Jalan menuju vila itu tidak ada di peta digital mana pun. Renjana sudah memeriksanya tiga kali — citra satelit komersial memperlihatkan rumpun hutan jati di kaki perbukitan utara Kota Pradipa, sebidang atap yang sengaja dikaburkan, dan sebuah akses yang dicatat sebagai "jalan perkebunan pribadi". Tapi anggaran keamanan yang ia gali dari pembukuan Wijanarko tidak berbohong: properti tanpa penghuni tidak menghabiskan tiga ratus juta sebulan untuk "pemeliharaan dan pengamanan".
Mereka berangkat tengah malam dengan mobil tua tanpa GPS aktif. Kelana di belakang, laptop di pangkuan, kabel-kabel menjuntai ke antena parabola kecil yang ia rakit dari komponen pasar loak. Arsa menyetir; ia satu-satunya yang tahu jalan masuk lama, dari masa ketika vila itu masih disebut "rumah peristirahatan keluarga".
"Berhenti di sini," kata Arsa. "Lebih dekat lagi, kamera termal mereka menangkap mesin."
Mereka mendaki sisa jalan dengan kaki. Tanah lembap, bau humus, suara jangkrik yang tiba-tiba berhenti setiap kali mereka melangkah terlalu keras. Renjana memegang teropong malam — barang sewaan, bukan miliknya, tak meninggalkan jejak pembelian. Dari balik gundukan, vila itu akhirnya terbuka di hadapan mereka.
Dan ia menahan napas.
Ini bukan rumah peristirahatan. Ini benteng.
Pagar listrik ganda. Empat menara lampu di sudut, menyapu halaman dengan pola yang tidak acak — terjadwal, profesional. Renjana menghitung tujuh penjaga yang terlihat, dan ia tahu yang tak terlihat selalu lebih banyak. Anjing. Sebuah pos jaga dengan kaca gelap di gerbang. Antena komunikasi di atap. Semua untuk menjaga satu rumah kosong.
"Astaga," bisik Kelana, membaca dari layarnya. "Mereka pakai jaringan tertutup. Bukan wifi rumahan. Ini grade militer. Aku nggak bisa masuk dari sini, Kak. Bahkan buat dengar pun aku harus lebih dekat."
"Berapa dekat?"
"Dekat yang bikin kita ketembak."
Renjana tak menjawab. Ia menggeser teropong ke lantai dua, ke deret jendela yang tirainya tertutup rapat. Satu per satu. Gelap. Gelap. Gelap.
Lalu di jendela keempat, sebuah siluet.
Tipis. Tinggi sedang. Bahu yang menurun seperti orang yang lama tidak punya alasan untuk menegakkannya. Sosok itu berdiri diam di balik tirai tipis, menatap keluar ke arah malam, ke arah hutan — ke arah mereka, meski tak mungkin ia melihat apa pun. Renjana merasakan sesuatu di dadanya mengeras menjadi batu.
Tujuh tahun. Dani berusia sepuluh tahun terakhir kali ia melihatnya. Anak yang takut petir, yang menyembunyikan kelereng di bawah bantal, yang menangis ketika ikan cupangnya mati. Sosok di jendela itu seusia tujuh belas. Renjana tidak bisa melihat wajahnya. Tapi sesuatu dalam cara sosok itu berdiri — tak bergerak, tak berharap — membuat tenggorokannya tercekat.
"Itu dia," katanya pelan. Bukan pertanyaan.
Arsa menatapnya. "Kau yakin?"
"Tidak." Renjana menurunkan teropong, memaksa suaranya kembali datar. "Tapi anggaran ini, penjagaan ini — Reksa tidak menjaga barang kosong selama tujuh tahun. Dia menjaga sesuatu yang bernilai. Dan satu-satunya yang punya nilai sebesar ini untuk dia adalah leverage."
Tirai itu bergerak. Sosok itu menghilang, ditarik mundur ke dalam gelap kamar oleh seseorang yang tak terlihat. Lampu menara menyapu jendela, kosong sekarang.
Renjana memejamkan mata. Naluri pertamanya — naluri yang sudah tujuh tahun ia asah jadi pisau — adalah masuk malam ini juga. Memotong pagar, melumpuhkan penjaga, membakar tempat ini sampai rata. Adiknya ada di sana. Sekarang. Dalam jangkauan.
Tapi ia telah belajar membenci nalurinya.
"Kalau kita serang sekarang," ia berkata, lebih kepada dirinya sendiri, "kita mati di pagar pertama. Dan kalaupun tidak — Reksa akan langsung tahu seseorang datang untuk Dani. Dia akan tahu Silla hidup. Dan dia akan membunuh Dani sebelum subuh, lalu pindah ke lubang yang tak akan pernah kita temukan."
"Jadi kita biarkan dia di sana?" Suara Kelana tegang. Anak itu masih muda, masih punya hati yang belum belajar menahan diri.
"Kita biarkan dia di sana," kata Renjana, dan setiap kata terasa seperti menelan pecahan kaca, "supaya nanti kita bisa membawanya keluar hidup-hidup. Bukan untuk dikuburkan."
Ia mengangkat teropong sekali lagi. Menghitung lagi. Penjaga, kamera, pola lampu, jalur masuk truk pasokan di sisi timur. Otaknya bekerja dingin sementara dadanya tercabik panas. Inilah dirinya yang sekarang: dua orang dalam satu tubuh. Yang satu ingin menghancurkan. Yang satu menyusun rencana.
"Kelana, aku butuh jadwal pasokan tempat ini. Siapa yang mengantar makanan, bahan bakar generator, obat. Setiap kendaraan yang masuk dan keluar selama tiga puluh hari ke belakang. Arsa, aku butuh denah lama vila ini — sebelum mereka memasang semua ini. Pintu, saluran, ruang bawah. Apa pun yang tidak mereka pikir kita ketahui."
"Dan kau?" tanya Arsa.
Renjana menatap jendela keempat yang kini gelap. "Aku akan mencari cara memutus tempat ini dari dunia. Pelan-pelan. Sampai mereka tak sadar mereka sudah sendirian."
Mereka mundur sebelum fajar, menuruni bukit dengan kaki yang basah dan diam yang berat. Di mobil, tak ada yang bicara. Renjana menatap jendela, ke arah bukit yang kini hanya bayangan hitam di belakang mereka, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun ia merasakan sesuatu yang lebih berbahaya dari dendam.
Harapan.
Dan harapan, ia tahu, adalah hal yang membuat orang ceroboh.