Jalur pelabuhan yang kini ia kuasai ternyata menyimpan hadiah yang bahkan tak Renjana duga.
Kelana menemukannya saat memetakan ulang rute logistik yang kini di bawah kendali perusahaan cangkang Renjana. Van putih tanpa logo yang datang ke vila setiap Jumat sore — "kebutuhan medis" itu — bahan-bahannya tidak datang dari kota. Mereka masuk lewat dermaga. Lewat jalur yang dulu milik Hendra Lawu. Lewat arteri yang sekarang Renjana yang pegang.
"Setiap pasokan ke vila lewat sini, Kak," kata Kelana, menunjuk diagram yang tersebar di dinding apartemennya. "Obat, makanan kalengan, suku cadang generator, bahkan bahan bakar. Semua transit di gudang dermaga 7 sebelum dikirim ke perbukitan utara. Gudang yang sekarang kita yang operasikan."
Renjana menatap diagram itu lama. Selama berminggu-minggu ia memperlakukan vila sebagai benteng yang tak tertembus — pagar listrik, menara lampu, jaringan tertutup. Ia telah memikirkan cara menyerang dari luar. Ia tidak pernah memikirkan bahwa pintu telah terbuka untuknya dari dalam, lewat rantai pasokan yang baru saja ia rebut.
"Kita tidak perlu menembus tembok," katanya pelan, dan untuk pertama kalinya sebuah rencana yang nyata mulai terbentuk. "Kita kirim orang kita masuk bersama pasokan."
Rencananya disusun selama empat hari, dengan kehati-hatian seorang pembongkar bom. Kelana akan menyamar sebagai teknisi — pemasangan ulang sistem pendingin gudang medis yang dikirim ke vila membutuhkan kalibrasi di lokasi. Permintaan resmi, faktur resmi, dari perusahaan resmi yang Renjana kendalikan. Tidak ada yang akan curiga pada seorang teknisi AC dengan tanda pengenal yang sah dan tas peralatan yang membawa, selain obeng dan multimeter, sebuah perangkat sadap pasif sebesar koin.
"Kau hanya masuk, pasang, keluar," kata Renjana untuk kesekian kali, malam sebelum operasi. "Tidak ada improvisasi. Tidak ada heroik. Kau tidak mencari Dani. Kau tidak mendekati lantai dua. Kau pasang mata dan telinga kita di ruang kontrol, lalu kau pergi. Sebelas menit. Aku sudah menghitungnya. Lebih dari itu, mereka mulai bertanya kenapa teknisi AC butuh waktu lama."
Kelana mengangguk, tapi tangannya gemetar sedikit. Anak itu pemberani di balik layar, di dunia angka dan kode tempat tubuhnya aman. Mengirimnya secara fisik ke sarang adalah hal yang Renjana benci — tapi tak ada pilihan lain. Mereka butuh mata di dalam.
"Kalau ada yang salah—" Kelana memulai.
"Kalau ada yang salah, kau bilang sistemnya rusak, kau perlu suku cadang, kau pergi. Kau jangan lari. Lari adalah pengakuan. Kau berjalan keluar seperti orang yang bosan dengan pekerjaannya." Renjana menatapnya. "Dan kau tidak akan sendirian. Aku akan mendengarmu sepanjang waktu. Arsa akan menunggu di jalan dengan mobil. Kita tidak meninggalkanmu."
Sementara itu, di menara kaca di pusat kota, badai lain sedang berkumpul.
Reksa Wijanarko, yang kehilangan Hendra Lawu dan jalur pelabuhannya dalam satu minggu, sedang murka dengan cara yang dingin dan terukur — cara yang jauh lebih berbahaya daripada amarah yang meledak. Ia memanggil Damar ke ruangannya di lantai 40, menutup pintu, dan berbicara dengan suara yang nyaris berbisik.
"Aku kehilangan satu mitra dan satu pelabuhan dalam tujuh hari," katanya. "Hartono goyah. Manifes bocor ke negara. Dan sekarang ada perusahaan baru yang entah dari mana mengambil alih dermaga 7 — kebetulan, tepat setelah Hendra jatuh." Ia menatap Damar. "Ada tikus di rumahku, Damar. Tikus yang pintar. Yang tahu di mana harus menggigit. Aku ingin kau cari, dan aku ingin kau bunuh."
Damar mengangguk. "Saya sudah memasang pengawasan, Pak. Beberapa nama. Akan saya saring."
"Saring cepat." Reksa berdiri, berjalan ke jendela, menatap kota yang ia kira ia miliki. "Karena siapa pun ini, dia tidak menyerang sembarangan. Dia menyerang sistem. Dia mempelajari aku." Sesuatu yang asing melintas di wajahnya — sesuatu yang nyaris seperti rasa tak nyaman. "Dan orang yang mempelajari aku sedetail ini... biasanya punya alasan pribadi."
Di seberang kota, di apartemen sempit penuh kabel, Renjana menutup sambungan dengan Kelana dan menatap diagram pasokan vila di dinding. Ia tidak mendengar kata-kata Reksa. Tapi ia merasakan getarannya, seperti binatang yang merasakan badai sebelum awan terlihat. Sang pemburu telah memerintahkan perburuan. Dan untuk pertama kalinya, Reksa benar tentang satu hal:
Ini memang pribadi.
Besok, Kelana akan masuk ke sarang. Sebelas menit. Renjana menatap jam, dan mencoba — gagal — mengabaikan firasat dingin yang menjalar di tengkuknya.