Setiap orang punya satu hal yang tidak akan ia korbankan. Itulah aturan pertama yang Renjana pelajari tentang menjatuhkan manusia. Bukan menyerang yang paling kuat — menyerang yang paling dicintai.
Untuk Damar, hal itu bernama Nadia.
Kelana menemukannya dalam tiga hari, menggali dari celah-celah arus uang. Damar — kepala keamanan dengan gaji resmi yang sederhana — mengirim seorang anak perempuan ke sekolah swasta termahal di Melbourne. Biaya kuliah, apartemen di pinggir taman, tunjangan bulanan yang lebih besar dari pendapatan resmi ayahnya dalam setahun. Semuanya dibayar lewat jalur berlapis: yayasan Bu Ratri, lalu cangkang di Singapura, lalu rekening pendidikan atas nama orang lain. Uang darah, dicuci bersih, dipakai untuk menjadikan seorang gadis tak bersalah seorang mahasiswi arsitektur.
Renjana mempelajari fotonya di layar untuk waktu yang lama.
Nadia berusia sembilan belas. Tersenyum di foto wisuda SMA, memegang gulungan ijazah, di sampingnya seorang wanita yang mungkin ibunya. Tidak ada Damar di foto itu — ayah yang membayar segalanya tapi tak pernah hadir, terlalu sibuk menjaga rahasia majikannya di sebuah negeri yang jauh. Gadis itu tidak tahu uang yang membiayai hidupnya datang dari tangan yang membunuh keluarga lain. Ia hanya tahu ia punya ayah yang bekerja keras dan jarang pulang.
Kelana menatap layar di sebelahnya, lalu menatap Renjana, dan ada ketegangan dalam suaranya. "Kak. Apa yang mau kita lakukan dengan dia?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Renjana tahu apa yang Kelana takutkan. Ia telah melihat dunia tempat orang-orang seperti Reksa beroperasi — dunia di mana anak-anak menjadi tawanan, di mana keluarga menjadi alat tekan, di mana seorang gadis sembilan belas tahun di Melbourne bisa menjadi kartu untuk memaksa ayahnya tunduk. Reksa tidak akan ragu menyentuh Nadia. Reksa sudah menyentuh Dani.
Dan untuk sesaat — satu detak jantung yang ia akan benci selama sisa hidupnya — Renjana mempertimbangkannya. Ancam gadis itu. Buat Damar bertekuk lutut. Tukar Nadia dengan Dani. Mata ganti mata, anak ganti anak.
Lalu ia mendengar suara Karyo dalam ingatannya, serak dan sekarat. *Kalau kau jadi monster, ingat jalan pulang.*
Dan ia mendengar suara Dani dalam rekaman. *Aku tahu. Om Reksa satu-satunya yang peduli.* Adiknya, dirusak oleh orang yang memperlakukan anak-anak sebagai pion.
"Tidak," kata Renjana, dan suaranya keras seperti memvonis dirinya sendiri. "Kita tidak menyentuhnya. Tidak mengancamnya. Tidak mendekatinya. Kalau ada satu garis yang tidak akan kita lewati, Kelana, ini garisnya. Aku tidak akan menjadi Reksa. Aku tidak akan menjadikan anak orang sandera untuk menyelamatkan anak keluargaku. Kalau aku melakukan itu, aku tidak menyelamatkan Dani — aku cuma memberinya kakak yang sama busuknya dengan penjaranya."
Kelana mengembuskan napas lega, seolah ia juga sedang diuji dan baru saja lulus. "Jadi?"
"Jadi kita pakai gadis itu dengan cara lain. Bukan dia yang kita serang. Tapi uang yang membiayainya."
Renjana menarik kursinya mendekat, jarinya menelusuri diagram aliran dana di layar. "Nadia adalah bukti. Setiap rupiah yang membayar sekolahnya adalah jejak uang haram yang mengalir dari Reksa, lewat yayasan Ratri, ke kantong pribadi Damar. Itu bukan gaji. Itu pencucian uang dan suap. Damar pikir dia menyembunyikan ini sempurna — tapi dia meninggalkan jejak karena cinta. Karena dia tidak bisa menahan diri memberi yang terbaik untuk anaknya."
"Kau mau bongkar jalur uangnya?"
"Belum. Aku menyimpannya." Renjana menyandar. "Bukti ini terlalu berharga untuk dibuang sekarang. Tapi suatu hari, ketika aku butuh Damar memilih — antara penjara dan membelot — aku akan letakkan ini di mejanya. Bukan untuk menyakiti Nadia. Tapi untuk menunjukkan padanya: aku tahu segalanya, aku bisa menjatuhkanmu dengan satu telepon ke pajak Australia dan satu ke kepolisian Pradipa, dan satu-satunya alasan aku belum melakukannya adalah karena aku menawarimu jalan keluar yang dulu tidak ada yang menawariku."
Ia menyimpan berkas itu ke dalam folder terenkripsi, jauh di dalam labirin yang hanya ia dan Kelana yang tahu jalannya.
"Garis ini penting, Kelana," katanya pelan, lebih kepada diri sendiri daripada anak itu. "Bukan karena Nadia tak bersalah — meski memang begitu. Tapi karena setiap kali aku menolak menyentuh yang tak bersalah, aku mengingatkan diriku bahwa aku masih punya jalan pulang. Begitu garis itu hilang, aku tak akan tahu lagi bedanya aku dengan mereka."
Di luar jendela, Kota Pradipa berkelip dingin dan acuh. Di suatu tempat di seberang lautan, seorang gadis tidur nyenyak, tak tahu hidupnya baru saja menggantung di ujung pilihan seseorang — dan tak tahu bahwa pilihan itu telah menyelamatkannya.