Sebelas menit. Itu rencananya.
Kelana masuk gerbang vila pukul 14:07, di kursi penumpang truk pasokan, mengenakan seragam biru perusahaan pendingin udara dan tanda pengenal palsu yang sempurna. Renjana mendengar segalanya lewat earpiece — derit gerbang, langkah sepatu di lantai keramik, suara penjaga yang memeriksa tas peralatan dengan malas. Detak jantungnya sendiri terasa lebih keras dari semua itu.
"Ruang kontrol di sebelah dapur," bisik Arsa, yang duduk di sebelah Renjana di mobil yang diparkir tiga kilometer dari vila, memberi panduan dari ingatan denah lama. "Kelana akan lewat lorong barat."
Lima menit pertama berjalan sempurna. Kelana menemukan unit pendingin, berpura-pura memeriksanya, dan dengan gerakan cepat yang dilatihnya berkali-kali, menempelkan perangkat sadap di balik panel listrik ruang kontrol — titik yang akan memberi mereka akses ke jaringan internal vila. Renjana mendengar suara Kelana, tenang dan datar, mengeluh tentang kompresor yang aus kepada seorang penjaga yang tak tertarik.
Lalu, pada menit ketujuh, detak itu salah.
Sebuah suara baru di earpiece. Berat. Berwibawa. Bukan penjaga biasa.
"Kamu dari perusahaan mana?"
Renjana menegang. Ia mengenali nada itu — bukan dari suaranya, tapi dari otoritasnya. Kepala penjaga. Orang yang tidak menganggap apa pun remeh.
"Cakra Dingin Sejahtera, Pak," jawab Kelana, suaranya tetap stabil, profesional. "Servis rutin unit pendingin medis. Ada di jadwal."
"Jadwal mana? Aku tidak diberitahu ada teknisi datang hari ini."
Jeda. Setengah detik yang terasa seperti setahun. Di mobil, tangan Renjana mengepal di lututnya. Ini titik di mana semuanya bisa runtuh. Ia telah memalsukan jadwal di sistem pasokan — tapi sistem internal vila mungkin tidak tersinkron. Ia salah perhitungan. Setengah detik kesalahan, dan adiknya ada di lantai atas gedung yang sama.
"Faktur dan surat tugas ada di sini, Pak," kata Kelana, dan Renjana mendengar gemerisik kertas. Anak itu tidak panik. *Bagus. Jangan lari. Jangan lari.* "Kalau bapak mau telepon kantor saya untuk konfirmasi, nomornya ada di sini."
Nomor itu akan tersambung ke Kelana sendiri — sebuah meja resepsionis palsu yang sudah disiapkan. Tapi kepala penjaga, alih-alih menelepon, melakukan hal yang lebih buruk. Ia mengambil radio.
"Pos satu, hubungi kantor pengadaan. Tanya apakah ada penjadwalan servis pendingin medis hari ini. Aku tunggu."
Renjana berhitung secepat kilat. Kantor pengadaan adalah celah yang tak ia tutup. Dalam dua menit, mereka akan menemukan bahwa jadwal di sistem vila tidak cocok dengan jadwal di sistem pusat. Kelana akan terbongkar. Dan begitu satu teknisi palsu tertangkap di vila yang menyembunyikan Dani, Reksa akan tahu seseorang datang untuk adiknya.
"Kelana," bisik Renjana ke mikrofon, suaranya datar dan cepat. "Tinggalkan. Sekarang. Pamit. Kompresor butuh suku cadang yang tidak kau bawa. Kau kembali besok. Berjalan, jangan lari. Tinggalkan tasmu kalau perlu — jangan tinggalkan dirimu."
Ia mendengar Kelana menarik napas. Lalu, suara anak itu, tenang dan jengkel sempurna, seorang teknisi yang frustrasi: "Aduh, Pak, ternyata kompresornya yang rusak, bukan cuma kalibrasi. Saya harus ambil unit pengganti dulu di gudang. Besok saya datang lagi ya. Saya tinggal dulu nih, soalnya nggak bisa diapa-apain sekarang."
"Tunggu konfirmasi dulu," kata kepala penjaga.
"Boleh, Pak, tapi sambil nunggu saya ambil dulu unitnya, biar besok nggak bolak-balik. Bapak telepon aja kantor kalau mau, nomornya udah saya kasih."
Kelana berjalan. Renjana mendengar langkahnya — terukur, tidak terburu-buru, langkah orang yang bosan dengan pekerjaannya. Melewati lorong. Melewati gerbang dalam. Setiap detik adalah taruhan. Di belakangnya, radio kepala penjaga berkeretak: *"Pos satu ke kepala. Kantor pengadaan bilang... tunggu, sedang dicek, sistemnya lambat."*
Sistem yang lambat. Lima belas detik tambahan. Itu yang menyelamatkan Kelana.
Anak itu keluar gerbang utama pukul 14:16 — sembilan menit, bukan sebelas — masuk ke truk pasokan yang untungnya belum berangkat, dan truk itu bergerak keluar tepat ketika, di belakangnya, kepala penjaga akhirnya mendengar dari radio bahwa tidak ada jadwal servis pendingin hari ini.
"Jalan," kata Renjana ke Arsa begitu Kelana mengonfirmasi ia keluar. "Jemput dia di titik kedua. Cepat tapi normal."
Mereka mendapatkan Kelana. Mereka mendapatkan perangkat sadap yang sudah terpasang. Mereka punya, untuk pertama kalinya, mata dan telinga di dalam vila.
Tapi mereka meninggalkan jejak.
Malam itu, di vila, Damar tiba dengan helikopter setelah kepala penjaga melaporkan insiden. Ia memeriksa rekaman kamera gerbang, memutarnya bingkai demi bingkai. Ia melihat truk pasokan, teknisi yang masuk dan keluar, dan ia memeriksa "Cakra Dingin Sejahtera" — sebuah perusahaan yang ada di atas kertas tapi tak punya kantor sungguhan, didaftarkan tiga minggu lalu, terhubung lewat lapisan cangkang ke sebuah entitas yang berakhir di kabut.
Damar tidak menemukan Renjana. Lapisan-lapisan itu terlalu rapi. Tapi ia menemukan sesuatu yang lebih mengerikan bagi Reksa: bukti bahwa ini bukan tikus. Ini operasi. Terorganisir. Profesional. Seseorang dengan sumber daya, kesabaran, dan satu tujuan yang sangat spesifik — karena dari semua aset Wijanarko, yang coba diintai si penyusup adalah vila yang menyembunyikan Dani.
Damar menelepon Reksa tengah malam. "Pak. Mereka tahu tentang vila utara."
Hening di ujung sana. Lalu, suara Reksa, dingin seperti es: "Perketat semuanya. Dan Damar — siapa pun ini, dia mencari anak itu. Cari tahu kenapa."
Di apartemennya, Renjana memutar rekaman pertama dari perangkat sadap baru mereka. Jaringan kontrol vila, terbuka di hadapannya. Sebuah kemenangan. Tapi ia tahu, dengan kepastian dingin yang sudah menjadi naluri, bahwa kemenangan ini telah membayar harganya: Reksa sekarang tahu seseorang datang untuk Dani. Pintu yang ia buka telah membunyikan alarm yang tak bisa ia matikan lagi.
Waktunya, yang tak pernah cukup, baru saja menjadi lebih sedikit.