Arsa membawanya ke tempat yang tak pernah Renjana sangka akan ia kunjungi lagi.
Mereka mengendarai mobil ke pinggiran kota, ke tepi sungai yang lebar dan keruh tempat air bertemu cahaya jingga senja. Renjana tidak mengenali jalannya sampai mereka turun dan berjalan ke tepi air — dan kemudian ia mengenali segalanya. Lengkungan jembatan tua di kejauhan. Rumpun bambu di tikungan. Tanggul beton yang retak.
Ini sungai itu. Sungai tempat tubuhnya yang berusia tujuh belas dibuang tujuh tahun lalu, dikira mati. Sungai yang menelannya dan, secara ajaib, memuntahkannya kembali ke tepi tempat Karyo tua menemukannya.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" Suara Renjana tegang.
Arsa menatap air, tidak menatapnya. Angin sore mengaduk rambutnya. Untuk waktu yang lama ia tidak bicara, dan ketika akhirnya ia bicara, suaranya pecah dengan sesuatu yang sudah ia simpan selama tujuh tahun.
"Karena aku ada di sini malam itu," katanya.
Renjana membeku.
"Aku tujuh belas tahun. Sama sepertimu." Arsa menelan ludah. "Om Reksa membawaku malam itu. Dia bilang aku harus 'belajar bagaimana keluarga melindungi diri'. Aku tidak tahu apa artinya sampai aku ada di rumah kalian, sampai aku mendengar... sampai aku melihat." Tangannya gemetar. "Aku melihat Damar dan orang-orangnya. Aku melihat ayahmu. Aku melihat... aku melihat mereka membawa seorang anak laki-laki kecil keluar, terikat, dan aku melihat mereka menyeret seseorang seusiaku ke truk. Itu kau. Aku tahu sekarang itu kau."
Renjana tidak bisa bergerak. Air sungai mengalir di belakangnya, suara yang sama yang ia dengar saat tenggelam.
"Aku diam," kata Arsa, dan akhirnya ia menoleh, matanya basah. "Itulah dosaku, Renjana. Bukan aku yang membunuh keluargamu. Tapi aku berdiri di sana, tujuh belas tahun, ketakutan, dan aku diam. Aku tidak berteriak. Aku tidak lari mencari polisi. Aku tidak melakukan apa pun. Aku membiarkan rasa takutku pada Om Reksa lebih besar dari nuraniku. Dan keesokan harinya mereka mengirimku ke luar negeri supaya aku tidak pernah bicara. Tujuh tahun aku hidup dengan suara di sungai ini di kepalaku — air yang menelanmu — dan aku tidak tahu kau hidup sampai aku melihat fotomu, sampai aku mengenali matamu di gala itu."
Hening. Hanya air dan angin.
Renjana menatap pria di depannya, dan untuk pertama kalinya ia tidak melihat keponakan Reksa, tidak melihat orang dalam yang mungkin pengkhianat, tidak melihat sumber daya yang harus diverifikasi. Ia melihat seorang anak laki-laki yang ketakutan, yang telah membawa beban malam itu sama lamanya dengan dirinya — beban yang berbeda, beban rasa bersalah karena diam, tapi sama-sama menghancurkan.
"Kenapa kau memberitahuku ini sekarang?" tanyanya pelan.
"Karena kau terus menyimpan jarak denganku, dan kau benar untuk itu. Aku keponakan Reksa. Aku orang yang seharusnya tidak kau percaya." Arsa menatapnya lurus. "Tapi aku tidak bisa membantumu menyelamatkan Dani kalau kau setengah-setengah mempercayaiku. Dan aku tidak bisa minta kau mempercayaiku tanpa memberimu kebenaran terburuk tentang diriku dulu. Jadi ini dia. Aku ada di sana. Aku diam. Dan aku akan menghabiskan sisa hidupku mencoba menebusnya — bukan karena aku ingin kau memaafkanku, tapi karena aku tidak bisa hidup lagi dengan diam."
Renjana memejamkan mata. Selama tujuh tahun ia membagi dunia menjadi dua: yang berutang padanya, dan yang tidak. Hitam dan putih. Pembunuh dan korban. Tapi Arsa tidak masuk ke salah satunya. Arsa adalah sesuatu yang lebih sulit — seorang saksi yang gagal, yang dosanya bukan tindakan tapi ketiadaan tindakan, dan yang penyesalannya begitu nyata sehingga membuat Renjana sendiri merasa, untuk pertama kalinya, tidak sendirian dalam membawa malam itu.
Ia membuka mata. Angin senja menerpa wajahnya. Air sungai yang dulu hampir menjadi kuburannya kini hanya air — keruh, biasa, mengalir.
"Aku tidak bisa memaafkanmu," kata Renjana akhirnya, dan kejujurannya menyakitkan keduanya. "Belum. Mungkin tidak akan pernah penuh. Tapi—" Ia menarik napas. "Tapi aku percaya kau menyesal. Dan aku percaya kau tidak akan diam lagi. Itu cukup, untuk sekarang."
Ia mengulurkan tangan — bukan untuk berjabat, tapi sesuatu yang lebih sederhana dan lebih berat. Ia memberi Arsa satu informasi yang selama ini ia simpan: lokasi pasti perangkat sadap di vila, jadwal patroli yang sudah mereka petakan, rencana berikutnya. Kepercayaan nyata pertama. Bukan setengah. Penuh, dengan risiko yang penuh.
Arsa menerimanya, dan dalam matanya ada sesuatu yang mendekati harapan.
Mereka berdiri di tepi sungai sampai matahari turun, dua orang yang dipertemukan oleh malam terburuk dalam hidup mereka, kini berdiri di sisi yang sama. Dan ketika Renjana akhirnya berbalik untuk pergi, ada bagian kecil dalam dirinya — bagian yang ia kira sudah mati tenggelam di sungai ini tujuh tahun lalu — yang terasa, untuk sesaat, hangat.
Tapi bahkan saat kehangatan itu menyentuhnya, sebuah suara dingin di sudut pikirannya tetap berbisik, sabar dan tak mau diam: *Dia menceritakan kebenaran tentang malam itu. Tapi apakah dia menceritakan semua kebenaran? Atau dia menyimpan satu lagi — yang lebih buruk?*
Renjana tidak tahu. Dan ia telah belajar bahwa yang tidak ia tahu adalah hal yang membunuhnya.