Butuh sembilan hari.
Sembilan hari Kelana memetakan pola pasokan vila — truk air setiap Selasa, generator solar setiap dua minggu, dan satu van putih tanpa logo yang datang setiap Jumat sore membawa "kebutuhan medis". Sembilan hari Renjana membangun perusahaan cangkang baru yang diam-diam mengakuisisi penyedia internet satelit yang melayani kawasan perbukitan utara — satu-satunya jalur komunikasi vila ke dunia luar. Ia tidak memutusnya. Belum. Ia hanya ingin bisa mendengar.
Pada hari kesepuluh, Kelana memanggilnya tengah malam dengan suara yang berbeda. Datar. Hati-hati. Suara orang yang menemukan sesuatu yang tak ingin ia temukan.
"Aku berhasil tembus ke sistem interkom internal mereka," katanya saat Renjana tiba di apartemen sempit tempat Kelana tinggal, dikelilingi monitor dan bungkus mi instan. "Bukan kameranya — itu masih terlalu rapat. Tapi sistem suara antar-ruangan. Mereka pakai untuk koordinasi penjaga. Dan kadang... kadang tertangkap suara dari kamar."
"Mainkan."
Kelana ragu. "Kak, sebelum kau dengar—"
"Mainkan, Kelana."
Anak itu menekan tombol.
Suara berdesir keluar dari speaker. Statis, lalu jernih. Suara seorang remaja laki-laki, dan Renjana langsung tahu — bahkan sebelum otaknya sempat memprosesnya, tubuhnya sudah tahu — bahwa itu suara adiknya. Lebih dalam dari yang ia ingat. Tujuh tahun telah memecahkan suara anak kecil menjadi suara lelaki muda. Tapi ada sesuatu di nada itu, di cara ia menekan akhir kalimat, yang sama persis dengan Dani sepuluh tahun yang dulu meminta dibelikan es krim di tepi sungai.
Renjana harus berpegangan pada meja.
"...sudah kubilang aku tidak lapar." Suara Dani. Datar. Dingin. "Bilang sama Om Reksa aku tidak mau makan kalau dia tidak datang sendiri."
Suara lain, penjaga, berat dan tak sabar: "Om sibuk. Banyak masalah di kantor."
"Selalu masalah." Jeda. "Om bilang dia akan datang Sabtu lalu juga. Dia tidak datang."
"Dia menyayangimu, makanya dia menjagamu di sini. Di luar sana berbahaya buat kamu, Den. Orang-orang yang membunuh keluargamu masih mencari. Om melindungimu."
Hening panjang. Lalu suara Dani, pelan, hampir lembut:
"Aku tahu. Om Reksa satu-satunya yang peduli."
Renjana berhenti bernapas.
Bukan ketakutan dalam suara itu yang menghancurkannya. Bukan air mata, bukan teriakan, bukan permohonan. Ia sudah menyiapkan diri untuk itu — untuk adik yang menangis, yang menjerit minta tolong, yang membenci penjaranya. Ia bisa menanggung itu. Itu akan membuatnya lebih marah, lebih tajam.
Yang ia dengar jauh lebih buruk.
Dani menyebut nama orang yang memerintahkan pembantaian keluarganya — "Om Reksa" — dengan nada seorang anak yang merindukan ayahnya yang sibuk. Tidak ada benci. Ada kerinduan. Ada kepercayaan. Tujuh tahun penyekapan, dan mereka tidak sekadar mengurung tubuh adiknya. Mereka telah masuk ke dalam kepalanya, mengikis ingatan, dan menanam di tempatnya sebuah cerita: bahwa keluarganya dibunuh oleh musuh-musuh tak bernama, dan Reksa Wijanarko adalah penyelamat yang menampungnya.
Si pembunuh telah menjadikan dirinya sang penyelamat. Dan korbannya percaya.
"Kak?" Kelana menatapnya, cemas. "Kakak nggak apa-apa?"
Renjana tidak menjawab. Ia menatap titik-titik gelombang suara di layar — bentuk dari suara adiknya, naik turun, abstrak, jauh. Ada cairan panas di matanya yang ia paksa tidak jatuh. Tujuh tahun ia membayangkan adegan ini: menemukan Dani, mengulurkan tangan, membawanya pulang. Dalam setiap versi bayangan itu, Dani memeluknya dan menangis lega.
Tak satu pun versi itu menyiapkannya untuk kenyataan ini — bahwa adiknya mungkin akan melihat tangan yang terulur, dan menamparnya.
"Matikan," katanya akhirnya.
Kelana mematikannya. Hening kembali memenuhi ruangan.
"Mereka cuci otaknya," kata Kelana pelan. "Bertahun-tahun. Itu... itu bukan cuma penculikan, Kak. Itu—"
"Aku tahu apa itu." Suara Renjana datar lagi. Ia telah menelan kembali air matanya, mengunci sesuatu di dalam dirinya yang baru saja nyaris pecah. "Reksa tidak menjadikannya sandera. Dia menjadikannya senjata. Anak yang akan bersaksi, kalau perlu, bahwa keluarganya tak pernah dianiaya Wijanarko. Anak yang akan membenci kakaknya sendiri kalau diberitahu kakaknya datang."
Ia berdiri, dan ketika ia bicara lagi, suaranya telah menjadi besi.
"Ini mengubah rencananya, Kelana. Kalau aku membawa Dani keluar sekarang — bahkan kalau berhasil — dia tidak akan ikut. Dia akan melawan. Dia akan berteriak. Dia akan lari kembali ke orang yang membunuh ibu kita."
"Jadi apa yang kita lakukan?"
Renjana menatap layar yang gelap. Tujuh tahun ia mengasah dirinya untuk menghancurkan empat nama. Sekarang ia menyadari musuh kelima — yang paling sulit dari semua — adalah kebohongan yang sudah berakar di kepala adiknya sendiri. Dan kebohongan tidak bisa ditembak, tidak bisa diaudit, tidak bisa dipenjarakan.
"Pertama," katanya, "kita hancurkan dunia di sekitarnya. Setiap orang yang menjaganya, setiap rupiah yang membayar penjaranya, setiap kebohongan yang menopangnya. Kita runtuhkan semua sampai Reksa tak punya apa-apa lagi untuk melindunginya — atau untuk mengancamnya. Lalu, baru, kita ajari adikku siapa dirinya yang sebenarnya. Pelan. Hati-hati. Sebelum dia bisa dibujuk untuk membenciku."
Ia mengambil mantelnya.
"Simpan rekaman itu," katanya di pintu, tanpa menoleh. "Setiap detik. Suatu hari aku akan memutar ulang untuknya — supaya dia ingat bahwa bahkan dalam kandang, dia masih menunggu seseorang datang menjemputnya."
Ia keluar ke malam, dan dingin di luar terasa hangat dibanding yang ia bawa di dalam dada.