Tiga hari setelah kegagalan di terowongan, Renjana berhenti berduka. Atau lebih tepatnya, ia mengunci dukanya dalam ruang yang sama tempat ia menyimpan setiap kehilangan selama tujuh tahun, dan kembali pada satu-satunya hal yang ia tahu cara melakukannya: berpikir.
Mereka berkumpul di rumah aman yang baru — yang lama ditinggalkan, terlalu berisiko setelah malam itu. Kelana, lengannya dibebat, duduk di sudut dengan laptop, lebih pendiam dari biasanya. Arsa berdiri di jendela, mengawasi jalan. Hartono, yang masih bersembunyi di unit terpisah, tidak dilibatkan dalam pertemuan ini.
"Aku salah," kata Renjana, dan kalimat itu mengejutkan keduanya, karena ia jarang sekali mengucapkannya. "Aku mencoba menyelamatkan Dani secara langsung, sementara seluruh struktur yang menahannya masih utuh. Itu seperti mencoba mengambil permata dari brankas dengan memukul brankasnya. Selama Reksa punya uang, punya penjaga, punya jaringan, punya tempat-tempat tersembunyi — dia bisa memindahkan Dani ribuan kali dan aku akan selalu terlambat satu langkah."
"Jadi?" tanya Arsa.
"Jadi aku berhenti mengejar adikku, dan mulai menghancurkan brankasnya." Renjana menggelar selembar kertas besar di meja — bukan peta vila kali ini, melainkan bagan organisasi. Sebuah piramida nama dan kotak dan garis. "Selama ini aku menjatuhkan target dari luar ke dalam. Hendra, mitra pelabuhan. Hartono, notaris. Mereka periferi. Penting, tapi periferi. Mereka membuat Reksa kehilangan sedikit darah, tapi tidak melemahkannya. Sekarang aku harus masuk lebih dalam. Ke jantungnya."
Ia menunjuk satu kotak di bagan, tinggi, dekat puncak. Sebuah nama.
"Sigit Prawira."
Arsa menegang. "Akuntan hitam."
"CFO bayangan Reksa." Renjana menatap nama itu seolah menatap musuh yang lebih berbahaya dari Reksa sendiri. "Hendra memindahkan barang. Hartono memalsukan dokumen. Tapi Sigit Prawira adalah orang yang mengubah uang kotor menjadi uang bersih. Dialah arsitek seluruh labirin pencucian — perusahaan cangkang lintas negara, lapisan rekening, aliran dana yang berputar dari tambang ke properti ke yayasan dan kembali, sampai tak seorang pun bisa membuktikan dari mana asalnya. Tanpa Sigit, kerajaan Reksa hanyalah tumpukan uang kotor yang tak bisa disentuh. Dengan Sigit, uang itu menjadi aset sah, kekuatan, perlindungan."
"Kalau kita jatuhkan Sigit," Kelana berbicara dari sudut untuk pertama kalinya, "kita putus aliran darahnya."
"Lebih dari itu," kata Renjana. "Kita ambil petanya. Sigit tahu di mana setiap rupiah Reksa berada. Kalau aku bisa membuat Sigit menyerahkan peta itu — atau membuatnya jatuh dengan cara yang memberi kita aksesnya — aku tidak hanya melemahkan Reksa. Aku mendapatkan senjata untuk menjatuhkannya, dan untuk mengeringkan dana yang melindungi vila-vila tempat Dani disembunyikan." Ia menatap mereka. "Setiap penjaga yang menjaga adikku dibayar dengan uang. Putus uangnya, dan benteng-benteng itu runtuh sendiri. Itulah caraku mengeluarkan Dani. Bukan dengan menyerbu satu benteng. Dengan meruntuhkan ekonomi yang membangun semua benteng itu."
Hening. Lalu Arsa berkata pelan, "Sigit bukan Hendra. Hendra serakah dan ceroboh. Sigit... aku pernah melihatnya di rapat. Dia tidak bicara kecuali perlu. Tidak punya kelemahan yang terlihat. Tidak ada perempuan, tidak ada perjudian, tidak ada gaya hidup mencolok. Dia tinggal sendirian, makan sendirian, bekerja enam belas jam sehari. Dia mesin, Renjana. Bukan manusia."
"Aku tahu." Renjana hampir tersenyum, dan itu senyum yang dingin. "Itu yang membuatnya menarik. Hartono jatuh karena takut. Hendra jatuh karena serakah. Damar bisa kita sentuh lewat putrinya. Tapi Sigit tak punya pintu rasa takut, tak punya pintu serakah, tak punya pintu cinta." Ia mengetukkan jari pada nama itu. "Yang berarti ada tepat satu pintu yang tersisa. Dan kita akan menemukannya."
"Pintu apa?" tanya Kelana.
Renjana menatap bagan, dan dalam pikirannya mulai terbentuk catur yang harus ia mainkan — papan yang lebih rumit dari apa pun yang pernah ia susun. "Setiap orang yang mengabdikan seluruh hidupnya pada satu keahlian," katanya, "membangun satu hal yang tak bisa ia korbankan. Bukan keluarga. Bukan uang. Tapi keyakinan bahwa ia yang terbaik. Bahwa tak seorang pun bisa mengalahkannya di bidangnya. Sigit Prawira percaya tak ada akuntan di dunia ini yang bisa membaca labirin yang ia bangun. Itu bukan kelemahan. Itu kesombongan." Ia mengangkat wajahnya. "Dan kesombongan adalah pintu paling mematikan dari semuanya. Karena orang yang sombong tidak pernah memeriksa apakah ada tangan tak terlihat yang sedang menata ulang papannya."
Babak baru dari perangnya dimulai. Bukan lagi serbuan terhadap benteng. Tapi perang catur yang sunyi, di atas papan angka, melawan lawan yang paling dingin yang pernah ia hadapi. Dan taruhannya bukan lagi sekadar dendam — tapi setiap benteng yang menahan adiknya, yang akan runtuh hanya jika uang yang membangunnya mengering lebih dulu.
"Kelana, sembuh dulu," kata Renjana. "Tapi mulai besok, aku ingin segala yang bisa kau temukan tentang Sigit Prawira. Setiap transaksi yang pernah ia tandatangani. Setiap perusahaan yang ia daftarkan. Setiap pola." Ia menggulung bagan itu. "Kita tidak akan menyerang dia. Kita akan membuatnya mengalahkan dirinya sendiri."