Wanita itu menunggunya di kafe seberang kantor, di meja sudut, dengan secangkir kopi yang sudah dingin dan map yang terlalu tebal untuk sekadar basa-basi.
"Renjana Asmara." Ia bukan bertanya. "Saya Maya. Wartawan. Saya menulis tentang Wijanarko Group sudah dua tahun."
Renjana sudah tahu siapa dia sebelum ia menyebut nama. Kelana telah memperingatkannya seminggu lalu — ada jurnalis yang menggali Wijanarko, idealis, keras kepala, dan baru-baru ini mulai mencari nama-nama orang yang "menderita" akibat kelompok itu. Naluri pertama Renjana adalah menghindarinya. Jurnalis adalah variabel yang tak terkendali. Mereka mengajukan pertanyaan, lalu menuliskan jawabannya, lalu jawaban itu hidup di luar kendali siapa pun.
"Saya tidak punya komentar untuk pers," kata Renjana, tetap berdiri.
"Saya belum bertanya apa-apa." Maya menatapnya tenang. "Tapi saya tahu beberapa hal. Saya tahu Renjana Asmara muncul entah dari mana enam bulan lalu, masuk ke lingkaran dalam Reksa Wijanarko, dan sejak itu — anehnya — orang-orang di sekitar Reksa mulai goyah. Hartono ketakutan. Hendra Lawu kena masalah bea cukai. Saya tidak percaya kebetulan, Bu Renjana. Saya percaya pola."
Renjana duduk. Pelan. Bukan karena ia ingin, tapi karena berdiri dan pergi sekarang justru akan mengonfirmasi pola yang baru saja perempuan itu sebutkan.
"Dan kesimpulan Anda?"
"Awalnya saya pikir Anda korban." Maya membuka mapnya, tapi tidak menunjukkan isinya. "Saya pikir Anda salah satu orang yang dihancurkan Wijanarko, dan Anda kembali untuk membongkarnya. Itu sebabnya saya datang. Saya pikir Anda bisa jadi narasumber." Ia menatap mata Renjana, mencari sesuatu. "Tapi sekarang saya melihat wajah Anda, dan saya tidak yakin lagi Anda korban. Anda terlalu... tenang. Korban tidak setenang ini."
Renjana menahan diri untuk tidak bereaksi. Perempuan ini berbahaya — bukan karena ia tahu banyak, tapi karena instingnya tajam. Ia membaca orang seperti Renjana membaca neraca.
Pilihan terbentang di hadapannya, jelas dan tajam. Usir dia — buat dia mencurigai lebih banyak, membuatnya menggali lebih dalam, tak terkendali. Atau—
Renjana berpikir cepat, lapis demi lapis, seperti yang selalu ia lakukan. Pers adalah senjata yang tak ia miliki. Di babak akhir nanti — ia sudah tahu, jauh di dalam, bahwa ia tidak akan menjatuhkan Reksa dengan peluru tapi dengan kebenaran yang disiarkan ke seluruh negeri — ia akan butuh suara. Megafon. Seseorang yang dipercaya publik, yang bisa mengubah berkas terenkripsi menjadi skandal nasional. Maya bisa menjadi senjata itu. Atau, jika ia salah menanganinya, menjadi peluru yang berbalik ke dirinya sendiri.
"Anda benar," kata Renjana akhirnya, memilih kebenaran yang terukur. "Saya bukan korban dalam arti yang Anda bayangkan. Saya investor. Saya menilai Wijanarko Group untuk klien saya, dan yang saya temukan membuat saya tidak nyaman menaruh uang di sana."
"Apa yang Anda temukan?"
"Tidak ada yang bisa saya berikan padamu hari ini." Renjana menatapnya. "Tapi saya akan jujur, Bu Maya. Anda sedang menarik benang yang sangat panjang, dan di ujungnya ada orang-orang yang sudah membunuh untuk menjaganya tetap tersembunyi. Hartono tidak ketakutan tanpa alasan. Hendra tidak jatuh tanpa alasan. Anda pikir Anda meliput perusahaan korup. Anda sebenarnya sedang berjalan ke arah jaringan yang akan menghilangkan Anda kalau Anda terlalu dekat tanpa perlindungan."
Maya tidak gentar. Justru sebaliknya — matanya menyala. "Saya sudah diancam sebelumnya."
"Belum seperti ini." Renjana mengeluarkan kartu nama kosong, menulis satu alamat email di baliknya — sebuah alamat anonim yang Kelana buat, tak bisa dilacak. "Jangan hubungi saya langsung lagi. Jangan datang ke kantor saya. Jangan sebut nama saya di catatan Anda — kalau ada yang menggeledah, nama Renjana tidak boleh ada di sana untuk keselamatan kita berdua. Pakai ini. Saya akan mengirim Anda hal-hal. Terverifikasi. Bisa dibuktikan. Tapi pelan, dan dengan syarat: Anda tidak menerbitkan apa pun sampai saya bilang sudah waktunya. Kita berdua sedang menebang pohon yang sama, Bu Maya. Kalau Anda menebang terburu-buru, pohon itu akan jatuh menimpa kita."
Maya menatap kartu itu lama, lalu menatap Renjana. "Kenapa saya harus percaya Anda?"
"Anda tidak harus. Tapi pikirkan ini — Anda sudah dua tahun menggali dan tidak punya satu pun bukti yang tahan di pengadilan. Saya bisa memberi Anda itu. Pertanyaannya bukan apakah Anda percaya saya. Pertanyaannya apakah Anda mau menunggu cukup lama untuk menulis cerita yang benar-benar menjatuhkan mereka — bukan cuma artikel yang mereka tutup dengan pengacara dalam seminggu."
Hening panjang. Lalu Maya mengambil kartu itu, memasukkannya ke saku. "Saya tidak suka diatur, Bu Renjana."
"Saya juga tidak." Renjana berdiri. "Tapi kita berdua tidak punya pilihan kalau ingin hidup cukup lama untuk menang."
Ia keluar dari kafe ke trotoar yang panas, dan untuk pertama kalinya ia merasa ia baru saja menambah amunisi yang tak pernah ia rencanakan. Senjata jangka panjang. Pers. Suara yang, suatu hari nanti, akan ia gunakan untuk meneriakkan kebenaran yang tujuh tahun ini hanya berani ia bisikkan.
Tapi senjata yang tak ia kendalikan penuh adalah senjata yang bisa meledak di tangannya. Ia harus menjaga Maya dekat — cukup dekat untuk berguna, cukup jauh untuk tak menyeretnya jatuh.