajahnya, tatapannya kembali penuh semangat.
"Jadi, selama kita berpegang pada prinsip itu... selama kita tidak menyalahgunakan kekuatan ini... tidak ada yang bisa mengalahkan kita, kan?" tanya Gumara.
"Tentu saja!" seru mereka serentak.
"Tapi..." Wira kembali mengingatkan, "Kita harus ingat, musuh utama kita bukan hanya orang-orang yang punya ilmu hitam itu. Musuh terbesar kita ada di dalam diri sendiri. Naluri harimau itu liar, ia haus darah dan pertarungan. Kita harus selalu menjaga akal sehat dan hati nurani kita agar tidak hilang kendali. Jika sampai salah satu dari kita kehilangan kewarasan saat berubah wujud... maka bahaya yang akan terjadi sangat besar."
Peringatan Wira itu sangat berat. Mereka semua mengerti maksudnya. Ada kisah-kisah lama yang menceritakan tentang manusia harimau yang gagal menguasai dirinya, sehingga menjadi harimau liar yang membunuh tanpa pandang bulu, dan akhirnya harus ditumpas oleh saudaranya sendiri. Itu adalah hal yang paling menyedihkan dan paling mereka takuti.
"Kita janji ya..." gumam Sari pelan namun tegas. "Apa pun yang terjadi, kita akan saling mengingatkan. Kalau ada satu yang mulai gelap mata, yang lain harus menolong. Kita tidak boleh kehilangan salah satu dari kita."
"Janji!" kata mereka semua serempak sambil mengulurkan tangan ke tengah, menumpukkan tangan mereka satu per satu. Tangan Wira, Bima, Gumara, Sari, Rini, dan dua saudara lainnya yang selama ini setia mendampingi.
Di dalam gua yang gelap itu, ikatan persaudaraan mereka semakin kuat. Mereka bukan hanya sekelompok orang sakti, mereka adalah keluarga. Keluarga yang terikat oleh darah, takdir, dan kehormatan sebagai Manusia Harimau.
Tiba-tiba...
GLEERRRR!!!
Petir menyambar sangat keras tepat di luar gua, disusul suara guntur yang begitu dahsyat hingga membuat dinding gua bergetar. Cahaya kilat itu masuk sejenak, menerangi wajah mereka yang kaget.
Dan di saat yang bersamaan, Gumara merasakan sakit yang tajam di kepalanya. Ia memegang kepalanya kuat-kuat.
"Gumara! Kau kenapa?!" seru Rini panik.
"Ada... ada sesuatu..." gumam Gumara terbata-bata. "Aku melihat sesuatu... sebuah bayangan hitam yang sangat besar... jauh lebih gelap dari malam... dan dia tertawa..."
Wira langsung berdiri, wajahnya berubah serius. "Itu pertanda buruk. Musuh besar kita sudah sadar keberadaan kita. Dia mengirim pesan lewat mimpi batin."
"Maksudmu? Dia sudah dekat?" tanya Bima siap siaga.
"Bukan hanya dekat..." jawab Gumara pelan, matanya terbelalak menatap kegelapan di luar gua. "Dia sudah menunggu kita di depan mata."
Hujan di luar semakin deras, angin semakin kencang meraung seperti raksasa yang marah. Petualangan mereka baru saja melewati babak awal, namun ancaman terbesar kini sudah mulai menampakkan diri. Misteri tentang asal-usul kekuatan mereka, musuh bebuyutan yang ingin menghancurkan legenda ini, dan cobaan-cobaan berat yang akan menguji persaudaraan mereka... semua itu kini terbentang di depan mata.
Mereka adalah Tujuh Manusia Harimau. Mereka tidak bisa mundur, mereka tidak bisa menyerah. Karena di pundak merekalah beban keadilan dan keselamatan dunia ini bertumpu.